Jum'at, 24 Mei 2019
Home/ Berita/ Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Canangkan Gerakan Seribu Baitul Arqom

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Canangkan Gerakan Seribu Baitul Arqom

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA -  Majelis Pembinaan Kader dan Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Menggelar Baitul Arqom dan TOT Baitul Arqom yang diselenggarakan pada tanggal 25-27 April 2019 dengan mengangkat tema "Gerakan Seribu Baitul Arqom sebagai Risalah Pencerahan untuk Generasi Berkemajuan".

Acara pembukaan yang digelar pada Kamis (25/4) dibuka secara resmi oleh  Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini di Aula Wisma PU Kotagede, Yogyakarta.

Salmah Orbayinah, Ketua Majelis Pembinaan Kader PP ‘Aisyiyah dalam sambutannya menyampaikan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berusaha mengaktualisasikan Islam berkemajuan dengan menghadirkan Islam sebagai agama pencerahan. Hal ini juga harus tercermin dalam kegiatan perkaderan yang dilakukan 'Aisyiyah agar melahirkan kader-kader 'Aisyiyah berkemajuan.  

Sementara Fitni Wilis, Ketua Majelis Dikdasmen PP ‘Aisyiyah dalam sambutan menyampaikan Baitul Arqom ini merupakan program lintas majelis keputusan Raker Pimpinan Pusat 'Aisyiyah.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menggairahkan penanaman ideologi Muhammadiyah, semangat berMuhammadiyah ber'Aisyiyah dalam kerangka Islam berkemajuan,” jelasnya,

 'Aisyiyah, menurut Fitni berkewajiban untuk membina kepala sekolah, para guru, termasuk pimpinan 'Aisyiyah yang belum banyak memahami ideologi Muhammadiyah 'Aisyiyah.

“Ke depan diharapkan dilakukan Baitul Arqom secara massif agar dalam mengelola pendidikan dasar dan menengah dikelola dengan spirit Islam berkemajuan,” tuturnya.

Noordjannah Djohantini dalam keynote speechnya mengapresiasi seluruh partisipasi dari para pimpinan 'Aisyiyah Wilayah dan Daerah. Ia juga mengatakan, Baitul Arqom ini bukan bagi pemula, melainkan para senior sehingga forum ini lebih kepada pendalaman atas berbagai pengalaman.

“Arahnya adalah akselerasi dan massifikasi gerakan ‘Aisyiyah yang memiliki struktur dan SDM sampai ke grassroot dari ujung barat hingga ke timur Indonesia,” jelasnya.

Noordjannah juga menyampaikan perlunya memperkuat karakter pada pendidikan formal, informal dan non formal.

“Harus ditemukan pembeda gerakan 'Aisyiyah dibanding yang lain. Ide cemerlang KHA Dahlan adalah menggerakkan dakwah secara institusional. Membuat jalur dakwah kemasyarakatan langsung melalui pemberdayaan sekaligus melakukan institusionalisasi melalui amal usaha,” tuturnya.

Amal usaha di persyarikatan dan 'Aisyiyah menjadi (pilar) penyangga dakwah. Dari sinilah kepercayaan masyarakat semakin tinggi kepada Muhammadiyah dan  'Aisyiyah. Kehilangan satu amal usaha adalah kehilangan besar.

“Upaya recharging, sharing, danencouragingharus terus dilakukan pada orang-orang kunci di pimpinan dan amal usaha,” tegasnya.

Noordjannah juga berpesan agar Majelis Dikdasmen wilayah wajib memiliki peta pendidikan.

“Bagi wilayah yang sudah ada Perguruan Tinggi Muhammadiyah agar melakukan sinergi untuk memperkuat pendidikan dasar dan menengah 'Aisyiyah. Mutual cooperation harus terus dikembangkan,” pesannya.

Diakhir, Noordjannah mengajak kepada para pesertadalam memaknai 100 tahun 'Aisyiyah dengan bersyukur melalui berbagai aktualisasi sekaligus refleksi melalui positioning gerakan.

“'Aisyiyah abad kedua, mengedepankan karakter pembaharuan dengan satu komando. Satu Abad pendidikan yang sudah dilakukan 'Aisyiyah harus dirawat sebaik mungkin,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *