Minggu, 15 September 2019
Home/ Berita/ Membumikan AIK Bagi PTMA

Membumikan AIK Bagi PTMA

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA – Hakekatnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA)  dalam asepk pengajaran Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) berperan membentuk pribadi mahasiswa berkemajuan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan AIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Hilman Latif dalam diskusi mengenai peran AIK bagi PTM yang diselenggarakan oleh Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah pada Sabtu (24/8) di aula Kantor PP Muhammadiyah Cik Ditiro Yogyakarta.

Hilman mencontohkan, di UMY, dilakukan proses internalisasi (pemahaman dan pembelajaran AIK, implementasi (pelatihan dan pendampingan pengamalan AIK), serta integrasi (penelitian dan pengembangan AIK).

Menurut Hilman banyak orang yang mengenal Muhammadiyah karena bekerja atau pernah sekolah di lembaga Muhammadiyah. Sehingga pengenalan Muhammadiyah kepada mereka harus dengan cara yang tidak konvensional.

“Demikian halnya dengan pengajaran AIK terhadap mahasiswa yang berbeda latar belakang. Pengajarannya harus dengan metode yang lebih inovatif dan variatif. “Kata pepatah, al-tariqah ahammu min al-maddah,” tutur Hilman.

Hilman berharap Muhammadiyah mampu melahirkan kader dengan kualitas mumpuni di dunianya masing-masing. Dimulai dengan pengembangan keilmuan dan pengajaran yang kontekstual. Dalam rangka itu, Lazismu PP Muhammadiyah turut mendukung program pembibitan dan pengembangan kader. Semisal program pemberian beasiswa dan program persiapan mendaftar beasiswa di luar negeri. 

Sementara Ketua Majelis Diktilitbang Lincolin Arsyad menilai, pembahasan tentang AIK selama ini, kata Lincolin, adalah tentang upaya pembumiannya, bukan sekadar aspek kognitif, tapi pada aspek afektif dan psikomotoriknya. Pengajarannya harus dengan etic mainstreaming.

“Pengajaran secara keseluruhan ini dinamakan dengan meta learning approach. Penanaman nilai tidak hanya oleh dosen AIK,  tapi semua dosen harus ikut terlibat,” jelas Lincolin.

Salah satu komponen penting dalam penanaman nilai adalah melalui asrama. “Asrama PTMA harus menjadi par excelent, tidak hanya jadi tempat tidur.” Lincolin mencontohkan pembinaan asrama di NUS dan NTU dengan desain kurikulum yang tertata bagus. Asrama mereka difokuskan pada pembinaan pribadi berkemajuan dengan tagline: ini tempat calon pemimpin dunia.

Lincolin mengingatkan pada dosen untuk selalu mengupdate ilmu. Dosen Muhammadiyah itu harus suka dialog, diskusi, dan membaca. Kriteria lainnya, terutama pada pimpinan perguruan tinggi adalah harus pintar, sehat, lembut hati, serta berakhlak karimah. Dengan keteladanan dan metode yang kreatif, para mahasiswa akan tertarik, terutama di tengah tantangan adanya anggapan bahwa milenial malas membaca.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Prof Hamka Jakarta, Anisia Kumala Masyhadi memaparkan hasil penelitiannya bersama Yulmaida Amir tentang peran nilai-nilai Islam Progresif dalam membentuk pribadi berkemajuan. Nilai Islam progresif yang dijadikan acuan merupakan hasil disertasi Yulmaida Amir di Universitas Indonesia. Dalam kajian itu dinyatakan bahwa orang yang mengembangkan dirinya terus-menerus umumnya menjalani kehidupan mental yang sehat, mampu membuat perubahan dalam hidup, menghadapi persoalan dengan rasional, aktif, terbuka, dan mampu beradaptasi dengan pengalaman baru.

Konsep inisiatif pertumbuhan diri ini, menurut Anisia, relevan dengan nilai-nilai Muhammadiyah sebagai gerakan berkemajuan. Empat nilai utama yang memiliki relasi erat dengan konsep inisiatif pertumbuhan diri, berupa nilai Islam progresif ini adalah: berpikir logis, aktif memperbaiki diri, bekerja keras, dan menyakini kemampuan diri. Penelitian Anisia memotret nilai Islam progresif tersebut pada diri mahasiswa PTM serta pengaruhnya bagi kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *