Minggu, 24 Juni 2018
Home/ Berita/ Mahasiswa Unisa Yogyakarta Kembangkan Aplikasi Healthcare Geo Information System

Mahasiswa Unisa Yogyakarta Kembangkan Aplikasi Healthcare Geo Information System

MALAYSIA, MUHAMMADIYAH.OR.ID — Mahasiswa Program Studi Teknologi Informas Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menciptakan sebuah aplikasi Healthcare Geo Information System yang dapat membantu tenaga kesehatan atau petugas rumah sakit memahami masalah kesehatan.

Aplikasi tersebut sukses meraih medali di ajang International Festival of Innovation On Green Technology 2018 (i-finog) di Malaysia, baru-baru ini.

Kompetisi yang diadakan oleh Universiti Malaysia Pahang (UMP) ini diikuti perwakilan dari beberapa negara, termasuk Indonesia.

Prodi Teknologi Informasi yang beranggotakan Amalia Nur Afifah, Zaenal Achmad Raihan, serta Muhammad Nur Kamil Almubaroq membawa pulang medali perak Class E (ICT, Multimedia, Telecommunication, Computer Sciences, Electricity and Electronic and Games) dengan karyanya yang berjudul "Healthcare Geo Information System".

“Tidak banyak waktu kita dalam menyiapkan aplikasi tersebut, ya kurang lebih hanya dua minggu. Karena informasi perlombaan juga  yang begitu mepet dengan waktu tutupnya pendaftaran” ujar Amalia saat dihubungi redaksi, Selasa (22/5).

Amalia menambahkan tujuan dan fungsi aplikasi yang mereka buat untuk membantu petugas rumah sakit, pemerintahan dan instansi terkait dalam mendata data diri dan masalah-masalah kesehatan pada masyarakat sesuai posisi yang mendata.

“Nanti data tersebut ditampilkan dalam bentuk titik point di google maps pada website yang sudah kita buat. Sehingga petugas kesehatan , pemerintahan dan instansi terkait dapat melihat dengan gampang banyaknya masalah kesehatan di tiap-tiap daerah”, jelasnya.

Amalia menjelaskan bahwa ini merupakan pengalaman yang luar biasa, tidak pernah membayangkan bisa berangkat ke negeri orang lainuntuk mengikuti lomba Internasional.

“Kami hanya memperdalam ilmu nekat, apa yang kita hadapi didepan ya kami harus lawan. Walaupun dengan bahasa Inggris dan bahasa melayu yang masih terbata-bata dan sudah kursus selama tiga hari, sungguh sulitnya bukan main dalam memperdalam dua bahasa tersebut dengan waktu yang sesingkat itu”, pungkasnya.(dzar)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *