Selasa, 21 Mei 2019
Home/ Berita/ Kampus Muhammadiyah Harus Dimaksimalkan sebagai Kanal Penyalur Informasi yang Wasathiyah dan Berkemajuan

Kampus Muhammadiyah Harus Dimaksimalkan sebagai Kanal Penyalur Informasi yang Wasathiyah dan Berkemajuan

MUHAMMADIYAH.ID, BANTUL-- Hadir di Malam Refleksi Milad Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ke 38 Tahun pada Kamis (28/2), Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengajak bersyukur dan kembali merefleksikan nilai historis munculnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Keberadaan AUM yang tetap bisa eksis dan bisa memberi manfaat kepada umat sampai saat ini merupakan berkat karunia Allah SWT, maka setiap gerak yang memiliki orientasi berkemajuan yang dilakukan AUM terutama bidang pendidikan harus tetap memiliki dasar nilai illahiyah serta tidak lupa alur historisnya.

"Secara historis fungsi AUM di bidang pendidikan setidaknya ada tiga, pertama sebagai lembaga pendidikan, lembaga dakwah, dan tempat beramal,” ungkap Mu'ti.

Sehingga, dalam menghadapi kemajuan zaman berbasis teknologi, AUM tetap punya jati diri. Pentingnya memiliki jati diri di era revolusi industri 4.0 supaya AUM bisa memiliki nilai tersendiri, bukan terbawa arus yang serba permukaan. Pemanfaatan media sosial bagi kehidupan civitas akademik harusnya tidak serta merta merubah akar rujuk sumber keilmuan intelektual Muhammadiyah.

"Akademisi Muslim, terlebih Muhammadiyah yang dirujuk harusnya bukan dari literasi di media yang anonim pembuat dan operatornya,” tambahnya.

Pengetahuan yang hanya dibatas permukaan menyebabkan umat menjadi mudah diarahkan atau disetir pihak yang tidak memiliki kredibilitas. Yang kemudian menimbulkan kegaduhan di internal umat Islam maupun antar umat beragama. Maka, tantangan keilmuan di era 4.0 lebih kompleks, mengingat saingan kecerdasan bukan hanya dari manusia. Tapi juga dari kercerdasan buatan (artivisial intelengt).

Hal tersebut dibuktikan dengan umat Islam sekarang lebih memilih merujuk kepada ustadz popular dari pada ke ustadz/ulama yang telah memiliki kredibilitas. Berangkat dari fakta tersebut, perguruan tinggi khususnya Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) memiliki tuntutan untuk merebut wacana popular yang menjangkiti umat saat ini.

"Hadirnya kampus sebagai lembaga dakwah, harus dimaksimalkan sebagai kanal penyalur informasi yang wasathiyah dan berkemajuan. Disertai dengan rujukan keilmuan yang runtut dan terukur, sehingga umat tercerahkan,” pungkas Mu'ti. (a'n)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *