Kamis, 25 April 2019
Home/ Berita/ Rektor UMM: Islam Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

Rektor UMM: Islam Menjunjung Tinggi Kemanusiaan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG  Jelang perhelatan Tanwir ke-51 Muhammadiyah tanggal 15-17 Februari 2019 di Bengkulu, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyelenggarakan Sarasehan Kebangsaan. Acara terselenggara di Theater Dome UMM, Kamis (7/2). Hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Haedar Nashir, M.Si.
 
Tema Tanwir “Agama yang Mencerahkan” disebut Rektor UMM Dr. Fauzan, M.Pd. mengandung unsur imperatif atau memerintah. Yakni Muhammadiyah mengajak warganya untuk tidak sekadar menjadi warga yang beragama, melainkan beragama yang mencerahkan. Karena aksi ini merupakan bagian dari perintah agama Islam.
 
Demikian selanjutnya Fauzan mengutip sebuah hadits , "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Fauzan sekaligus membuka acara yang dihadiri para tokoh, aktivis, akademisi, organisasi otonom dan pimpinan Muhammadiyah, mulai dari pusat, wilayah, daerah dan cabang.
 
Selain itu, dikuatkan Fauzan, dalam hadits lainnya Rasulullah SAW menyebut, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” Dua hadits ini, menurut Fauzan, sebuah doktrin kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan. Sampai-sampai Nabi menyebut, seminimal mungkin manusia berbuat baik dengan sesamanya melalui senyum.
 
“Bukan hanya sekadar senyum secara simbolik. Melainkan memberikan kedamaian kepada orang lain, memberikan kenyamanan kepada orang lain,” kata Fauzan. Dilanjutkannya, tema yang diangkat dalam Tanwir Muhammadiyah kali ini sarat akan makna menjunjung tinggi kemanusiaan. Seperti yang dikehendaki Islam.
 
Dalam artian lain, sambung Fauzan, Muhammadiyah diajak bersama-sama untuk memperjuangkan pemartabatan bangsa ini. Yang saat ini, diungapnya, ditengarai adanya cara-cara beragama yang paradoks. Demikian Fauzan menekankan bahwa tugas manusia adalah khalifah fil ardh atau wakil-wakil Tuhan di muka bumi.
 
“Tuhan Maha Pemaaf. Tuhan senantiasa memberikan kedamaian. Tuhan selalu berbuat baik tanpa perhitungan kepada makluk-makhluknya. Sifat-sifat ketauladanan itulah sebenarnya menjadi tanggung jawab kita semua. Persoalannya adalah, dunia, khususnya Indonesia tengah dihadapkan pada fenomena berkebalikan,” ungkapnya.
 
Yakni, lanjut Fauzan, tidak menjadikan nilai-nilai dan norma-norma agama sebagai pijakan dalam mengimplementasikan kehidupannya. Sarasehan Kebangsaan yang digelar satu hari di UMM ini diharapkan Fauzan akan memberikan penyadaran kepada para peserta. Juga, dapat berdampak luas pada masyarakat. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *