Sabtu, 18 November 2017
Home/ Berita/ Berbicara di World Chinese Economic Summit, Din Paparkan Solusi Terhadap Kerusakan Peradaban Dunia

Berbicara di World Chinese Economic Summit, Din Paparkan Solusi Terhadap Kerusakan Peradaban Dunia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, HONGKONG - Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antar Agama dan Peradaban Din Syamsuddin menjadi pembicara pada The 9th World Chinese Economic Summit (Pertemuan Puncak Ekonomi China) di Hongkong,  pada Senin (13/11). Pertemuan tersebutmerupakan agenda tahunan para Tionghoa diaspora dari seluruh dunia, dan telah berlangsung sejak tahun 2008.

Pertemuan ini dihadiri 350tokoh Tionghoa diaspora, yang mayoritas terdiri dari para pengusaha. Pertemuan kali ini mengangkat tema "Managing Global Uncertainty, Exploring Opportunities".

Dinyang diundang dalam kapasitas sebagai Utusan Khusus Presiden, mendapat giliran menjadi salah seorang panelis pada Sesi Pertama membahas mengenai Amerika Serikat, China, dan Optimisme Menghadapi Ketakpastian Dunia.

Dalam pemaparannya Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2010 dan 2010-2015 mengatakan bahwa memang dunia tengah menghadapi bukan hanya ketakpastian, tapi juga kekacauan, dan kerusakan akumulatif.

Menurutnya, hal ini sebenarnya berpangkal pada Sistem Dunia (World System) yang rancu. Kerancuan itu, tandas Din, menurunkan sub-sub sistem dalam bidang ekonomi, politik, dan budaya yang juga mengandung kerancuan.

“Hal inilah yg memunculkan "ketiadaan damai" (the absence of peace) dalam bentuk kemiskinan, kebodohan, kesenjangan, ketakdilan, kekerasan dalam berbagai bentuknya, hingga kerusakan lingkungan hidup,” ujar Din di Shangrila Hotel, Hongkong.

Solusi terhadapkerusakan peradaban dunia tersebut, menurut Din adalah dengan mengubah sistem dunia itu sendiri. “Selama ini sistem dunia terlalu berwajah antroposentristik (menjadikan manusia sebagaipusat kesadaran), dan kurang berwajah teosentristik (Tuhan sebagaipusat kesadaran). Akibatnya, peradaban dunia kering-kerontang dari nilai-nilai etika dan moral,” ucap Din.

Sementara itu dalam bidang ekonomi terjadi yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin yang kemudian menciptakan kesenjangan serta ketakadilan. Dalam bidang politik terjadi proses zero sum game, yakni kecenderungan saling menafikan dan mendominasi yang sering menimbulkan konflik. Begitu pula dalam bidang budaya merajalela budaya liberal dan hedonis.

Din menilai selama dua dasawarsa terakhir ini negara yang telah menerapkan kekuatan lembut (soft power) dalam menanggulangi kerusakan peradaban dunia yaitu Indonesia.

Dalam hal menanggulangi kerusakan dunia yang bersifat akumulatif, diperlukan peran negara atau koalisi negara-negara dengan posisi tengahan (median position). “Indonesia, dalam hal ini, merupakan negara dengan posisi tengahan dan orientasi jalan tengah (the middle way). Negara-negara dengan watak dan corak seperti ini akan dapat tampil sebagaiproblem solveratau penyelesai masalah-masalahdunia,” ungkap Din.

Dalam kaitan kebangkitan China dewasa ini, Din menegaskan bahwakebangkitan itu harus diselenggarakan dalam suatu wawasan kawasan Asia Timur dan lewat mekanisme internasional. Jika tidak demikian, yakni China tampil agresif apalagi penetratif terhadapnegara-negara lain.

“Kebangkitan China dengan ambisi One Belt One Road (OBOR) akan potensial menimbulkan ketegangan dunia, karenaChina hanya melanjutkan perilaku Amerika Serikat yang hegemonik selama ini,” tandas Din.

Maka oleh karena itu, Din menyerukan agar dikembangkan  budaya hubungan internasional yang  berlangsung atas semangat dialog dan kerjasama yang saling menguntungkan, dan berorientasi pada kesadaran mondial akan satu kemanusiaan, satu tujuan, dan satu tanggung jawab (One Humanity, One Destiny, One Responsibility). (adam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *