Minggu, 21 Juli 2019
Home/ Berita/ Alqur’an sebagai Identitas Gerakan Pemberdayaan Muhammadiyah

Alqur’an sebagai Identitas Gerakan Pemberdayaan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL—Gerakan pemberdayaan dan pembebasan atas penindasan yang dirasakan umat, harus berlandaskan pada Alqur’an. Alqur’an sebagai indentitas gerak Muhammadiyah  karena di dalamnya memuat segala kebutuhan manusia yang dijabarkan melalui tafsir dan ilmu-ilmu Qur’an lainnya.

 

Hal tersebut disampaikan Muhammad Nurul Yamin, Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM PP) Muhammadiyah pada Rabu malam (11/4) dalam acara Sekolah Kerakyatan yang diselengarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Djazman Al-Kindi, Kota Yogyakarta.

 

 

“Muhammadiyah lebih dikenal dengan gerakan amal dari pada pikir, namun bukan berarti Muhammadiyah beramal tanpa berpikir.” ungkapnya

 

 

Landasan pemikiran yang mengilhami gerakan Muhammadiyah Al-Qur’an, hal ini yang menjadi pembeda anatara gerakan sosial yang dilakukan oleh Muhammadiyah dengan organisasi sosial yang melakukan aksi pemberdayaan masyarakat. Lekat diingatan peran Kiai Dahlan ketika mengajarkan kepada santrinya tentang pentingnya pemahaman terhadap al Qur’an.

 

 

Menurut Yamin, pemahaman yang memakai nalar kritis oleh Ahmad Dahlan melahirkan sebuah gerakan sosial yang pada masa itu masih jarang, karena mayoritas kelompok umat Islam yang sejaman dengan Dahlan lebih memilih mendirikan partai atau organisasi yang berurusan dengan perpolitikan. Pilihan Dahlan saat itu tidak salah, terbukti Muhammadiyah sebagai organisasi Islam tertua yang masih tetap eksis sampai abad keduanya.

 

 

“Salah satu ciri lain yang melekat pada Muhammadiyah adalah pola pikirnya yang jauh melampaui zaman dan tidak terbatas ruang.” tambah Yamin

 

 

Tidak boleh berhenti, tafsiran kritis yang dilakukan oleh Dahlan masa itu harus dikontekstualisasikan dengan keadaan/kondisi masyarakat saat ini. Sehingga, dalam melakukan gerakan sosial pemberdayaan landasan teoritisnya tidak lepas dari pemahaman teoritis yang diberikan al Qur’an.

 

 

Secara praksis, salah satu tujuan gerakan pemberdayaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui MPM adalah penyadaran masyrakat terhadap hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Maka, pola pemberdayaan yang dilakukan oleh Muhammadiyah memiliki daya angkat dan ungkit masyarakat atas penindasan yang dirasakannya.

 

 

“Gerak pemberdayaan harus menimbulkan daya angkat dan daya ungkit komunitas-komunitas marjinal.” pungkas Yamin. (aan)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *