Rabu, 17 Oktober 2018
Home/ Berita/ Ketika Pak AR Dipaksa Menjadi Dukun

Ketika Pak AR Dipaksa Menjadi Dukun

Suatu hari, Pak AR kedatangan tamu. Tamu itu menyatakan bahwa anaknya sakit dan sudah berobat berkali-kali kok tidak sembuh. Katanya lagi, tamu itu bermimpi kedatangan orang berbaju putih dan menyatakan bahwa  kalau anaknya ingin sembuh supaya dimintakan air putih kepada Pak AR untuk diminum.

Pak AR : ”Kok seperti cerita dalam wayang saja. Saya tidak bisa mengobati dan saya bukan dukun, bukan tabib”

Tamu: “Ya, tapi saya disuruh minta kepada Pak AR, untuk minta air putih. Apa tidak boleh?” kata tamu itu.

Pak AR: “Ya, kalau air putih saya punya banyak, wong sumur disini tidak pernah kering. Air di sini ini tidak bisa untuk obat kecuali  untuk tombo ngelak (obat haus). Kalau Bapak haus, dan minum air sumur sini bisa hilang hausnya” kata Pak AR.

Tamu: “Begini saja, saya minta air putih dari Pak AR, sedikit saja” pinta tamu itu.

“Ya begini” kata pak AR.

“Bapak saya beri air putih, terserah mau berapa banyak, satu ember, dua ember juga boleh tapi, kesatu,jangan ada kepercayaan yang bukan-bukan, apa lagi ada kepercayaan bahwa saya bisa menyembuhkan, kedua jangan ada kepercayaan bahwa air dari sini bisa menyembuhkan,  ketiga, supaya Bapak tahu bahwa yang bisa menyembuhkan putra Bapak itu hanya Allah saja. Keempat, supaya Bapak terus berobat ke dokter dan kelima, supaya Bapak berdoa memohon kepada Allah SWT, agar anak Bapak bisa segera sembuh, karena hanya Allah yang bisa menyembuhkan.  Nah, sekarang silahkan Bapak ambil air mau berapa ember terserah” kata Pak AR.

E, kira-kira sebulan, tamu itu datang lagi sambil membawa buah salak dan menyampaikan terima kasih, karena anaknya sudah sembuh. “Anak Bapak, Bapak bawa ke dokter tidak? “ tanya Pak AR.

“Ya”, jawab orang itu.

“Bapak berdoa kepada Allah tidak?” tanya Pak AR lagi.

“Ya” kata orang itu.

“Ya itu yang menyembuhkan”;  kata Pak AR.

“Tapi, saya tetap terima kasih pada Pak AR” kata orang itu.

“Saya terima kasih atas pemberian salaknya” kata Pak AR.

Sumber: Suara Muhammadiyah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *