Rabu, 22 Agustus 2018
Home/ Berita/ Kartini Zaman Now

Kartini Zaman Now

 
Oleh: Norma Sari 
(Dosen FH UAD, aktif di PP ‘Aisyiyah dan ICMI DIY)
 
Membincang Kartini di era millenial menjadi kajian hangat karena gerak lintasan zaman telah membawa masyarakat pada kondisi yang serba berubah dalam tempo berlipat lebih cepat. Kartini dalam tulisan ini adalah salah  potret perempuan pejuang Indonesia tanpa menafikan pejuang lainnya yang sangat kontributif membangun negeri. Kartini telah berpulang tahun 1904. Hari ini kita berefleksi pergulatan Kartini pada eranya untuk kemudian menemukan relevansinya pada zaman now dan next.
 
Pertama, transformasi pingitan. Sewaktu dalam pingitan Kartini banyak menghabiskan waktunya untuk membaca buku dan majalah serta memasang iklan menawarkan diri sebagai sahabat pena untuk perempuan Eropa. Tradisi pingitan dimaknai penulis  untuk mempersiapkan pernikahan dan bangun keluarga sekaligus mengurangi resiko dari hal-hal yang buruk, bukan sekedar tidak keluar dari rumah. Akan tetapi bagaimana perempuan untuk dipersiapkan sebaik mungkin sebagai calon pengantin, istri sekaligus ibu agar kelak menjadi perempuan tangguh dan melahirkan generasi kuat. Menjalani training pernikahan pada fase pingitan menjadi kebutuhan untuk menuju keluarga tangguh. Metode dan pendekatan dapat disesuaikan salah satunya degan sentuhan teknologi. Laki-laki juga terlibat dalam pelatihan, karena penopang keluarga adalah suami dan istri. 
 
Kedua, tradisi Literasi. National Institute for Literacy, mendefinisikan literasi sebagai "Kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat." Definisi berperspektif lebih kontekstual meliputi keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu. Kartini telah memulai dengan banyak membaca (diantaranya De Locomotief dan Leestrammel), berefleksi, berkorespondensi, dan juga menulis (dimuat di De Hollandsche Leli).  Dari sana beliau berkeinginan untuk memajukan pemikiran perempuan dengan cara memberikan pendidikan yang layak bagi mereka. Literasi Kartini juga terlacak dengan belajar bahasa Perancis selain bahasa Belanda. Hal ini menunjukkan pengetahuan bahasa sebagai modal menyebarluaskan ide-idenya, sebuah ketrampilan yang tidak lagi layak ditawar dengan berbagai alasan oleh perempuan masa kini.
 
Ketiga, memperdalam agama. Kartini pada zamannya bergolak pemikiran tentang Islam.  Sikap kritis atas kondisi kehidupan beragama di sekelilingnya mendekatkan Kartini untuk mengenal lebih dalam ajaran Islam. Beliau sangat antusias membahas agama dibuktikan dengan bercerita tentang teman-temanya masalah agama yang dianutnya.  Pola diskusi dikembangkan dengan seorang tokoh Kiyai Sholeh Darat menggambarkan bahwa ruang pemahaman agama dibangun secara dialogis. Semangat ini yang mestinya masih diteruskan oleh Kartini zaman now, mengkaji ajaran agama agar mendapat pemahaman lebih mendalam dan tidak mudah menjustifikasi tanpa dasar agamanya sendiri maupun agama orang lain.
 
Keempat, kemitraan dalam perjuangan. Emansipasi perempuan yang diusung tidak lepas dari dukungan laki-laki di sekelilingnya. Kartono kakaknya adalah priyayi terhormat yang berilmu tinggi banyak menawarkan buku untuk dibaca. Sang suami Buapti Rembang memberi kebebasan mendirikan sekolah perempuan. Makna yang tersirat adalah,  perjuangan kaum perempuan harus melibatkan laki-laki sebagai mitra.
 
Atas refleksi tersebut, “PR” Kartini masa kini adalah melawan ketidakadilan perempuan dalam relasi gender berupa patriarkhi dan seksime di ruang domestikdan publik pada bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Kaum perempuan memahami ketidakadilan melalui proses roses refleksi. Bukan justru bersikap kamuflase seperti menikmati, membiarkan, atau justru menjadi pelaku ketidakadilan. Langkah selanjutnya  adalah bergerak mengadvokasi kaum perempuan bukan hanya di lingkar perempuan. Gerakan melintas dipilih karena masalah ketidakadilan, patriarkhi dan seksisme bukan hanya masalah perempuan, namun sebagai persoalan bersama masyarakat dalam membangun peradaban. Melawan patriarkhi bukan berarti melawan laki-laki. Tapi melawan pikiran dan tindakan yang mendudukkan perempuan sebagai subordinat. Mengangkat harkat dan martabat perempuan bukan berarti merendahkan laki-laki, tapi menematkan pada posisi yang semestinya. 
 
Menjadi kartini zaman now adalah menjadi sosok perempuan berkemajuan. Berorientasi ke depan, mengantisipasi isu-isu berkembang, berinovasi ilmu dan teknologi, menggunakan informasi secara cerdas, melakukan aksi-aksi responsif dan antisipatif, berdayajuang dan berdaya saing, serta mengedepankan meritrokasi didampingi aksi akselerasi. Sifat gerakan advokasi yang dibangun adalah dinamis, responsif, memberdayakan, cara berpikir outward looking, gemar melakukan kerja-kerja untuk kebaikan publik. 
 
Foto: Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *