Minggu, 24 Maret 2019
Home/ Berita/ Syafi'i Maarif: Hamka Tidak Almarhum

Syafi'i Maarif: Hamka Tidak Almarhum

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA --Perpustakaan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar acara Bedah Buku Adicerita Hamka: Visi Islam Sang Penulis Besar untuk Indonesia Modern karya James R. Rush pada Kamis (28/12) di Auditorium Masjid Islamic Center UAD. Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama dengan Majelis Pustaka Informasi (MPI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY dan Majelis Tabligh PWM DIY.

Hadir dalam agenda tersebut Ahmad Syafii Ma’arif Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1995-2000, Yunahar Ilyas Ketua PP Muhammadiyah dan Nasir Tamara Ketua Persatuan Penulis Indonesia. Syafii saat mengisi agenda itu mengatakan, banyak sekali kebaikan yang bisa dijadikan teladan dari diri Buya Hamka. Sosok perangai yang tidak pernah berhenti belajar dan bisa berbaur dengan siapapun.

“Walaupun Hamka bukan manusia yang berijazah, tapi banyak hal besar yang berhasil dia lakukan untuk membawa perubahan. Sekalipun Hamka sudah tiada, sesungguhnya Hamka tidak almarhum, hal itu karena karya-karyanya tetap abadi dan dikenang,” ujarnya.

Syafii menambahkan, sosok Hamka adalah pribadi berjiwa besar dan pemikir bebas dalam pergulatan pencarian kebenaran. Dididik keras oleh ayah dan kakak iparnya, A.R Sutan Mansur, menjadikan Hamka sebagai tokoh yang dikenang hingga saat ini.

Kemudian Yunahar juga menambahkan, Hamka adalah sosok pencari kebenaran yang tidak pernah putus asa. Hal tersebut terlihat dari bagaimana Hamka membawa dirinya merantau dari tanah satu ke tanah yang lain.

“Berawal dari kekecewaannya terhadap ayahnya karena menceraikan ibunya, Hamka jadi suka merantau dan tidak betah di rumah. Hamka pernah merantau ke Bengkulu, Yogyakarta, Pekalongan, Medan dan kemudian ke Mekkah sambil menunaikan ibadah haji,” ujarnya.

Hamka mengakui bahwa saat ia di Yogyakarta, ia banyak mendapatkan ilmu tentang islam. Lalu ke Pekalongan dan tinggal bersama AR Sutan Mansur dan dididik dengan keras. Sedari belia, Hamka sudah menekuni hal yang ia suka, sampai itu menjadi bakatnya, yakni kemampuannya dalam menulis, mengarang dan menjadi penyair.

Sementara Nasir Tamara, mengatakan bahwa kecintaan Hamka terhadap buku menjadi peringatan tentang literasi di Indonesia saat ini. Nasir mengungkapkan bahwa Hamka adalah sosok yang mahir menggerakkan perubahan melalui karya, di samping Hatta dan Sukarno.

“Melalui narasi, Hamka bisa mengubah dunia. Hamka merupakan contoh teladan bagi literasi, terlihat dari dirinya yang amat bangga ketika mengakui dirinya sebagai penulis dan pengarang,” kata Nasir. (nisa)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *