Jum'at, 19 Juli 2019
Home/ Berita/ Siti Hajinah Mawardi, Pendobrak ke-Jumudan Kaum Perempuan

Siti Hajinah Mawardi, Pendobrak ke-Jumudan Kaum Perempuan

MUHAMMADIYAH.ID, YOGYAKARTA — “Marilah Soeara‘Aisjijah ini kita hidupi betul-betul... kalau tidak, baiklah kita bunuh saja mati-mati dan kita tanam dalam-dalam.” Tegas Siti Hajinah Mawardi saat memberikan pidato pada Kongres ‘Aisyiyah ke-21 di Makassar tahun 1932.

Perempuan yang lahir pada tahun 1906 di Kauman, Yogyakarta ini memiliki pandangan melampaui zamannya. Laiknya para pemikir di Muhammadiyah, Siti Hajinah juga dikenal sebagai pelopor gerakan, khususnya gerakan perempuan. Dia satu diantara dua tokoh perempuan murid ‘kinasih’ KH. Ahmad Dahlan yang memberikan pidato dalam Kongres Peremepuan pertama pada tahun 1928.

Siti Hajinah selain sebagai orator ulung dari kalangan perempuan, juga memiliki perhatian besar dalam dunia literasi bagi kaum perempuan. Ia termasuk perempuan yang memiliki bakat luar biasa dalam kepenulisan, suatu yang masih jarang ditemui pada perempuan yang lahir dan hidup pada awal abad 20-an. Tercatat mulai tahun 1938 sampai dengan 1942, Hajinah menjadi Ketua Redaksi Suara ‘Aisyiyah.

Selain di internal ‘Aisyiyah, kemampuannya juga sudah tidak diragukan lagi di luar kalangan ‘Aisyiyah. Hajinah juga tercatat pernah terlibat dalam penerbitan surat kabar Isteri, milik dari Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Profesionalitas dan insting jurnalistik nya menjadi pendorong ketika memberikan ultimatum dalam kongres ‘Aisyiyah ke-21, pada saat Suara ‘Aisyiyah berada dalam keadaan kritis.

Perhatiannya terhadap penguatan litarasi pada kaum perempuan, dirinya mendorong untuk didirkannya Bibliotheek, Gedung buku atau perpustakaan khusus perempuan. Inistiaf tersebut dilakukan setelah melihat keadaam kaumnya yang pada masa itu dianggap sebagai manusia kelas dua. Stereotip perempuan sebagai manusia yang tidak mempunyai kuasa untuk memutuskan sesuatu yang menyangkut kepentingan dirinya sendiri.

Siti ‘Aisyah, Ketua PP ‘Aisyiyah periode 2010-2015, dalam seminar yang diselengarakan oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta pada (4/4) mengatakan bahwa, seterotip yang jamak dipakai pada awal abad 20 tentang konsep surga dan neraka bagi seroang perempuan itu ditentukan oleh laki-laki, dikikis habis melalui gerakan penguatan pendidikan literasi yang dilakukan oleh para tokoh perempuan yang tergabung dalam ‘Asiyiyah.

Pada abad sekian, peran pewarta sebagai penyambung kanal dakwah telah lama menjadi perhatian Muhamamdiyah, termasuk organisasi otonom (Ortom) dibawahnya. Salah satunya adalah ‘Aisyiyah, sebagai organisasi keperempuanan Islam yang berada dibawah payung Muhammadiyah, ‘Aisyiyah telah sejak lama aktif mencetak kader yang piawai dalam jurnalistik.

Meski gelora semangat Siti Hajinah dalam emansipasi perempuan sangat tinggi, tapi menurut perempuan yang pernah mengawangi ‘Aisyiyah mulai tahun 1946 sampai 1965 ini tetap meletakkan semangat emansipasi perempuan pada akar budaya bangsa. Sehingga semangat emansipasi yang digelorakkannya tidak ‘kebabablasan’. Menurutnya, emansipasi tidak bisa dilakukan dengan ‘serampangan’.

Sumber: - Buku (Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan)

  • Catatan Pribadi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *