Selasa, 18 Juni 2019
Home/ Berita/ Hadapi Revolusi Industri, Pelajar Indonesia Perlu Memperkuat 4C

Hadapi Revolusi Industri, Pelajar Indonesia Perlu Memperkuat 4C

MUHAMMADIYAH.ID, GUNUNGKIDUL-- Menghadapi revolusi industri 4.0, pelajar Indonesia perlu memperkuat pilar ketiga tentang 4C, creativative, critical thinking, communication, collaboration, dan ditambah confident. Pilar ketiga ini bukan hanya disodorkan hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga harus dikurikulumkan sehingga dampak terhadap perkembangan murid bisa langsung dirasakan.
 
Hal tersebut disampaikan oleh Didik Suhardi, Sekretaris Jendral (Sekjend) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dalam Seminar Nasional "Arah Pendidikan Nasional Menghadapi Revolusi Industri 4.0" yang diselengarakan oleh Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah Al Mujahidin, Gunungkidul pada Sabtu (25/5).
 
"Pilar ketiga yang awalnya hanya 4C, oleh Pak Mentri kemudian ditambah 1C lagi yaitu Confident atau percaya diri. Percaya diri ini perlu sebagai bekal para murid nantinya dalam menghadapai revolusi industri 4.0, karena kedapan persaingan terjadi bukan hanya antar manusia tetapi juga kecerdasan buatan (artificial intelengent)," urainya.
 
Secara operasional, kreatif dapat didefinisikan sebagai kemampuan yang mencerminkan fleksibilitas dan originalitas dalam berfikir.
 
Selanjutnya, berpikir kritis atau critical thingking ialah pembelajaran berbasis masalah ke penyelesaian masalah, melalui pembelajaran demikian peserta didik dikondisikan untuk dapat memberikan penalaran yang masuk akal dalam memahami dan membuat pilihan rumit. Komunikasi, pada abad digital informasi tentu komunikasi ini memakai jaringan digital yang memungkinkan hilangnya sekat wilayah, sehingga wawasan peserta didik semakin luas.
 
Kemudian kolaborasi, pada revolusi industri kecenderungan manusia akan lebih condong kepada kecerdasan individu dan lebih mengkesampingkan kerja sama tim, kurang mampu mengendalikan emosi. Maka, kolaborasi merupakan soft skill yang mutlak dimiliki oleh peserta didik sehingga kemampuan intelektual mereka bisa diarahkan.
 
Selain itu, perbaikan pola didik kepada murid jugan harus memiliki pembaharuan. Tidak bisa semua cara didik lama diterapkan kepada generasi milenial sekarang ini. Karena memang generasi ini unik dan beda dengan generasi sebelumnya, maka pembaharuan menjadi poin penting dalam mencetak peserta didik yang unggul dann siap menghadapi tantangan revoluis industri 4.0.
 
"Sekolah swasta, termasuk didalamnya milik Muhammadiyah lebih banyak memiliki kesempatan dalam melakukan metode pembaharuan ini," ungkapnya.
 
Fenomena bertambahnya kuantitas sekolah, baik yang dimiliki oleh swasta maupun negeri saat ini tidak sebanding lurus dengan peningkatan kualitas dan mutu dari sekolah-sekolaj tersebut. Hal ini menjadikan dua fakta yang berbeda, disatu sisi membangkan dan disisi lainnya menjadi pekerjaan rumah untuk segera dituntaskan, yaitu terkait peningkatan mutu dan kualitas sekolah.
 
Didik Suhardi menyarankan kepada penyelengara pendidikan untuk memiliki maping segala potensi yang dimiliki oleh wilayah garapnya. Hal ini penting sebagai tolok ukur dalam membangun atau mendirikan lembaga pendidikan baru. Ia juga berterimakasih kepada Muhammadiyah yang telah sejak lama memiliki perhatian serius terhadap pendidikan yang ada di Indonesia. Menurutnya, kehadiran Muhammadiyah sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang hadir jauh sebelum kemerdekaan telah banyak memiliki andil dalam pengentasan masalah pendidikan.
 
Sementara, Agus Suryono, Kepala sekolah SMP Muhammadiyah Al Mujahidin dalam sambutannya berharap, diusianya yang ke enam tahun, SMP Muhammadiyah Al Mujahidin mampu mencetak kader yang unggul. Serta mampu memberi manfaat kepada agama, bangsa dan negara.
 
"Kami berharap lulusan dari sini mampu menjadikan Indonesia sebagai negara yang baldatun toyyibatun wa rabbun ghafur,"  tutupnya. (a'n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *