Jum'at, 19 Juli 2019
Home/ Berita/ Teologi Al Maun dan Semangat Pelayanan Sosial Muhammadiyah

Teologi Al Maun dan Semangat Pelayanan Sosial Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, SEMARANG - Tokoh Muhammadiyah yang berasar dari Jawa Timur, yakni Dokter Soetomo pernah menyampaikan bahwa  teologi Al ma’un adalah teologi welas asih. Dr Soetomo yang termasuk pendiri organisasi Budi Utomo ini merupakan  tokoh kebangkitan nasional.

Dokter Soetomo yang juga merupakan dokter Muhammadiyah ini ikut mendirikan Rumah Sakit dan  Poliklinik Muhammadiyah di Surabaya pada tahun 1926.

Dikatakan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, Dokter Soetomo mengenalkan konsep teologi welas asih, cinta kasih sesama manusia. Saat ini, konsep welas asih itu disebut sebagai filantropi (filo : kasih sayang/cinta, dan tropi/tropos : manusia).

“Jadi semangat teologi welas asih itu bagian dari Islam, karena sifat Allah SWT itu ar rahman dan ar rahim. Tidak terbukti cinta seseorang sampai ia terbukti mencitai orang lain seperti mencintai dirinya sendiri. Lebih-lebih mencintai mereka, orang-orang yang nasibnya kurang beruntung,” tutur Haedar pada Kamis (4/7) saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pelayanan Sosial (MPS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Haedar juga menuturkan bahwa teologi filantropi Islam itu sangat lah luar biasa.

“Kalau semangat welas asih kita sebarkan hari ini, bukan hanya dalam pelayanan sosial, bahkan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan maka separuh atau 75% permasalahan akan selesai. Pemilu kenapa berkepanjangan, karena rasa welas asih hilang. Perbedaan pilihan politik menimbulkan permusuhan antar sesama, di keluarga, dan di organisasi,” jelas Haedar.

“Melalui medsos juga harus sama, tebarkan kasih sayang. Kalau ada orang sedang marah, redam kemarahannya, jangan dikompori,” tambah Haedar.

Teologi al Ma’un juga mengajari teologi amal, dalam bahasa sekarang praksis. Amal itu perbuatan yang tidak semata-mata perbuatan teknis dan praksis. Tetapi ada maindsetnya, sehingga disebut sebagai amal sholeh atau amal usaha. Yaitu perbuatan yang bersifat praktis dan punya nilai guna serta bisa dilihat hasilnya.

“Mindsetnya adalah bahwa amaliah itu punya konsekuensi ukhrowi yang dipadukan dengan duniawi.  Letak pahala adalah ketika kita melakukan perubuatan amal yang melibatkan Allah SWT dan berkonsekuensi atas keimanan yang dimiliki,” jelas Haedar.

Pelayanan sosial di Muhammadiyah ialah bernilai taqrir (emansipasi), yakni dalam memberikan pelayanan kepada mereka yang tidak beruntung.

“Jadi kalau kita mampu mengajari mereka tentang keadaban yang belum sempat mereka terima pelajaran itu. Dan kita mengajari mereka untuk mandiri dan mereka menjadi mandiri, itu juga terdapat nilai taqrir. Hal itu juga termasuk mengajak dari gelap menuju terang, pencerahan, atau bahasa lainnya ialah tanwir,” terang Haedar.

Sementara  dalam emansipasi itu juga terdapat empowerment (pemberdayaan), dalam gerakan pelayanan sosial Muhammadiyah harus ada aspek pemberdayaan.

“Pengelola di panti asuhan harus mampu membantu mereka yang terlantar selepas dari panti asuhan menjadi sosok yang mandiri,” imbuh Haedar.

Selanjutnya harus juga ada semangat tarbiyah (edukasi), artinya penghuni panti jangan ditekan, dan juga jangan dimanjakan.

“Didik mereka dengan prinsip-prinsip Islam, dengan disiplin dan kasih sayang. Perpaduan antara disiplin dan kasih sayang akan melahirkan anak-anak yang merdeka dan tetap hidup hatinya. Jadi harus ada edukasi, latih mereka menjadi orang yang dewasa, orang yang bertangung jawab. Boleh diajari rendah hati, tapi jangan sampai mereka mejadi rendah diri,” pungkas Haedar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *