Rabu, 17 Oktober 2018
Home/ Berita/ Bersama BPBD Jatim, MDMC Komitmen Benahi Sanitasi Huntara Gempa Lombok

Bersama BPBD Jatim, MDMC Komitmen Benahi Sanitasi Huntara Gempa Lombok

MUHAMMADIYAH. OR. ID, LOMBOK - Paska gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menimbulkan permasalahan pada fasilitas sanitasi atau MCK yang mengalami kerusakan total. 
 
Terdata fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang rusak 100% terdapat di Desa Dangiang, Kec. Kayangan, Kab. Lombok Utara. Dari sinilah MDMC dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBP) Jawa Timur (Jatim) mengambil sikap dengan melalukan kerjasama atau teken MoU guna membangun sanitasi dan hunian sementara (huntara) pada Jum'at (05/10). 
 
Tujuan utama dilakukan kerjasama ini adalah menindaklanjuti surat dari pemerintahan Kabupaten Lombok Utara tentang pengajuan bantuan dari BPBD Provinsi Jatim. Darisitulah kemudian BPBD Jatim akhirnya melakukan asessment dan bertemu dengan Pimpinan MDMC.
 
Disampaikan oleh Chairil Anam Anggota Divisi Tanggap Darurat, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi (TDRR) mengatakan bahwa MDMC menerima ajakan untuk kerjasama dengan merealisasikan program Huntara yang sudah berjalan di MDMC.
 
 "Ketertarikan BPBD Jatim kami tindak lanjuti bersama melalui pembangunan huntara dan peningkatan kualitas kesehatan lingkungan maupun kesehatan setiap Individu," ucapnya.
 
Sementara, Memorandum of Understanding (MoU) terkait kerjasama mulai di realisasikan pada 28/10 dengan membangun huntara dan sanitasi sudah dilakukan dari sekarang. Saat ini sudah mulai direalisasikan untuk membangun sejumlah 22 unit sanitasi di Dusun Mlepahsari, Desa Sangiang, Kec. Kayangan, Kab.Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Sedangkan pembangunan huntara di Dusun Kebun Kunyit dan Dusun jelantik, Desa Dangiang, Kec. Kayangan, Kab.Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
 
"Kalau alasannya menurut saya pribadi karena sekuat apapun kita, lembaga penanggulangan bencana seperti Muhammadiyah, atau lembaga penanggulangan bencana yang lainnya swasta itu tidak akan bisa lepas dari pemerintah. Karena kita punya tenaga, kita punya kemampuan, kita punya relawan, tetapi dana pun tidak bisa sekuat pemerintah. pemerintah mempunyai dana,  dia kekurangan tenaga, akhirnya kita saling berkolaborasi, saling kerjasama itu akan menghasilkan yang lebih positif lagi sehingga tidak ada yang dirugikan," pungkasnya.
 
Lebih lanjut, anam menjelaskan alur kerjasama tersebut yakni realisasikan pembangunan huntara dan sanitasi yg anggarannya dari penggalangan dana dan donasi dari BPBD kemudian MDMC mengeksekusi dan melaksanakan di lokasi. 
 
Pembuatan huntara dilakukan MDMC dengan bantuan polmas yang dibentuk oleh MDMC. "Untuk pembuatan huntara  dibutuhkan kalsiboard untuk dinding, dengan seng sebagai atap dan kayu untuk penyangga. Sedangkan untuk sanitasi dibutuhkan dinding kalsiboard, batu bata merah, kayu dan seng. Maka kita sepakat untuk segala kebutuhan yang belum tercukupi akan di carikan solusinya bersama-sama," tutupnya. (Ern)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *