cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar
Kamis, 19 Jul 2012 | 16:15 WIB |
Dibaca: 11141

Muhammadiyah Puasa Besok Tidak Mengikuti Putusan Sidang Isbat

 

Yogyakarta - Penentuan awal Ramadhan oleh Muhammadiyah sudah sejak diputuskan pada saat Tanwir Muhammadiyah di Bandung akhir Juni lalu. Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1433 H jatuh pada tanggal 20 Juli 2012. 1 Syawal 1433 H jatuh pada tanggal 19 Agustus, dan 10 Dzulhijjah 1433 H jatuh pada tanggal 26 Oktober 2012. Kemungkinan perbedaan awal ramadhan dengan pemerintah sangat terlihat jelas, ketika pemerintah menggunakan metode Rukyatul Hilal, dan tidak mungkin terlihat, karena posisi Indonesia di beberapa tempat tidak akan terlihat. Muhammadiyah sudah menetapkan lebih dahulu dalam penentuan awal Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah dengan metode hisab wujudul hilal. Hal itu disampaikan Drs. H. Oman Fathurohman S.W., M.Ag., Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah melalui telpon kepada redaksi.

Menurut Oman Fathurohman, Ijtimak jelang bulan Ramadan 1433 H terjadi pada hari Kamis Wage tanggal 19 Juli 2012  pukul 11:25:24 WIB. Ijtimak ini terjadi  pada momen yang sama untuk seluruh muka Bumi, hanya saja jamnya tergantung pada jam di tempat bersangkutan. Kalau ijtimak terjadi pada pukul 11:25:24 WIB berarti sama dengan pukul 07:25:24 WAS (Waktu Arab Saudi) karena selisih waktu WIB dengan Arab Saudi 4 jam. Dengan ijtimak ini berarti kriteria pertama sudah terpenuhi, tinggal menguji kriteria kedua dan ketiga. Kriteria kedua dengan mudah diketahui, karena kalau ijtimak terjadi pada pukul 11:25:24 WIB sudah dapat dipastikan terjadi sebelum terbenam Matahari pada hari dan tanggal tersebut. Terbenam Matahari di Yogyakarta pada hari itu pukul 17:39 WIB. Kriteria ketiga juga sudah terpenuhi karena berdasarkan perhitungan tersebut, pada saat terbenam Matahari di Yogyakarta tanggal 19 Juli 2012 itu Bulan masih di atas ufuk setinggi 01 ͦ 38’ 40”, artinya pada saat Matahari terbenam Bulan belum terbenam, jadi hilal sudah wujud. Dengan demikianNegara-negara yang akan keseluruhan kriteria yang diperlukan sudah terpenuhi, dan karena ketiga kriteria tersebut sudah terpenuhi, maka ditetapkanlah tanggal 1 Ramadan 1433 H  dimulai pada saat terbenam Matahari tanggal 19 Juli 2012 dan konversinya dengan kalender Masehi ditetapkan pada keesokan harinya yaitu tanggal 20 Juli 2012. Itulah sebabnya maka dikatakan tanggal 1 Ramadan 1433 H jatuh pada hari Jum’at Kliwon 20 Juli 2012.

Terkait dengan posisi Muhammadiyah dalam sidang Isbat yang akan dilakukan pemerintah yang kali ini diwakili oleh Kementrian Agama RI, Oman Fathurohman mengatakan sidang Isbat sendiri hanya mengakomodir suara-suara hasil rukyat. Apabila ada saksi yang melihat bulan baru di atas  2  ͦ  tidak akan diakomodir oleh pemerintah, namun pemerintah lebih mengakui saksi yang tidak melihat bulan. Muhammadiyah dengan metode hisabnya justru tidak akan diakomodir. Namun Oman mengaharapkan pemerintah memberikan keputusan tersendiri terhadap umat Islam untuk meyakini tentang awal Ramadhan.

Selanjutnya terkait dengan pernyataan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta di tvOne pagi tadi, yang menyarankan agar Pemerintah RI memiliki undang-undang hari raya, seperti di Malaysia ketika ada kelompok yang tidak mengikuti Pemerintah, Sultan di Kerajaan Malaysia berhak memerintahkan polisi untuk menangkap kelompok atau golongan tersebut. “Pemerintah tidak berhak melakukan tindakan seperti itu, pertama karena Negara Indonesia bukan Negara Agama, kemudian pembuatan Undang-undang perlu pembahasan di parlementer, selanjutnya, seandainya Pemerintah sudah menetapkan undang-undang hari raya tersebut, berarti pemerintah telah melanggar HAM dan UUD 45 pasal 29,” jawab tegas Oman Fathurohman. (dzar)


Tags: wujudul hilal, muhammadiyah, hilal, rukyat, sidang isbat
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: Majelis Tarjih dan Tadjid

Pilih Artikel


Apakah artikel tersebut menarik bagi saudara?
Sangat Menarik Menarik Cukup Menarik Kurang Menarik

34 Komentar


bahagia
19-07-2012 18:30:48
Marhaban ya ramadhan.......mohon maaf lahir bathin muslimin wa muslimat ....alhamdulillah besok kita puasa semoga amal kita diterima oleh Allah.amin.............
kuyung aleh
19-07-2012 18:35:38
tolong buka ruang publik untuk konsultasi
abu zahid
19-07-2012 20:10:50
Puasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah “Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Hari puasa adalah hari ketika orangorang berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orangorang berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orangorang menyembelih‘” (HR. Tirmidzi 632, Ad Daruquthni 385) Dalam lafadz yang lain: “Kalian berpuasa ketika kalian semuanya berpuasa, dan kalian berbuka ketika kalian semua berbuka” (HR Ad Daruquthni 385, Ishaq bin Rahawaih dalam Musnadnya 238) Derajat Hadits At Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan gharib”. An Nawawi berkata: “Sanad hadits ini hasan” (Al Majmu’, 6283). Syaikh Al Albani berkata: “Sanad hadits ini jayyid” (Silsilah Ahadits Shahihah, 1440). Faidah Hadits Pertama: Puasa dan lebaran bersama pemerintah dan mayoritas orang setempat At Tirmidzi setelah membawakan hadits ini ia berkata: “Hadits ini hasan gharib, sebagian ulama menafsirkan hadits ini, mereka berkata bahwa maknanya adalah puasa dan berlebaran itu bersama Al Jama’ah dan mayoritas manusia”. Ash Shan’ani berkata: “Hadits ini dalil bahwa penetapan lebaran itu mengikuti mayoritas manusia. Orang yang melihat ru’yah sendirian wajib mengikuti orang lain dan mengikuti penetapan mereka dalam shalat Ied, lebaran dan idul adha” (Subulus Salam 272, dinukil dari Silsilah Ash Shahihah 1443) Al Munawi mengatakan: “Makna hadits ini, puasa dan berlebaran itu bersama Al Jama’ah dan mayoritas manusia” (At Taisiir Syarh Al Jami’ Ash Shaghir, 2106) Kedua: Urusan penetapan waktu puasa dan lebaran adalah urusan pemerintah As Sindi menjelaskan, “Nampak dari hadits ini bahwa urusan waktu puasa, lebaran dan idul adha, bukanlah urusan masingmasing individu, dan tidak boleh bersendiri dalam hal ini. Namun ini adalah urusan imam (pemerintah) dan al jama’ah. Oleh karena itu wajib bagi setiap orang untuk tunduk kepada imam dan al jama’ah dalam urusan ini. Dari hadits ini juga, jika seseorang melihat hilal namun imam menolak persaksiannya, maka hendaknya orang itu tidak menetapkan sesuatu bagi dirinya sendiri, melainkan ia hendaknya mengikuti al jama’ah” (Hasyiah As Sindi, 1509). Hal ini juga didukung oleh dalil yang lain yang menunjukkan bahwa urusan penetapan puasa dan lebaran adalah urusan pemerintah. Sebagaimana yang dipraktekan di zaman Nabi. Sahabat Ibnu Umar berkata: “Orangorang melihat hilal, maka aku kabarkan kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bahwa aku melihatnya. Lalu beliau memerintahkan orangorang untuk berpuasa” (HR. Abu Daud no. 2342, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud) “Ada seorang sambil menunggang kendaraan datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ia bersaksi bahwa telah melihat hilal di sore hari. Lalu Nabi memerintahkan orangorang untuk berbuka dan memerintahkan besok paginya berangkat ke lapangan” (HR. At Tirmidzi no.1557, Abi Daud no.1157 dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud) Hadits Ibnu Umar di atas menunjukkan bahwa urusan penetapan puasa diserahkan kepada pemerintah bukan diserahkan kepada masingmasing individu atau kelompok masyarakat. Ketiga: Persatuan umat lebih diutamakan daripada pendapat individu atau kelompok Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah menuturkan: Ketentuan seperti inilah yang layak bagi syariat yang samahah ini yang salah satu tujuannya adalah persatuan ummat dan bersatunya mereka dalam satu barisan, serta menjauhkan segala usaha untuk memecah belah umat dengan adanya pendapatpendapat individu. Pendapatpendapat individu (walaupun dianggap benar), dalam perkara ibadah jama’iyyah seperti puasa, shalat jama’ah, pendapatpendapat itu tidak teranggap dalam syariat. Tidakkah anda lihat para sahabat Nabi bermakmum kepada sahabat yang lain? Padahal diantara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh kemaluan, keluar darah adalah pembatal wudhu sedangkan sebagiannya tidak berpendapat demikian. Sebagian mereka ada yang shalat dengan rakaat sempurna ketika safar, dan ada yang mengqashar. Namun ikhtilaf ini tidak membuat mereka enggan bersatu dalam satu shaf shalat dan menjadi makmum bagi yang lain dan tetap menganggap shalatnya sah. Itu karena mereka mengetahui bahwa berpecahbelah dalam masalah agama itu lebih buruk daripada kita menyelisihi sebagian pendapat. Pernah terjadi di antara mereka, sebuah kasus adanya sahabat yang enggan mengikuti pendapat imam yang berkuasa dalam sebuah masyarakat yang besar di Mina. Bahkan sampai ia enggan beramal dengan pendapat sang imam secara mutlak karena khawatir terjadi keburukan jika beramal sesuai dengan pendapat sang imam. Abu Daud (1307) meriwayatkan أن عثمان رضي الله عنه صلى بمنى أربعا، فقال عبد الله بن مسعود منكرا عليه: صليت مع النبي صلى الله عليه وسلم ركعتين، ومع أبي بكر ركعتين، ومع عمر ركعتين، ومع عثمان صدرا من إمارته ثم أتمها، ثم تفرقت بكم الطرق فلوددت أن لي من أربع ركعات ركعتين متقبلتين، ثم إن ابن مسعود صلى أربعا! فقيل له: عبت على عثمان ثم صليت أربعا؟ ! قال: الخلاف شر ‘Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu shalat di Mina empat raka’at. Maka Ibnu Mas’ud pun mengingkari hal ini dan berkata: “Aku pernah shalat bersama Nabi Shallallahu’alahi Wasallam dua raka’at (diqashar), bersama Abu Bakar dua raka’at, bersama Umar dua rakaat, dan bersama ‘Utsman di awal pemerintahannya, beliau melakukannya dengan sempurna (empat raka’at, tidak diqashar). Setelah itu berbagai jalan (manhaj) telah memecah belah kamu semua. Dan aku ingin sekiranya empat raka’at itu tetap menjadi dua raka’at. Namun setelah itu Ibnu Mas’ud shalat empat raka’at. Ada yang bertanya: ‘Ibnu Mas’ud, engkau mengkritik Utsman namun tetap shalat empat raka’at?’. Ibnu Mas’ud menjawab: ‘Perselisihan itu buruk’” Keempat: Isyarat tentang adanya perselisihan umat dalam masalah penetapan puasa Hadits di atas juga merupakan isyarat dari Nabi bahwa akan ada orang dan kelompokkelompok yang menyelisihi petunjuk Nabawi dalam penentuan waktu puasa. Al Mubarakfuri berkata: “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini, maknanya adalah kabar bahwa manusia akan terpecah menjadi kelompokkelompok dan menyelisihi petunjuk Nabawi. Ada kelompok yang menggunakan hisab, ada kelompok yang berpuasa atau berwukuf lebih dulu bahkan mereka menjadikan hal itu syi’ar kelompok mereka, merekalah bathiniyyah. Namun yang selain mereka adalah mengikuti petunjuk Nabawi, yaitu golongan orangorang yang zhahir ‘alal haq, merekalah yang didalam hadits di atas disebut an naas, merekalah as sawaadul a’zham, walaupun jumlah mereka sedikit”. (Tuhfatul Ahwazi, 3313) Jika Pemerintah Menggunakan Metode Hisab? Syaikh Dr. Saad asy Syatsri, mantan anggota Lajnah Daimah dan Haiah Kibar Ulama KSA, mengatakan, “Seandainya penguasa di sebuah negara menetapkan hari raya berdasarkan hisab maka apa yang seharusnya dilakukan oleh rakyat ketika itu?” Hal ini diperselisihkan oleh para ulama. Mayoritas ulama mengatakan hendaknya rakyat mengikuti keputusan pemerintah. Dosa ditanggung pemerintah sedangkan rakyat bebas dari tanggung jawab terkait hal ini. Alasan mayoritas ulama adalah karena dalildalil syariat memerintahkan dan mewajibkan rakyat untuk mentaati pemerintah. Dengan demikian, gugurlah kewajiban rakyat dengan mentaati keputusan pemerintah dan tanggung jawab di akhirat tentang hal ini dipikul oleh pemerintah. Sedangkan Imam Malik berpendapat bahwa jika pemerintah menetapkan hari raya berdasarkan hisab maka keputusannya tidak ditaati sehingga rakyat berhari raya sebagaimana hasil rukyah yang benar. Rakyat tidak boleh beramal berdasarkan keputusan pemerintah tersebut. Imam Malik mengatakan bahwa alasannya adalah adanya ijma ulama yang mengatakan bahwa hisab tidak boleh menjadi dasar dalam penetapan hari raya dan dalildalil syariat pun menunjukkan benarnya hal tersebut. Dalam kondisi tidak taat kepada pemerintah tidaklah bertentangan dengan berbagai dalil yang memerintahkan rakyat untuk mentaati pemerintah dalam kebaikan semisal hadits إنما الطاعة في المعروف ‘Ketaatan kepada makhluk itu hanya berlaku dalam kebaikan’ dan hadits: لا طاعة لمخلوق في معصية الله ‘Tidak ada ketaatan kepada makhluk jika untuk durhaka kepada Allah’ Kesimpulannya, yang tepat pendapat mayoritas ulama dalam masalah ini itu lebih kuat dari pada pendapat Imam Malik. Sehingga wajib bagi rakyat untuk mengikuti keputusan pemerintah terkait penetapan hari raya sedangkan dosa menjadikan hisab sebagai landasan penetapan hari raya itu ditanggung oleh pemerintah yang memutuskan hari raya berdasarkan hisab” (Di kutip dari blog ustadz aris munandar) — Penulis: Yulian Purnama Artikel Muslim.Or.Id
Mas
19-07-2012 20:20:00
Ternyata imam masjid istihlal perlu dipertanyakan pemahaman islamnya, kok bisa jadi imam ya...
sijangkung
19-07-2012 20:47:21
Sebagai masyarakat awam, perbedaan waktu mulai puasa ataupun idul fitri antara satu negara dengan negara lain mungkin saja masih bisa diterima. Namun jika perbedaan tersebut terjadi di dalam satu kampung atau satu rumah tangga lebih cenderung akan menyebabkan perpecahan. Muhamdiyah, NU, ataupun ormas Islam yang lain, cobalah untuk bersatu, sebab kalian tidak tinggal dinegara yang berbeda, tetapi berada dalam satu negara yang sama Indonesia.
sijangkung
19-07-2012 20:48:32
Sebagai masyarakat awam, perbedaan waktu mulai puasa ataupun idul fitri antara satu negara dengan negara lain mungkin saja masih bisa diterima. Namun jika perbedaan tersebut terjadi di dalam satu kampung atau satu rumah tangga lebih cenderung akan menyebabkan perpecahan. Muhamdiyah, NU, ataupun ormas Islam yang lain, cobalah untuk bersatu, sebab kalian tidak tinggal dinegara yang berbeda, tetapi berada dalam satu negara yang sama Indonesia.
erwin fafri
19-07-2012 20:51:49
sidang isbat adalahh lembaga kesepakan,tidak mau menerima sumpahh seseoragg yang sdh melihatt hilal,karena ada 4 saksi yang melihat hilall dicakunggg,tapi mentri agama tdk mau menerima hilal,jayalahhh muhammadiyahh
Deqhie J. Rasyid
19-07-2012 21:20:17
Yang saya yakini adalah sesuai hadis bahwa penentuan awal bulan ditentukan ketika manusia dapat melihat bulan secara langsung pada saat cuaca bagus. Bila cuaca tidak memungkinkan untuk melihat secara langsung barulah kita menggenapkan bulan sebelumnya. Saya hanya ingin bertanya 1 hal.... brp derajat sebenarnya bulan dpt terlihat secara langsung ketika kondisi cuaca bagus? Terima kasih.
Cak Waras
19-07-2012 21:56:47
sebagai orang awam sangat prihatin , mengapa ya elit muhammadiyah kok egois kalo emang beda, sampaikan aja pada waktu sidang isbat, jangan diumumkan dulu ke umat, biar umat bisa tenang. aku kira kalau seperti saat ini jelas kurang bagus untuk ukhuwah islamiyah.
irsan.
19-07-2012 22:23:18
tahun 2011 yg lalu ada beberapa saksi yg telah disumpah telah melihat hilal, tapi ditolak oleh pemerintah. begitupun tahun ini. akan jadi pertanyaan sebenarnya kelompok yang mana yg di dengar oleh pemerintah? Alhamdulillah kami selalu yakin dengan muhammadiyah
Doel Al Buchari
19-07-2012 23:25:51
Apa yang dikatakan Bang Din, bahwa kehadiran PP Muhammadiyah di setiap sidang itsbat penentuan Ramadhan, Syawwal dan Dzulhijjah: adalah bagai sebuah pertemuan yg Basa Basi.......memang benar. Sudah saat nya warga persyarikatan menyatakan tidak utk tidak {SEPAKAT UNTUK TIDAK BERSEPAKAT}terhadap penerimaan hasil dagelan atau rekayasasudah disiapkan hasilnya penetapan Menteri Agama. Majelis itu bukan arena kita sebenarnya, karena buat apa ikut tapi sebenarnya kita tidak ikut serta.... ALLAHU AKBAR
sisworo
20-07-2012 03:00:20
saya setuju pemerintah membuat undang 2 penentuanhari raya,.. asal juga membuat undang2 agama yang benar adalah islam gutu........hehheh
Wusono Teguh
20-07-2012 04:35:42
on harus kita yakini bahwa kebenaran itu kadangkadang kurang bisa diterima oleh orang lain. demi Allah kita puasa hari jum`at 20 juli
tohar fauzi
20-07-2012 05:36:46
Mudah2an bukan hanya WaTonSuloyo
Zaenudin zeta saputra
20-07-2012 07:00:45
Setiap tahun, perbedaan dalam menetapkan awal Ramadhan dan lebaran selalu menajdi perbincangan hangat.......Tanpa di sadari, hal ini akan membuat ummat menjadi kerkatungkatung dalam kebingungan, mana yang harus mereka ikuti.....Inilah salah satu dampak negatif dari adanya kelompokkelompok atau ormasormas dalam Islam. Dari sini nampak jelas bagi kita mengapa Allah dan RasulNya sangat melarang dan mencela perpecahan serta membuat kelompokkelompok...............
Zaenudin zeta saputra
20-07-2012 07:01:34
Setiap tahun, perbedaan dalam menetapkan awal Ramadhan dan lebaran selalu menajdi perbincangan hangat.......Tanpa di sadari, hal ini akan membuat ummat menjadi kerkatungkatung dalam kebingungan, mana yang harus mereka ikuti.....Inilah salah satu dampak negatif dari adanya kelompokkelompok atau ormasormas dalam Islam. Dari sini nampak jelas bagi kita mengapa Allah dan RasulNya sangat melarang dan mencela perpecahan serta membuat kelompokkelompok...............
indrio
20-07-2012 08:58:30
Alhamdulillah....hari ini aku masih dikasih kesempatan berpuasa ramadhan oleh ALLAH SWT. Semoga tahun depan juga tetap dikasih kesempatan....Amin
Sutarman
20-07-2012 09:30:14
Sebaiknya Muhammadiyah mengikuti saja sidang isbat kalau diundang, sidang isbat sifatnya menampung pendapat dari ormasormas Islam, bukan sidang untuk menghukummengucilkan salah satu atau lebih Ormas Islam yang tidak setuju keputusan sidang isbat. Karena dalam sidang isbat menurut hemat kami tidak ada yang kalah dan yang menang karena tidak dilakukan foting terbuka, yang menang, walaupun hanya sendirian tidak dianggap kalah. Hari raya bagi umat Islam hukumnya sunah bukan wajib, tidak melaksanakan dua hari raya Idhul Fitri dan Idhul Adha tidak berdosa. Beragama adalah hak individu yang paling asasi (hak dari orang per orang) berorganisasipun juga hak individu, mereka yang sudah masuk organisasipun mau keluar sewaktuwaktu bebas. Usulan imam Masjid Istiqlal bisa diterapkan kalau Negara memberlakukan Hukum Islam secara kafah, kita sudah sepakat Negara berdasarkan Panca Sila, beragama apapun bebas. Kalau yang sunah saja ada Undangundangnya apalagi yang wajib. Shalat, puasa, zakat dan haji itu hukumnya wajib. Nanti bagi orang Islam tidak shalat 5 waktu ditangkap, di pengadilan mudah mencari saksi bahwa mereka tidak shalat 5 waktu; Orang yang kekayaannya sudah sampai nisob wajib membayar zakat, tidak membayar zakat diadili; Orang yang mampu haji tidak mau berhaji diadili ; Yang agak sulit menangkap orang yang tidak melaksanaka puasa baik puasa wajib atau sunah, puasa tidak puasa tidak nampak, tampaknya lemas ternyata tidak puasa, tampaknya tegar ternyata berpuasa, karena niat berpuasa pekerjaan hati. Mohon maaf kepada siapa saja kalau komentar kami tidak berkenan dan semoga Allah mengampuni dosadosa kita. Indonesia menjadi negara yang adilmakmur dibawah lindungan Allah SWT. Wallahu alam.....
arie
20-07-2012 10:01:52
mnurut sy kputusn ny kurg bijksana n tllu arogan.sbb umat islam membutuhkan kebersamaan n kedamaian.dan terlalu berbau politik.algkh baik nya mencari jl keluar spy bs bersama n bersatu
M.Amirudin
20-07-2012 10:37:35
Bingung juga melihat perbedaan pendapat masalah penentuan hari raya, yang saya bingungkan lagi pemerintah, kenapa waktu ramadhan dan 1 syawal sering ada perbedaan, tetapi kalo 10 dzulhijjah selalu sama, saya hanya membayangkan jika pemerintah beda dalam menentukan 10 dzulhijjah dengan arab, itu pasti bakalan jadi bahan tertawaan..
muchtar sangaji
20-07-2012 17:33:33
Sejarah Islam telah bercerita bahwa memang ada saja teologi pemahaman yang digunakan oleh Pemerintah , jadi kalau pemerintah memakai salah satu pemahaman itu wajarwajar saja karena pasti konsekuensinya setelah itu, yang paling utama adalah keilmuan yang digunakan oleh Muhammadiya disebarkan kepada umat sehingga tidak salah paham sesama umat , dan yang paling utama lagi adalah kita samasama menunjukkan perilaku baik dalam perbedaan
Surya Winarna
20-07-2012 17:53:06
Alhamdulillah Muhammadiyah lebih modern dan maju serta intelek semoga dapat diikuti ummat manusia yang berpikiran modern dan berwawasan ilmu pengetahuan yang luas dan semakin berkembang.
M.Husain Toib A
20-07-2012 20:21:41
Penentuan awal bulan romadhon merupakan khilafiyah yang harus di hormati. di situ ada hak asasi masnusia dalam menjalankan keyakinan agamanya, oleh karena itu pemerintah hendaknya menjaga dan melindungi keanekaragaman yang terjadi dalam menentukan awal bulan romadhon. methode penentuan awal bulan romadhon merupakan salah satu ilmu khazanah Islam yang harus kita gali bersamasama dalam merangka mensyukuri nikmat Allah Swt yang berupa akal fikiran sehat.
rigtra
20-07-2012 22:45:09
pemerintah Indonesia memang masih konvensional _
Nansy
21-07-2012 16:57:40
Abdi mah atiullaha waatiurrasul waulilamri minkum.... insyaallah
alexs
21-07-2012 23:35:58
Banyak masyarakat yg blum mngetahui apa rukyatul hillal dan hisab hakiki.. Mohon d jelaskan carametode rukyatul hilal dan hisab moderen.. Supaya masyarakat bisa menerima perbedaan dan menjalankan ibadah dg kyakinan hati dan dg pengtahuan... Bukan hanya mngikuti suatu golonganpimpinan tanpa mengetahui ilmunya... Jangan kmu mengikuti sesuatu tanpa mengetahui ilmunya trimaksih wasalammualaikum...
harun
22-07-2012 11:51:37
muhammadiyah mengutamakan akhirat bukan duniawi semata, insyallah allah meredhoi.........qililhaq walawkanamurron.
AKHSANUL KHOLIQ
23-07-2012 07:27:43
Mengikuti yang melihat bulan dari AlHusniyahCakung Jakarta, seperti putusan PP Muhammadiyah. Tidak Mengakui Orang telah melihat hilal yang sudah di bawah sumpah sama saja bertentangan dengan sabda nabi saw. Mengakui yang tidak melihat hilal karena banyak pendukung sama saja mengikuti kesepakatanijtihat yang tidak berdasarkan sabda nabi saw.
adrian yusuf
23-07-2012 10:27:33
Askm. Rekan muhammdiyah, saya ada pertanyaan terkait dengan penentuan awal Ramadhan dan mohon dijawab dengan jujur. Apabila anda sedang tinggal di Mekkah Arab Saudi, dan terjadi perbedaan dalam penentuan awal Ramadhan dan 1 Syawal dengan pemerintah Arab Saudi, apakah kalian akan mengikuti pemerintah atau tetap berkeyakinan sesuai dengan perhitungan hisab kalian? http:www.hidayatullah.comread2364213072012menyikapiperbedaandalammenentukanawaldanakhirramadhan.html
Imam FS
23-07-2012 16:36:32
Ass, salut atas uraian penetapan ramadhan di atas, maju terus demi tegaknya agama Allah SWT, meski hanya simpatisan aku selalu mengamati perkembangan ormasormas Islam, tak terkecuali Muhammadiyah. Idul fitri kemaren aku ikut shalat ied di masjid muhammadiyah meski agak jauh dari rumah, ramadhan ini aku berpuasa sesuai dengan penetapan PP Muhammadiyah. Lanjutkan perjuanganmu ....!
Mastur
27-07-2012 19:38:05
Keputusan yang tepat buat Muhammadiyah untuk tidak ikut sidang istbat , sidang istbat cuma menghamburkan uang negara ( Pemborosan ) . yang membuat orang awam menjadi bingung sebenarnya sikap dan komentar yang provokatif dari para peserta sidang istbat ( khususnya yang berpegang pada ruyat ) . masak urusan keyakinan memakai votting . hargailah kami yang meyakini awal romadhon jatuh pada hari jumat 20 Juli 2012 .
Iman Arif K
30-07-2012 09:19:01
Dalam masalah ijtihadiah sebaiknya kita mengikuti keputusan pemerintah. Silahkan baca artikel di ustadzaris.com, artikel ramadhan.
setya ariz
31-07-2012 10:36:52
EA tolong klo bisa tempat buat tanya jawab gitu..
dani
16-08-2012 19:25:28
buat Muhammadiyah setiap ada perbedaan hari puasa atau hari raya sebaiknya buat semacam surat edaran kepada anggotanya seluruh Indonesia untuk menghormati dan tidak membahas keyakinan orang lain. karena sdh 25 thn sy tinggal di lingkungan yg bkn Muhammadiyah tak pernah ada yang membahas tapi baru 3 thn tinggal dlingkungan Muhammadiyah sering saya menemukan orangorang yang suka membahas. dikhawatirkan bisa menimbulkan perpecahan sesama ummat Islam.

Beri Komentar


iklan

Berita Terpopular

Yogyakarta- Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan sikap  menolak gerakan dan faham lslami ... selengkapnya
Jakarta – Kalau ada apa-apa keterlibatan kita dilingkaran manapun, sosial maupun politik ya ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Jika kita terus bekerja dengan rajin disertai kesungguhan, kemauan keras, dan kesadaran tugas yang tinggi, maka Insya Allah, Tuhan akan memberi jalan dan pertolongan-Nya akan segera tiba.
[KH. Ahmad Dahlan]
iklan