Senin, 16 Desember 2019
Home/ Berita/ Muhammadiyah dan Bangsa

Muhammadiyah dan Bangsa

 
Muhammadiyah dan Bangsa
Oleh: Dadang Kahmad, Ketua PP Muhammadiyah
 
Islam mengajarkan kepada manusia untuk menebarkan kebajikan sebagai kristalisasi dari refleksi seorang hamba terhadap nilai kemanusiaan. Nilai kebajikan itu menjadi salah satu landasan bahwa Islam hadir di bumi untuk menjadi “rahmat” bagi alam semesta.
 
Karena itu, di dalam perspektif sosial, umat Islam merupakan “agent of change” yang harus terus-menerus menebarkan kebajikan di tengah-tengah kehidupan sosial untuk menciptakan kemajuan peradaban. Berangkat dari hal di atas, internalisasi nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi bagian inti dari idealisme gerakan organisasi Islam sehingga kemajuan mencerminkan kebajikan, tidak mewujud dalam bentuk keburukan.
 
Kebajikan yang diberikan kepada sesama manusia inilah yang disebut dengan kebajikan sosial, di mana faktor utama tewujudnya masyarakat berkemajuan ialah terkandungnya rasa kepedulian sosial. Ketika di dalam laku keseharian terwujud kebajikan sosial, maka kebahagiaan bukan saja saat mendapatkan yang kita idamkan sebagai wujud kebajikan individual tetapi terletak pada kebahagiaan sosial yang secara kolektif diidamkan para pendiri Indonesia.
 
Perspektif Muhammadiyah
 
Dalam perspektif Muhammadiyah, Indonesia ialah rumah yang di dalamnya persyarikatan Muhammadiyah menempati salah satu ruangan, sehingga tidak ada alasan bagi warganya absen dalam mewujudkan kemajuan bagi bangsa dan negara.
 
Persyarikatan Muhammadiyah bergerak pada ranah solusi masalah keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan, tidak terjebak pada politik rendahan yang praktis karena hal itu sangat tidak produktif bagi gerakan kemanusiaan yang diusung persyarikatan.
 
Dalam bahasa lain, Muhammadiyah merekonstruksi kehidupan kebangsaan, mengokohkan kecintaan pada NKRI, dan menempatkan Indonesia sebagai ladang berlomba-lomba dalam kebaikan. Sebab, bagi Muhammadiyah, NKRI dan Pancasila dipahami sebagai darul ahdi wa syahadah.
 
Islam yang dianut dan dijalankan Muhammadiyah bertumpu pada gagasan moderatisme atau metodologi jalan tengah. Dengan demikian, menempatkan Indonesia sebagai medan gerakan pembumian nilai-nilai kemanusiaan, medan berkasih sayang dan menebarkan kebahagiaan sosial.
 
Dengan hal ini, kemajuan bangsa Indonesia pada ranah ekonomi, sosial, pendidikan, hukum, politik, dan kebudayaan mampu menopang kemajuan negara Indonesia. Bagi Muhammadiyah, cita-cita seperti ini, hanya bisa diwujudkan dengan gerakan yang mengacu pada landasan praksis Islam berkemajuan.
 
Gerakan praksis Islam berkemajuan bertujuan membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan setiap elemen bangsa. Terma “berkemajuan”, menyiratkan adanya kontinuitas gerakan, kreativitas, progresivitas, kesungguhan, keikhlasan, dan kesejahteraan rakyat sebagai wujud kecintaan kepada Indonesia.
 
Hal ini juga ejawantah  dari firman Allah SWT, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d [13]: 11).
 
Gerak kemanusiaan
 
Malik ibn Nabi, seorang filsuf sosial dari Aljazair, dalam buku bertajuk Membangun Dunia Baru Islam (Mizan, 1994:73) mengatakan, persoalan kemajuan dan kemunduran peradaban setidaknya ditentukan oleh tiga problem utama, yakni problem manusia, problem tanah, dan problem waktu. Dalam konteks Indonesia, hal ini juga berlaku saat mempraktikkan gerak kemanusiaan untuk kemajuan bangsa dan negara.
 
Siapa yang mampu mengelola manusia, tanah, dan waktu secara efektif, efisien, tepat, dan sesuai prinsip-prinsip berkesinambungan, maka kemajuan peradaban berdampak positif terhadap kesejahteraan penduduknya.  Karena itulah, tugas Muhammadiyah di Indonesia adalah memperjuangkan agar tanah dan waktu berjalan berkesinambungan sehingga peradaban yang kita bangun menjadi berkelanjutan, berkemajuan, dan berkesinambungan kebaikannya bagi rakyat.
 
Dengan cara apakah mengelola tanah dan waktu agar tetap berjalan secara berkesinambungan?
 
Ya, dengan cara menciptakan sumber daya manusia (SDM) melalui gerakan praksis kemanusiaan, sehingga SDM tersebut dapat mengelola negara Indonesia untuk menciptakan peradaban yang berkemajuan. Dalam konteks kemajuan bangsa Indonesia, Muhammadiyah menggunakan gerakan organisasi berbasis amal yang “berkemajuan” dan memegang teguh ajaran Islam kosmopolitan, sehingga kemandiriannya bukan berarti anti-nation state, tetapi sebagai wujud dari gerakan sosial yang independen.
 
Karena itu, secara politik, Muhammadiyah mendapatkan predikat sebagai “citizens” yang terbuka terhadap keragaman dan selalu menjalin dialog-kerja sama dengan pemerintah demi kemajuan bangsa. Sebagai bagian dari nation state, keluarga besar Muhammadiyah diharapkan mampu menunjukkan semangat kebangsaannya dalam ber-Muhammadiyah.
 
Muhammadiyah akan tetap berada di garis depan dalam memajukan bangsa dari berbagai latar belakang, menjadi perekat bangsa dari ketercerai-beraian, menggodok keputusan-keputusan yang visioner, baik dan bermanfaat, serta mengukuhkan diri dalam konteks kebangsaan di masa yang akan datang.
 
Tulisan ini sebelumnya telah diterbitkan di harian Republika pada Rabu (14/8)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *