Kamis, 25 April 2019
Home/ Berita/ Mahasiswa UM Malang Ubah Sagu Menjadi Energi Alternatif Bioethanol

Mahasiswa UM Malang Ubah Sagu Menjadi Energi Alternatif Bioethanol

MUHAMMADIYAH.ID, MALANG—Berangkat dari keprihatinan tentang jumlah sagu yang melimpah dan pengolaan sagu yang tidak tuntas, Dita Formara Tausikal, Mahasiswa Program Studi (Prodi) Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sulap ampas sagu menjadi energi alternatif berupa bioethanol.

Dalam keterangan pers yang diterima Tim Muhammadiyah.id, pada (11/4), Dita menyayangkan kebiasaan penduduk di Pulau Haruku, Kabupten Maluku Tengah, tempat penelitiannya, yang masih tergantung dengan beras dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari daerah luar. Padahal jika memaksimalkan potensi lokal yang dimiliki, kebutuhan pangan dan BBM penduduk desa bisa terpenuhi dengan Sagu.

“Sayang, dengan potensi sagu yang melimpah, penduduk desa ini masih bergantung pada beras dan BBM dari kota Ambon. Padahal hampir di seisi Maluku tidak ada produksi beras sama sekali. Selain itu, sangat sering terjadi kelangkaan BBM sehingga mengharuskan ke pulau sebelah hanya untuk membeli minyak tanah,” ungkapnya.

Memang hasil temuan Dita tidak sesuai dengan konsentrasi jurusannya, yaitu manajemen. Tapi karena penelitian yang dia lakukan mengusung konsep sosial ekonomi pembangunan dengan mengoptimalkan potensi sagu sebagai upaya mewujudkan desa mandiri, maka temuan Dita menjadi sangat menarik. Dimana titik fokus penelitiannya adalah optimalisasi potensi sagu sebagau wujud desa mandiri pangan dan energi berbasis sociopreneurship.

Dita menjelaskan, kurangnya pengolahan lanjutan dari ampas sagu menjadi penyebab ketidaktahuan penduduk atas potensi lokal yang dimilikinya.

"Ampas ela yang merupakan limbah setelah panen sagu, mengandung ethanol 80 persen yang memenuhi syarat pembakaran sempurna," jelasnya.

Indonesia sebagai penghasil sagu terbesar di dunia, masih sangat kurang melakukan tinjauan dan pengembangan terkait pengolahan sagu dan limbah sagu secara berkelanjutan. Dengan luas lahan sagu sekitar  1.128 juta hektar, Indonesia masih tertingal dengan Jepang yang justru bisa mengembanhkan sagu bukan hanya sebagai bahan pangan tapi bahan energi alternatif.

Selain dampak positif berupa hasil energi alternatif, pemanfaatan potensi sagu yang dimiliki oleh Indonesia. Maka, Indonesia bisa menghemat impor beras sebesar 861.601 ton. Jumlah hitungan tersebut merupakan hasil konfersi satu porsi nasi seberat 100 gram setara dengan 40 gram tepung sagu.

Karena hasil penelitian ini, Dita Formara Tausikal berhasil menjadi juara pertama Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (pilmapres) yang diselenggarakan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) tingkat Jawa Timur pada (2/4). Dan akan mewakili Jawa Timur di ajang Pilmapres tingkat Nasional. (aan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *