Senin, 27 Mei 2019
Home/ Berita/ Literasi Pencerahan, Lawan Informasi Membodohkan

Literasi Pencerahan, Lawan Informasi Membodohkan

MUHAMMADIYAH. ID, BENGKULU- Media sosial yang sangat bebas memungkinkan  setiap orang bisa memproduksi informasi apa saja, kapan saja. Kalau pada media arus utama kontrol dilakukan oleh redaksi dan seperangkat undang-undang yang mengaturnya, media sosial hampir tidak ada. 
 
Setiap orang bisa membuat konten apa pun yang diinginkan. Di media sosial fakta dikalahkan opini,  yang salah bisa jadi seolah benar, sehingga tidak jarang membuat para pembuat kebijakan maupun politisi menjadikan media sosial sebagai alat agitasi dan propaganda. 
 
Demikian pandangan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah,  Haedar Nashir yang disampaikan dalam Forum Dialog dan Literasi Media Sosial, Seminar Pra Tanwir Muhammadiyah pada Kamis (14/2) di Bengkulu, yang dihadiri Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara, dan jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dadang Kahmad, Yunahar Ilyas, Taufiqurahman, dan Dahlan Rais. 
 
Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan buku Fikih Informasi yang dirumuskan Majelis Tarjih dan Tajdid bersama Majelis Pustaka dan Informasi, yang diterbitkan Majalah Suara Muhammadiyah.
 
Lebih lanjut Haedar Nashir menyampaikan perlunya menggelorakan Literasi Pencerahan sebagai pengamalan ayat pertama yang diturunkan Allah SWT, yaitu Iqra.
 
“Maka di forum tanwir ini kita juga akan menggunakan diksi "Literasi Pencerahan". Diksi ini harus digelorakan, sebab cerah itu bagus dan Islam itu mencerahkan. Ayat pertama yg diturunkan Allah itu sangat mencerahkan”, tegasnya. 
 
Oleh karena itu, menurut Haedar, Muhammadiyah harus bekerjasama dengan pemerintah melakukan gerakan literasi yang berkeadaban, menyehatkan, melawan informasi yang membodohkan. 
 
“Kita lawan hasrat-hasrat alamiah dan primitif seperti kebencian, amarah. Naluri-naluri seperti ini ketika menemukan ruang maka seperti benih yang menyebar. Keburukan-keburukan itu lama kemalaan akan seolah menjadi benar”, peringatnya. 
 
Mengajarkan cerdas dan kritis menjadi ciri ulil albab, yaitu  orang yang memperoleh petunjuk dan cerdas pemikirannya. Pada oarng yang mendapat petunjuk memiliki kemampuan mengolah dan menseleksi untuk mendiskusikan teks tanpa harus langsung mengeluarkan atau menyebarkan. Generasi milenial harus dibiasakan otaknya memamah informasi. “Kalau otak kita terbiasa mengolah maka akan menjadi cerdas”, demikian Haedar Nashir.
 
Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara menyambut gembira dirumuskannya Fikih Informasi. Ia berharap buku Fikih Informasi tidak hanya untuk kalangan warga Muhammadiyah, harus disosialisakan kepada masyarakat luas. Muhammadiyah harus menjadi lokomatif menarik gerbong masyarakat untuk melek informasi yang sehat.
 
“Buku Fikih Informasi Muhammadiyah sangat membantu saya untuk bicara kemana-mana. Saya berharap Muhammadiyah dapat menarik gerbong masyarakat untuk lebih melek informasi yang sehat. Saya sangat berterimakasih,” sambutnya. 
 
Masyarakat milenial kini belajar agama tidak dari ustad tapi dari medsos. Pengajian orang tua itu tidak diisi orang muda. Karena mereka tidak tertarik.
 
Anak muda itu lebih tertarik secara virtual. Majelis tabligh tidak lagi datang ke daerah-daerah, tapi produksi dakwah secara digital. Audiensinya bisa berjuta-juta. 
 
Sementara itu pembicara lain, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang membidangi Pustaka dan Informasi, Prof. Dr. Dadang Kahmad menyampaikan Fikih Informasi dibahas dalam Fokus Grup Diskusi tahun 2016 diawali oleh Majelis Pustaka dan Informasi dan Majelis Tarjih dan Tajdid di Universitas Prof Dr. Hamka di Jakarta. Dengan adanya Fikih Informasi, Muhammadiyah memberikan panduan kepada masyarakat agar dapat menggunakan media sosial dengan lebih baik.
 
 
“Dakwah yang efektif ke depan itu melalui digital. Ini tantangan bagi Muhammadiyah. Kita harus memproduksi konten-konten ke medsos yang bisa diakses oleh anak-anak muda”, katanya. 
 
Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Prof Dr. Syamsul Anwar, menyampaikan perumusan Fikih Informasi ini merupakan jawaban terhadap perlunya tuntunan hidup di era informasi yang semua berubah dengan cepat karena derasnya aliran informasi. 
 
Dalam pandangan Muhammadiyah, Fikih bukan hanya sekadar menetapkan hukum halal dan haram. Fikih memberikan landasan hukum sebagai tuntunan dalam menghadapi kehidupan sesuai tantangan zaman.
 
“Maka kita membuat tuntunan agama di bidang informasi. Masyarakat hidup di tengah dunia maya, maka Muhammadiyah harus hadir memberikan tuntunan. Muhammadiyah berpartisipasi membangun masyarakat maju dan berkeadaban," jelasnya. 
 
Tanwir Muhammadiyah merupakan musyawarah nasional tertinggi dibawah Muktamar yang diikuti Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se Indonesia, pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, dan pimpinan Amal Usaha Muhammadiyah.
 
Diselenggarakan untuk membahas masalah keagamaan dan kebangsaan. Tema Tanwir di Bengkulu yang diselenggarakan dari tanggal 15-17 Februari ini membahas tema Beragama Mencerahkan.
 
Direncanakan Tanwir akan dibuka oleh Presiden RI. H. Ir. Joko Widodo, 15 Februari pukul 09.00 WIB, di Gedung Kantor Gubernur Provinsi Bengkulu. 
 
Sumber foto: SM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *