Rabu, 16 Januari 2019
Home/ Berita/ A.R. Sutan Mansur, Pembuka Pintu Muhammadiyah di Tanah Sumatera (I)

A.R. Sutan Mansur, Pembuka Pintu Muhammadiyah di Tanah Sumatera (I)

MUHAMMADIYAH.ID, REDAKSI – Dua belas tahun sejak kelahirannya pada 1912, dakwah Muhammadiyah tidak juga beranjak ke luar Pulau Jawa. Kuatnya pergolakan berbagai bond (organisasi) di Hindia Belanda dalam masa pergerakan yang terpusat di Pulau Jawa disertai usia Muhammadiyah sendiri yang masih belia menjadi pertimbangannya. Muhammadiyah harus menguatkan pondasi untuk berkembang, atau setidaknya bertahan agar tidak dilekang zaman.

Siapa sangka, langkah Muhammadiyah untuk kali pertama menjelajah luar Jawa terjadi secara tidak sengaja pada 1925 ketika seorang muslim modernis asal Padang Panjang meminta bantuan pendirian sekolah Islam di Maninjau, Sumatera Barat. Menjawab permintaan tersebut, Hoofdbestuur (Pengurus Utama) Muhammadiyah segera mengirimkan seorang da’i militan yang kelak disebut oleh kebanyakan orang Sumatera sebagai ‘Imam Muhammadiyah di Sumatera’, Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Imam Besar Muhammadiyah Asal Minang

Ketika Ki Bagus Hadikusumo tidak mampu lagi menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Muhammadiyah pada 1953 karena alasan kesehatan yang kian melemah, secara resmi melalui Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto posisi Ketua Umum diserahkan kepada ‘Bintang Muhammadiyah dari Barat’, begitu mantan Ketua Umum Muhammadiyah ketujuh Kyai Haji Jusuf Anies menyebut sosok ulama kenamaan Muhammadiyah, AR Sutan Mansur.

Segera setelah terbitnya keputusan tersebut, Sutan Mansur bersama keluarganya berkemas menuju Jawa. Tiba di pelabuhan Semarang pada Februari 1954, deretan mobil yang menjemput Sutan Mansur mengiringinya hingga tiba di alun-alun Yogyakarta yang telah ramai oleh ribuan warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Selepas menunaikan salat zuhur di Masjid Kauman, Sutan Mansur memberikan fatwa dan amanat kepada warga Muhammadiyah di serambi masjid, demikian tercatat dalam 1 Abad Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan (2010).

Darul Aqsha dalam Kiai Haji Mas Mansur (1896-1946): Perjuangan dan Pemikiran (2005) menyebutkan bahwa Sutan Mansur sebetulnya telah diajukan oleh Kyai Haji Mas Mansur untuk menjadi Ketua Umum PB Muhammadiyah dalam Kongres Muhammadiyah ke-26 di Yogyakarta 1937 dengan alasan ketabahan, kewibawaan dan keilmuan.

Junus Anies menyebut Muhammadiyah bersyukur memiliki dua bintang, yaitu Bintang Timur merujuk pada Kyai Haji Mas Mansur yang luas ilmunya dalam bidang filsafat, dan Bintang Barat merujuk pada AR Sutan Mansur yang kedalaman ilmunya diakui dalam bidang Tasawuf, demikian dalam 1 Abad Muhammadiyah Gagasan Pembaruan Sosial Keagamaan.

Sebagaimana ulama-filosof Islam kontemporer SM Naquib Al-Attas yang menyebutkan penyebab keterpurukan umat Islam adalah karena timpangnya ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah, dua Bintang Muhammadiyah ini menyebut timpangnya proporsi ilmu akhirat dan dunia membuat umat Islam terpuruk.

Jika Kyai Mas Mansur berpendapat umat Islam mundur karena porsi pendidikan akhirat yang terlalu banyak sehingga melupakan dunia sebagai ladang akhirat, AR Sutan Mansur melengkapinya dengan pendapat bahwa bangsa Indonesia menjadi mundur karena terlampau berlebihan mengagungkan materi dan urusan dunia sehingga lupa kehidupan akhirat.

Sutan Mansur lahir di Maninjau, 15 Desember 1895 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara dari seorang ulama terkenal setempat bernama Abdul Somad Al-Kusaij. Kelak setelah dirinya menikahi putri gurunya yang sekaligus kakak perempuan Buya Hamka, Fatimah, Ahmad Rasyid Mansur mendapatkan penyematan gelar ‘Sutan’ di tengah namanya.

Dampak Politik Etis pada Peraturan Pendidikan Dasar Masyarakat Hindia Belanda 1892 dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada usia sepuluh tahun, Sutan Mansur mengenyam pendidikan dasar untuk kalangan pribumi di Inlandsche School (IS) selama tujuh tahun hingga 1909 dengan bahasa daerah sebagai bahasa pengantarnya.

Selepas belajar di IS, Sutan Mansur mendapatkan beasiswa dari Pemerintah Kolonial untuk melanjutkan pendidikan di Kweekschool (Sekolah Guru) Bukittinggi. Akan tetapi, kebencian terhadap penjajah membuat Sutan Mansur menolak kesempatan tersebut, selain alasan lain bahwa minatnya belajar agama lebih besar.

Sutan Mansur menuruti saran gurunya, Tuan Ismail untuk belajar berbagai ilmu ke ayah Hamka, Haji Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) mengenai Ilmu Aqidah, Bahasa Arab, Retorika, Logika, Sejarah, Syariat, Tasawuf, Quran, Tafsir dan Hadis selama tujuh tahun sampai 1917. Setelah tunai belajar ilmu alat dan ushul, Haji Rasul menikahkan Sutan Mansur dengan putrinya yang bernama Fatimah. Untuk mengamalkan ilmunya, setahun kemudian Sutan Mansur berangkat menuju Kuala Simpang, Aceh sebagai utusan Sumatera Thawalib.

Ketika kembali ke Maninjau pada 1920, Sutan Mansur berencana melanjutkan pendidikannya ke Mesir, akan tetapi pemberontakan rakyat setempat terhadap Kolonial Inggris membuat Belanda tidak mengizinkan rencana tersebut, sebagai gantinya Sutan Mansur memilih untuk merantau ke Jawa bersama istrinya, Fatimah sebagai pedagang batik.

Di Pekalongan, Sutan Mansur bertemu dengan Kyai Dahlan yang sering mengisi tabligh di Pekalongan, dari tabligh tersebut pula, Sutan Mansur pada 1922 bergabung dengan Muhammadiyah dan setahun kemudian menjabat sebagai voorzitter (ketua) Cabang Muhammadiyah Pekalongan, menggantikan ketua sebelumnya yang tidak tahan mendengar kritik dari para pembenci Muhammadiyah.

Tapak Kaki Pertama Muhammadiyah di Sumatera

Antara 1924-1925, Guru Sutan Mansur selama di Maninjau, Haji Rasul datang ke Pekalongan untuk mengunjungi putrinya Fatimah beserta menantu dan muridnya. Kedatangan Haji Rasul tidak lain juga merupakan permintaan bantuan untuk Sekolah Agama ‘Sandi Aman’ yang didirikannya pada Oktober 1924 di Sungai Batang, Maninjau.

Sutan Mansur pada Pergerakan Islam dan Muhammadiyah di Sumatera dalam Almanak Muhammadiyah 1927-1928 mengungkapkan bahwa dirinya kemudian meminta agar Haji Rasul bergabung dengan Muhammadiyah dan menjadikan Sekolah Agama ‘Sandi Aman’ sebagai Cabang Muhammadiyah pertama di luar Jawa.

Dalam sumber yang sama, Ketua Umum PB Muhammadiyah Kyai Ibrahim mengizinkan rencana Haji Rasul dan sebagai kelanjutannya, Sekolah Agama ‘Sandi Aman’ diubah namanya menjadi Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Sutan Mansur juga ditunjuk PB Muhammadiyah sebagai wakil resmi di Maninjau. Istrinya, Fatimah oleh PB ditunjuk sebagai wakil resmi ‘Aisyiyah untuk wilayah yang sama.

Alfian dalam Muhammadiyah: The Political Behaviour of A Muslim Modernist Under Dutch Colonialism (1989) menulis bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan reformis agama, pelaku perubahan sosial dan kekuatan politik datang di Minangkabau pada 1925, menguatkan posisi modernisme Islam di Tanah Minang yang sudah menempati posisi terhormat oleh karya tiga perintis yaitu Haji Abdullah Ahmad, Haji Abdul Karim Amrullah dan Syeh Djambek, beserta Sumatra Thawalib dan Diniyah.

Ditemani oleh Hamka beserta Fatimah, Sutan Mansur pada 1925 meninggalkan Pekalongan guna menemani Haji Rasul melebarkan dakwah Muhammadiyah di Sumatera. Menurut Yusran Rusydi dalam Pribadi dan Martabat Buya Hamka (2017), Hamka setibanya di Sumatera segera kembali ke Padang Panjang guna mendirikan Tabligh Muhammadiyah di rumah Ayahnya. Setelah itu, ia menjadi pengiring setia Sutan Mansur dalam mendakwahkan Muhammadiyah di Sumatera.

Kepiawaian Sutan Mansur dalam mengambil hati pendengarnya merupakan anugerah yang memudahkan dakwahnya selama di Sumatera. Sutan Mansur dapat menarik perhatian hadirin yang bagai bergantung pada bibirnya. Ia bisa bicara serius, bisa juga membawakan kelakar yang menyebabkan hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sutan Mansur benar-benar berhasil dalam menumbuhkan ingatan pendengarnya, demikian Deliar Noer dalam Aku Bagian Ummat Aku Bagian Bangsa (1996).

Slamet Abdullah dan Muslich dalam Seabad Muhammadiyah dalam Pergumulan Budaya Nusantara (2010) menyebutkan bahwa sifat Sutan Mansur yang akomodatif, tidak frontal dan bijaksana dalam berdakwah membuat dirinya mudah dalam meraih dukungan dari para Raja dan Sultan di Sumatera untuk mendukung dakwah Muhammadiyah sehingga Muhammadiyah dapat berdiri di Kotaraja, Sigli, dan Lhoukseumawe.

Tercatat, Sutan Mansur berhasil mengadakan Tabligh di Medan pada 1927. Pada 1929 Sutan Mansur dibantu Hamka dan ayahnya berhasil mendirikan cabang-cabang Muhammadiyah di Banjarmasin, Kuala Kapuas, Mendawai, dan Amuntai sehingga sampai 1930 Muhammadiyah mulai dikenal luas di luar pulau Jawa.

Slamet Abdullah dan Muslich lebih lanjut menjelaskan bahwa setelah Kongres Muhammadiyah ke-19 di Minangkabau pada 14-26 Maret 1930 yang menghasilkan keputusan agar setiap Karesidenan memiliki wakil Hoofdbestuur Muhammadiyah sebagai ‘Konsul Muhammadiyah’, Sutan Mansur dikukuhkan menjadi Konsul Muhammadiyah Minangkabau meliputi Tapanuli dan Riau pada 1931 hingga 1944.

Terputusnya hubungan Jawa dan Sumatera yang dibedakan berdasar wilayah Komando pada masa pendudukan Jepang membuat Sutan Mansur memegang kendali penuh Muhammadiyah di seluruh Sumatera. Dalam Pergerakan Islam dan Muhammadiyah di Sumatera dalam Almanak Muhammadiyah 1927-1928, Sutan Mansur mencatat bahwa dari hasil kerja keras dirinya dibantu Haji Rusli dan puteranya, anggota resmi Cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan Maninjau saja telah mencapai angka 3.644 orang. (Afandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *