Minggu, 15 September 2019
Home/ Berita/ Tebarkan Nilai Pluralitas dan Inklusivisme, Muhammadiyah Jalin Kerjasama dengan Perkumpulan Sepakbola Uni Papua

Tebarkan Nilai Pluralitas dan Inklusivisme, Muhammadiyah Jalin Kerjasama dengan Perkumpulan Sepakbola Uni Papua

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Menandatangai Nota Kesepahaman (MoU) dengan Perkumpulan Sepakbola Uni Papua, Jumat (16/8), Pimpinan Pusat Muhammadiyah sepakat menjadikan sepakbola sebagai salah satu alat dalam membangun bangsa.

"Sepakbola merupakan wahana yang paling cair, tapi yang disesalkan belakangan ada muatan negatif rasialisme, di tanah air kita juga sepakbola sering jadi menyeramkan karena ada vandalisme. Di Yogya, bahkan warga menyingkir karena takut jika ada suporter tertentu. Muhammadiyah berusaha membebaskan sepakbola dari unsur itu dan ini menjadi komitmen kita," ungkap Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir.

Bertempat di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Jakarta, penandatanganan MoU dilakukan sebagai komitmen bersama menebarkan nilai-nilai pluralitas, inklusivisme, kerjasama, dan perdamaian. Presiden Football for Peace Interfaith Indonesia KH. Zahrul Azhar Asumta menganggap MoU ini adalah langkah tepat dalam menyebarkan gagasan perdamaian dan pluralitas secara mudah.

“Uni Papua punya 24 cabang di Indonesia dan beberapa negara lain. Adanya MoU ini adalah optimisme baru bagi kami, memberikan semangat agar kita semakin turun kelapangan. Kami juga mengundang Muhammadiyah ikut serta dalam acara kompetisi sepakbola kami yang melibatkan tokoh lintas agama dan lintas mazhab yang kami harapkan masyarakat akar rumput bisa mengambil contoh dari perbedaan itu tapi tetap bisa bersatu,” tutur Zahrul.

Haedar Nashir menambahkan, bahwa gerak Muhammadiyah melalui sepakbola bukan hal baru. Gerakan kepanduan Hizbul Wathan (HW) telah menyebarkan nilai-nilai Muhammadiyah melalui sepakbola sejak 1918. Bahkan PS HW merupakan pilar dalam pendirikan PSSI.

Latar belakang keterlibatan Muhammadiyah dalam sepakbola yang sudah sangat lama menjadi alasan untuk menggarap MoU tersebut. Selain untuk menghidupkan kembali gerak Muhammadiyah yang sudah lama hilang di sepakbola, Haedar berharap program MoU ini punya nilai sosial yang dapat memajukan kehidupan kebangsaan.

“Karena Muhammadiyah adalah gerakan Islamiyah, maka tentu bagaimana nilai-nilai Islam itu lewat dakwah di sepakbola semakin mencerahkan dan memajukan masyarakat. Ini yang tidak boleh lupa dalam setiap gerak Muhammadiyah,” tegas Haedar.

CEO Perkumpulan Sepakbola Uni Papua Hadi menganggap MoU ini sebagai langkah strategis bagi pembentukan karakter melalui sepakbola. Oleh karena itu, pihaknya menyatakan akan menggarap secara serius kesempatan coaching clinic di sejumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk dijadikan sebagai pematangan kurikulum berjenjang pendidikan karakter melalui sepakbola.

Dalam sesi MoU, PP Muhammadiyah dan Perkumpulan Sepakbola Uni Papua juga sempat bertukar jersey dengan nomor simbolik 17 dan 5, 17 Agustus dan 5 Sila Pancasila.

“Kita berharap simbol ini bukan sekedar ritual sosial dan jargon yang indah tentang Pancasila, tapi bagaimana menggunakan energi kita untuk mempraktekkannya dalam realitas sosial. Muhammadiyah di Papua sejak 1926 melalui berbagai pelayanan sosial. Ini menunjukkan dakwah Muhammadiyah rahmatan lil alamin. Dakwah untuk semesta. Muhammadiyah fokus bekerja dan tidak bersuara kencang. Jadikan sepakbola Indonesia selain maju juga sebagai pemersatu. Bersama, bagaimana kita menata kembali sesuai keinginan para pendiri bangsa bahwa Indonesia milik semua golongan bukan segolongan saja,” pungkasnya. (afandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *