Selasa, 20 Agustus 2019
Home/ Berita/ Muhammadiyah Miliki Tanggungjawab dalam Mensosialisasikan Persatuan Kalender Internasional

Muhammadiyah Miliki Tanggungjawab dalam Mensosialisasikan Persatuan Kalender Internasional

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — Berbekal sumber daya intelektual, Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih mempunyai tugas untuk mengemban amanah dalam mensosialisasikan penyatuan kalender internasional dan melakukan pembaharuan pemikiran Islam melalui epistimologi yang dimilikinya.

Sosialisasi kedua topik bahasan tersebut memerlukan perjuangan yang tidak mudah, seperti yang disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam Serial Kajian Konsolidasi Hisab Muhammadiyah yang diselengarakan oleh Majelis Tarjih pada Sabtu (13/7) di Kantor PP Muhammadiyah, JL. Cik Ditiro, No 23, Yogyakarta.

“Ini menjadi dambaan yang harus diperjuangkan dan tentu tidak boleh menyerah. Ketika dulu satu abad yang lalu Kiyai Dahlan betapa susah untuk menyakinkan masyarakat terkait arah kiblat yang benar berdasar dengan ilmu falak yang dikuasai atau juga berdasar dengan syariat, tapi lama kelamaan orang terbiasa dengan itu,” ungkap Haedar.

Muhammadiyah memiliki tanggung jawab dalam mensosialisasikan persatuan kalender internasional, penyatuan tersebut ditujukan untuk mengurangi atau mencari jalan tengah perihal banyaknya perbedaan putusan tentang hitungan kalender global di internal umat Islam. Terlebih, ketika menentukan hari-hari besar umat Islam. Meski menjadi salah satu urgensi bagi umat Islam, namun tidak perlu dilakukan dengan terburu-buru. Perlu melalui proses dialog dan pemahaman yang mendalam, sehingga semakin memperkaya referensi serta membanyak kader yang meguasai.

“Kedepan, ini akan terus memiliki perbedaan. Maka  juga diperlukan bantuan teknologi sebagai penunjang kerja ke-Tarjihan. Seperti paeralatan yang dimiliki oleh Perguruan Tinggi Muhammadiyah,” tambahnya.

Melihat kecenderungan generasi milenial, Haedar juga berharap semakin diperbanyak laboratorium atau tempat penelitian tentang ilmu eksak. Sehingga sosialisasi bukan hanya diperankan oleh Majelis Tarjih, tapi juga menggandeng Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai kantung-kantung keilmuan di Muhammadiyah. Sosialisasi yang dilakukan diharapkan bisa memicu gelombang besar dan menjadi state of mind berkemajuan yang kemudian diadopsi generasi milenial.

“Gelombang ini harus diperbesar, karena ini sebagai state of mind dan perlu direproduksi sebagai sebagai gerakan untuk generasi milenial. Karena mereka nanti akan menjadi penentu atas kebijakan dan penganti pemimpin sekarang ini, sehingga kebijakan yang dibuat bisa kompatibel disituasi era modern,” urai Haedar.

Kalender Global yang disosialisaikan oleh Majelis Tarjih merupakan hasil dari kontruksi paradigma berfikir yang dimiliki oleh Muhammadiyah. Maka, selain mensosialisasikan produk pemikiran, Muhammadiyah juga perlu untuk mensosialisasikan pendekatan keilmuan yang dimilikinya. Pendekatan tersebut meliputi tiga metode, yakni bayani, burhani dan irfani.

Haedar beralasan, membanguun alam pemikiran Islam merupakan bagian dari membangun peradaban Islam. Karena ilmu pengetahuan merupakan basic dalam membangun peradaban Islam. Pendekatan atau epistimologi yang dipakai oleh Muhammadiyah perlu dijadikan sebagai suatu gerakan yang tersetruktur, sistematis dan masif. Muhammadiyah sendiri dalam khazanah pemikiran Islam memiliki modal besar dalam sumber daya intelektual, karena organisasi Islam lain masih jarang yang memakai bayani, burhani dan irfani sebagai alat pendekatan. Pendekatan komprehensif yang dimiliki Muhammadiyah sebagai solusi atas kterpurukan dunia Islam.

“Dunia Islam sedang mengalami proses yang memprihatinkan, karena terjebak dalam gejolak sosial politik pasca Arab Spring sehinga berpengaruh kepada usaha membangun peradaban Islam. Jika tidak memiliki dasar pemikiran yang komprehensif, akhirnya dunia pemikiran Islam akan mengalami disrupsi yang luar biasa bukan hanya dalam sosial, politik ekonomi, tetapi justru dalam pemikiran,” jelas Haedar.

Muhammadiyah memiliki peluang dan harus pecaya diri dengan sumber daya intelektual yang cukup dan memiliki modal dalam rentang sejarah yang menyertainya.

“Jangan sampai Islam mengalami kekeringan. Serta menjadikan Muhammadiyah berubah menjadi neo-konservatifisme Islam, menjadi neo radikalisme Islam. Maka diperlukan pemahaman mendalam terkait tiga metode tersebut, karena pendekatan tersebut bukan hanya memunculkan kesalehan personal, tapi juga kesalehan sosial,” pungkas Haedar. (a’n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *