Jum'at, 19 April 2019
Home/ Berita/ Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai Kawah Candradimuka

Perguruan Tinggi Muhammadiyah sebagai Kawah Candradimuka

MUHAMMADIYAH.ID, JAKARTA - Membawakan Pidato Pencerahan berjudul "Perguruan Tinggi Muhammadiyah Sebagai Kawah Candradimuka" dalam acara Pelantikan Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB-AD) masa bakti 2018-2022, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sampaikan empat poin penting yang harus diusahakan warga Muhammadiyah.
 
Pertama, menjaga tradisi keilmuan. Haedar berpesan agar warga Muhammadiyah tidak memakai satu metode ilmu saja, tetapi memakai seluruh pendekatan metode keilmuan dari bayani (teks), burhani (akal), dan irfani (makrifat).
 
"Ini harus sebagai referensi Islam Berkemajuan. Tidak boleh melulu satu sisi saja. Kita perlu juga baca buku-buku mutaakhir agar pembacaan Muhammadiyah dapat sesuai dengan konteks jaman," pesan Haedar.
 
Menurut Haedar, pesan itu telah ditanamkan oleh Kyai Ahmad Dahlan pada gerakan Muhammadiyah yang mengajarkan surat Al-Ma'un dan Al-Asr selama beberapa bulan sampai benar-benar diamalkan.
 
"Tadabbur dan tafakkur harus jadi tradisi Muhammadiyah. Almarhum Cak Nur memuji Kyai Dahlan sebagai orang yang mampu menangkap isi Al-Qur'an dan melakukan kontekstuasi sesuai dengan jamannya. Karena itu menjadi ironis apabila warga Muhammadiyah tidak berkembang pemikirannya, tidak punya tradisi ilmu, bahkan sampai anti ilmu," ungkap Haedar.
 
Haedar menegaskan bahwa aksi persekusi seminar dan diskusi bukanlah tradisi Muhammadiyah yang telah mencanangkan dirinya sebagai gerakan pembaruan sebab pemikiran harus dilawan dengan pemikiran, bukan aksi fisik.
 
"Muhammadiyah jangan sampai seperti Athena yang jatuh dan diganti semangat fisik Spartan. Jika Muhammadiyah kehilangan tradisi ilmunya, hilanglah eksistensinya. Kalau perlu baca buku tokoh Atheis sekalian agar kita tahu alasannya. Itulah berdakwah. Nah itu tradisi yang dilakukan Kyai dahlan," imbuh HHaedar.
 
Poin kedua, Haedar berpesan agar menjadikan universitas sebagai pusat pendidikan moralitas.
 
"Rumusannya adalah berakhlak mulia yang Nabi diutus untuk itu. Perlu rekonstruksi pelajaran baru dengan pendekatan akhlak. Sebab sekarang terjadi prluruhan keadaban. Kalau Muhammadiyah jebol siapa lagi yang membingkai akhlak? Kita boleh tidak punya apapun, tapi jangan sampai kehilangan integritas," pesan Haedar.
 
Poin berikutnya, Haedar ingin agar Perguruan Tinggi menjadi pusat untuk peran-peran sosial. 
 
"Dalam Islam itu penting karena ilmu harus diamalkan. Untuk apa ada universitas jika tidak memberi pencerahan dan manfaat bagi masyarakat sekitarnya," tegas Haedar.
 
Terakhir, Haedar berpesan agar Perguruan Tinggi Muhammadiyah terus mengupayakan pembangunan pusat-pusat keunggulan.
 
"Harapan bangsa ini terhadap Muhammadiyah sangat tinggi. Kita harus melakukan pembaharuan dan orang Muhammadiyah harus memahami nilai ini. Banyak kader di daerah yang bekerja senyap, tapi di kota malah seperti kehilangan ghirahnya. Jika empat fungsi ini dijalankan, Muhammadiyah akan menjadi kebanggaan dan pusat peradaban Indonesia," harap Haedar. (Afandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *