Rabu, 19 September 2018
Home/ Berita/ Mahasiswa UMM Olah Limbah Tahu Menjadi Pupuk Organik

Mahasiswa UMM Olah Limbah Tahu Menjadi Pupuk Organik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MALANG - Generasi muda dituntut untuk bisa memiliki semangat tinggi dalam mencipatakan berbagai inovasi, khususnya yang dapat mendukung kebutuhan manusia sesuai dengan kondisi terkini bahkan masa yang akan datang.

Adalah Nasihul Mukmin dan Sarabila Karima, mahasiswa  Program Studi (Prodi) Agribisnis dan Prodi Agroteknologi Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Keduanya menciptakan inovasi yang diberi nama Vegedrilla.

Vegedrilla merupakan inovasi yang terdiri dari kombinasi pemanfaatan limbah tahu sebagai pupuk organik bagi tanaman microgreen, hydrilla dan juga hidrogel. 

Nasihul mengatakan bahwa ide inovasi yang mereka buat berawal dari keresahan akan fenomena alih fungsi lahan yang mengakibatkan terbatasnya ruang untuk menanam tanaman. “Kami juga mendapatkan data bahwa konsumsi sayuran mengalami peningkatan. Oleh karena itu kami berfikir bagaimana caranya bisa menciptakan inovasi yang sesuai dengan kedua kondisi tersebut,” urainya.

Ia menambahkan, hasil dari pengolahan limbah tahu menjadi pupuk organik dirasa cocok dan terbukti mampu meningkatkan nilai nutrisi tanaman yang menggunakan pupuk tersebut. “Microgreen yang merupakan salah satu jenis tanaman konsumsi bisa memiliki nutrisi yang lebih tinggi bila menggunakan pupuk organik dari limbah tahu ini,” tambahnya.

Tak hanya inovatif, terobosan ini juga berhasil terpilih sebagai Juara 1 dalam ajang Agrifasco 2018 yang diadakan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Januari lalu. Tim UMM berhasil menjadi juara setelah mengalahkan berbagai inovasi lain dari seluruh universitas di Indonesia yang berpartisipasi dalam ajang tersebut.

“Dari 10 finalis yang presentasi alhamdulillah akhirnya UMM yang keluar sebagai juara. Disusul Universitas Tanjung Pura dan Universitas Gajah Mada di tempat ketiga,” ungkap Nasihul bangga.

Raihan ini tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Dosen pendamping tim LKTI ini, Erfan Dani Septia, SP, MP, mengakui bahwa capaian mahasiswanya ini merupakan hasil yang luar biasa. Meskipun juara bukanlah target utama, namun hasil ini menjadi bonus usaha yang selama ini dilakukan.

“Saya selalu menekankan pada mahasiswa bahwa yang terpenting adalah kita bisa berproses dengan baik. Soal bagaimana hasilnya nanti itu sekedar bonus saja,” tuturnya.

Erfan menambahkan bahwa karya mahasiswanya ini dianggap sebagai salah satu bentuk inovasi tepat guna oleh juri. Faktor tersebut yang akhirnya menjadi nilai plus pada saat sesi penilaian.

“Itu jugalah yang akhirnya membawa mahasiswa UMM keluar  sebagai juara,” pungkasnya. (humas UMM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *