Minggu, 27 Mei 2018
Home/ Berita/ Buya Syafi’i Menekankan Pentingnya Umat Muslim di Indonesia Jeli Melihat Perbedaan antara Islam dan Arabisme

Buya Syafi’i Menekankan Pentingnya Umat Muslim di Indonesia Jeli Melihat Perbedaan antara Islam dan Arabisme

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA -  Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1998-2000 dan 2000-2005, Ahmad Syafi’i Ma’arif merasa pesimis bahwa krisis di dunia Arab akan segera selesai. Dengan kata lain, Syafi’i Ma’arif optimis bahwa masa depan Islam bisa saja muncul dari negara Islam non Arab seperti Indonesia.

Dalam talkshow dan bedah buku yang dikarangnya berjudul “Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam” di Jakarta Convention Centre, Kamis (19/4) itu Buya Syafi’i, sapaaan akrab Syafi’i Ma’arif menyoroti bahwa yang menjadi akar krisis yang muncul di dunia Arab adalah Arabisme.

“Kita harus jeli membedakan mana Arabisme dan mana Islam. Dalam pembacaan saya, ISIS, Boko Haram, dan lain-lain adalah warisan dari masa lalu. Setelah Perang Siffin, lahir tiga kelompok besar seperti Sunni, Syi’ah dan Khawarij yang muncul tidak ada sama sekali kaitannya dengan Al Quran dan Nabi, tetapi justru muncul karena politik,” ungkapnya.

Buya Syafi’i menyayangkan umat Islam yang kehilangan nilai-nilai Islam ketika mulai berpolitik.

“Kenapa Perang Jamal dan Siffin tidak dihentikan dengan musyawarah, padahal ayatnya jelas. Wa aslihu bainahum, damaikanlah mereka. Sahabat Ustman, Ali dan yang lain dibunuh karena masalah perbedaan politik. Dinasti Abbasiyah ketika merebut kekuasaan juga membunuh semua orang Ummayah, kecuali satu yang berhasil kabur dan mendirikan Kerajaan di Andalusia. Padahal mereka sesama muslim,” sesal Syafi’i.

“Saat ini, banyak orang hafal Qur’an, tetapi kenapa sulit berperilaku sesuai ajaran Qur’an. Ayatnya jelas, ‘sesungguhnya sesama kaum muslimin adalah saudara’ tapi kenapa sulit melaksanakan?,” imbuhnya.

Arabisme, menurut Buya Syafi’i itu adalah tingginya sifat kesukuan atau kelompok, egoisme dan tidak mau mengalah seperti yang melekat dengan masyarakat Arab secara sosiologis.

“Kita tahu, Al Qur’an itu wahyu. Sifatnya mutlak benar. Manusia sifatnya nisbi, sehingga tafsir bersifat kemungkinan, bukan mutlak. Jadi jangan sampai memutlakkan tafsir atau pendapat seperti mutlaknya wahyu. Jika ada perbedaan tafsir, seharusnya kita diskusikan. Bukan menghukumi,” ujarnya.

Buya Syafi’i juga menekankan pentingnya umat muslim di Indonesia jeli melihat antara Islam dan Arabisme. Menurutnya secara sosiologis, Indonesia masih lebih baik dari Arab.

“Tapi ingat, permasalahan kita masih banyak. Sila ke lima Pancasila belum dijadikan pedoman dalam pembangunan negeri ini. Perlakuan politisi mengkhawatirkan, tetapi kita harus tidak tanggapi itu. Sebetulnya Indonesia dan Turki ada harapan, tapi kini ada perpecahan di Turki antara Gulen dan Erdogan,” ungkapnya.

Syafi’i Ma’arif dengan demikian merasa cukup optimis dengan peluang umat Islam di Indonesia membawa masa depan Islam ke arah yang lebih baik.

“Arabisme kita hindari, tapi idealisme Islam terus kita perjuangkan,” pungkasnya. (afandi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *