Jum'at, 19 Juli 2019
Home/ Berita/ Masyarakat Indonesia Harus Cerdas Menangkal Hoax

Masyarakat Indonesia Harus Cerdas Menangkal Hoax

MUHAMMADIYA.ID, SLEMAN—Indonesia pada rilis yang dibuat oleh Central Connecticut State University (CCSU) untuk peringkat literasi negara pada tahun 2016 berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei, artinya hanya ada 1 diantara 10.000 orang Indonesia yang membaca. Akan tetapi untuk pengguna internet, Indonesia yang berpenduduk kurang lebih 268.2 juta, sebanyak 56% nya sebagai pengguna internet aktif.

Ketimpangan tersebut membuat masyarakat Indonesia menjadi lahan basah dalam persebaran berita palsu atau hoak dan mempercayai berita tersebut.

Inggried Dwi Wedhaswary, Trainer Google News Institue dalam acara Halfday Basics Workshop 'Hoax Busting and  Digital Hygiene' pada Jumat (5/7), yang diselenggarakan Program Studi Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (Unisa) mengatakan, masyarakat Indonesia mulai dari bangun tidurnya sudah biasa menerima hoax. Persebarannya kebanyakan melaui grup-grup media sosial yang mereka miliki.

“Tingkat persebaran hoak di masyarakat Indonesia hampir sama dengan yang ada di Filipina, karena kedua negara ini memiliki keadaan masyarakat yang relatif sama.” Ucap Inggried

Penyebab yang menonjol dari fenomena tersebut adalah minimnya literasi masyarakat Indonesia. Menempati peringkat 60 dari 61 negara survei, Indonesia hanya lebih baik satu tingkat dari Bostwana, negara berkembang yang berada dikawasan Afrika. Selain itu, juag disebabkan masyarakat Indonesia lebih dekat dengan gawai dari pada buku, tercatat dari 268.2 juta penduduknya, sebanyak 355.5 juta gawai yang beredar dan dipakai di Indonesia. Jumlah tersebut jika diprosentasekan mencapai 133% dari total penduduk Indonesia.

“Tidak heran, baru bangun tidur masyarakat kita (Indonesia) yang dilakukan adalah mengecek handphone-nya.” Katanya

Terlebih saat ini, di era disrupsi yang mana media-media penyedia berita beralih dari yang konvensional kepada digital. Maka bisa dipastikan masyarakat Indonesia akan ‘kwalahan’ dalam membendung tsunami informasi.

Menyambung Inggried, Agung Purwandono, Anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) megunggkapkan bahwa, tidak sepenuhnya masayrakat sebagai pihak yang selalu di kambing hitamkan. Akan tetapi produsen berita juga menjadi faktor yang ikut bertanggung jawab terkait terjadinya fenomena ini.

“Kita juga harus jeli dalam memilih sumber berita, karena sekarang ini pihak-pihak yang tidak memiliki kompetensi juga bisa memproduksi sebuah berita.” Terangnya

Meski demikian, masyarakat sebenarnya masih bisa membantu dalam mencegah tersebarnya berita bohong atau berita palsu. Selain sumber yang tidak kredibel, tanda untuk mengenali berita tersebut palsu misalnya antara judul dan isi tidak sesuai, judul terkesan ‘boombastis’, memakai kalimat ajakan yang cenderung memaksa. Juga terdapat tools untuk mendeteksi sumber berita tersebut kredibel atau tidak, salah satunya dengan memakai domainbigdata.com dan memasukkan link berita tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *