Jum'at, 16 November 2018
Home/ Berita/ Masa Depan Palestina Sangat Tergantung dengan Status Jerusalem

Masa Depan Palestina Sangat Tergantung dengan Status Jerusalem

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Pimpinan Pusat Muhammadiyah kembali menggelar pengajian bulanan pada Jum’at (5/1) malam. Bertempat di Aula KH Ahmad Dahlan gedung PP Muhammadiyah Menteng Raya, kali ini mengangkat tema “Masalah Jerusalem dan Masa Depan Palestina”.

Hadir sebagai narasumber dalam pengajian tersebut Wakil Duta Besar Palestina untuk Indonesia Taher Hamad, anggota Komisi I DPR RI Hanafi Ra’is, Wakil Menteri Luar Negeri RI AM Fachir dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

Dalam pengantarnya, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa permasalahan Palestina dari tahun ke tahun semakin kompleks dan tidak sederhana. Konflik yang sedang terjadi bukan semata-mata persoalan politik Palestina, tetapi juga menyangkut masalah kolonialisme di zaman negara-negara telah merdeka dan masalah pelanggaran kedaulatan Palestina sebagai sebuah negara.

Menurutnya, Indonesia sebagai negara yang berdaulat memiliki hubungan emosional yang kuat dengan perjuangan rakyat Palestina, lebih-lebih mengacu pada amanat konstitusi pada pembukaan UUD 1945.

Muhammadiyah sendiri secara khusus telah mengeluarkan sikap dan pandangannya terkait dengan isu Palestina yang terjadi akhir-akhir ini, yakni keputusan presiden Amerika Donald Trump untuk memindahkan kantor kedutaan Amerika untuk Israel di Jerusalem.

Pernyataan sikap Muhammadiyah mengambil pemaknaan secara teologis dari ayat 32 surat Al-Maidah. Empat poin yang ditegaskan sebagai sikap dan pandangan resmi oleh Muhammadiyah antara lain, 1) menentang keras sikap dan keputusan ceroboh Amerika Serikat, 2) mendesak negara-negara Timur Tengah bersikap tegas, solid dan superior secara politik terhadap Amerika dan Israel, 3) mendukung penuh sikap Pemerintah Indonesia, dan 4) menyerukan kepada semua umat beragama untuk menentang Zionisme.

Sementara itu, Wakil Duta Besar Palestina Taher Hamad berulangkali menyampaikan rasa terimakasih yang besar kepada rakyat Indonesia secara umum dan pemerintah Indonesia secara khusus. Aksi masa bertajuk Bela Palestina pada 2 Desember 2017 sampai langkah-langkah sigap yang telah diambil dan dilakukan oleh Presiden maupun Menteri Luar Negeri dianggapnya sangat maksimal dan memberikan dampak positif, baik secara moril maupun politis.

Taher menjelaskan bahwa merujuk pada dokumentasi sejarah, sebelum datangnya Yahudi di Palestina, ribuan tahun masyarakat Arab yang mendiami kawasan Palestina telah hidup secara berdampingan dan harmonis.

Taher mengamini Abdul Mu’ti yang menyampaikan bahwa piagam Elia yang diprakarsai oleh Umar bin Khattab dalam menjaga keharmonisan hidup antara kaum muslim dan Kristiani. Sementara itu Hanafi Ra’is mempertajam penyebab masalah yang terjadi pada Palestina.

“Sulit memastikan masa depan Palestina. Karena sebenarnya letak konflik Palestina dan Israel bukan terletak di Tel Aviv atau Jerusalem. Tetapi di Washington,” ujar Hanafi.

Sementara itu Wakil Menteri Luar Negeri AM Fachir menyampaikan sangat berterimakasih dan mengapresiasi Muhammadiyah terkait dengan tema yang diangkat dalam pengajian bulanan ini. Ia menyampaikan bahwa masalah Palestina sangat tergantung pada status Jerusalem. Kemenlu dan pemerintah Indonesia telah bekerja keras menginisiasi dukungan negara-negara di seluruh dunia untuk melawan keputusan ceroboh Amerika.

Proses panjang itu dilakukan secara diplomatik dan berhasil di sidang majelis umum PBB. “Pemerintah dan Muhammadiyah ‘seiya-sekata’ dalam hal penanganan masalah sosial dan kemanusiaan di luar negeri,” ujar Fachir.

Fachir juga berharap peran Muhammadiyah melalui Muhammadiyah Aid dapat dimaksimalkan dengan baik. “Mari salurkan kemarahan secara konkrit melalui saluran-saluran kemanusiaan yang ada di Muhammadiyah,” imbuhnya.(afandi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *