Sabtu, 18 November 2017
Home/ Berita/ Haedar: Kebersamaan Sesama Umat Islam

Haedar: Kebersamaan Sesama Umat Islam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JEMBER – Islam itu mayoritas di Indonesia. Islam  di kepulauan Indonesia  yang waktu itu ada juga yang menyebut  Dwipantara, Nusantata, Melayunesia, hadir dalam sejarah yang panjang dan diterima secara damai dan harmomi oleh mayoritas masyarakat luas.

Dijelaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, sebagaimana agama Hindu yang telah diterima masyarakat di kepulauan ini terutama di Jawa, kehadiran Islam menyatu dengan maayarakat, sehingga di Jawa lahir istilah Kejawen atau menurut Clifford Geertz sebagai Agama Jawa (The Religion of Java).

“Perkembangan Islam yang ratusan tahun itu tidak sekali jadi baik melalui akulturasi atau bentukan kultural maupun dalam format kerajaan-kerajaan Islam sejak era Samudra Pasai. Hal yang jelas Islam Indonesia atau sebagian menyebut Islam Nusantara itu tumbuh tidak sekali jadi dan tidak tunggal, tetapi berproses penuh pergumulan dan banyak warna,”ungkap Haedar pada Sabtu (11/11) saat menghadiri Milad Universitas Muhammadiyah Jember.

Dilanjutkan Haear, penyebar Islam di negeri kepulauan ini juga beragam yang dipelopori dan diperankan  oleh para saudagar, para wali, dan para ulama dari  banyak mazhab yang masuk dari wilayah pesisir terus ke pedalaman, sehingga aktor sejarah penyebar Islam yang damai dan kultural itu banyak dan berdiaspora dari Semenanjung Malaka hingga Papua.

“Dengan demikian  lahirlah umat Islam Indonesia yang pusparagam dalam banyak ragam mazhab dan golongan, yang secara umum memiliki watak moderat atau wasithiyah di mana pun berada sejalan dengan watak masyarakat dan kebudayaan  Indonesia. Pada tahap selanjutnya nama Indonesia untuk kepulauan yang terbentang antara benua Australia dan kawasan Pasifik ini pun menjadi menguat sebagai pilihan utama yang mengalir secara kultural hingga terkodifikasi secara politik yang sangat menentukan pada Sumpah Pemuda 1928 dan tentu saja pada Proklamasi Kemerdekaan dan berdirinya Negara Republik Indonesia tahun 1945,” papar Haedar.

Haedar mengatakan sejak awal abad ke-20 hadir gerakan pembaruan Islam antara lain dipelopori Kyai Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah tahun 1912. Muhammadiyah telah memberi warna kuat  terhadap corak Islam Indonesia dengan karakter Islam modern atau reformis, yang kini dikenal sebagai Islam berkemajuan.

“Sebelumnya berdiri organisasi Islam lain yakni Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi  Sarekat Islam. Setelah itu lahir  Al-Irsyad, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama, dan lain-lain. Di daerah-daerah bertumbuhan pula organisasi Islam setempat. Semuanya dengan kekhasan masing-masing ikut memberi warna pada karakter Islam Indonesia yang moderat,”ungkap Haedar.

Ibarat satu mata air, Islam Indonesia mengalir dari hulu ke hilir dengan banyak aliran dan mazhab alias tidak tunggal. Kini bahkan makin bertumbuhan organisasi-organisasi Islam baru di Indonesia terutama pasca reformasi dengan spektrum paham dan pandangan yang terbentang luas dari kanan sampai kiri. Dua sayap Islam terbesar tetap memberi warna moderat dengan kekhasan masing-masing  yakni Muhammadiyah yang mengusung Islam Berkemajuan, serta Nahdhatul Ulama dengan Islam Nusantara. Golongan Islam lainnya pun sama keberadaan dan perannya dalam berkiprah atau berdakwah memberi warna dan karakter keislaman yang menyatu pada keindonesiaan.

“Dengan karaker satu Islam banyak warna itu maka yang diperlukan dan harus terus dirawat ialah kebersamaan dalam hidup keumatan,  kebangsaan, dan kenegaraan, bahkan dalam ranah kemanusiaan universal. Tetap rawat toleransi atau tasamuh, silaturahim, komunikasi, sinergi, dan  ta'awun atau kerjasama,” terang Haedar.

Haedar mengatakan semua harus merasa saudara seiman seagama dengan kasih sayang, sambil berukhuwah insaniyah secara inklusif dengan seluruh warga bangsa yang bhineka. “Manakala ada masalah selesaikan secara spirit ukhuwah dan berakhlak karimah, tidak dengan amarah dan kekerasan. Dengan semangat ukhuwah yang tulus dan konsisten hindari kebiasaan saling merendahkan, sakwasangka, tajasus, saling mendakwa, memberi label-label bernuansa buruk atau stigma, dan sikap lainnya yang membawa pada pecah-belah,” tegas Haedar.

Haedar juga mengajak untuk membangun budaya saling peduli dan berbagi, jauhi ananiyah-hizbiyah yang egoistik dengan pakaian kebesaran golongan sendiri.

“Kalau belum bisa bekerjasama, usahkan sama-sama bekerja dengan rasa saling bersaudara. Kalau habluminannas dengan sesama anak bangsa lainnya sangat baik, maka alangkah mulia sama baiknya dengan sesama umat Islam sendiri, itulah sikap adil dan ihsan. Mari berikhtiar kuat semua komponen umat dan banga saling memajukan dalam semangat kebersamaan yang tulus dan nyata. Di sinilah pentingnya merekat kebersamaan sebagaimana tema Milad Muhammadiyah ke-105 tahun 2017 ini,” pungkas Haedar. (adam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *