Sabtu, 18 November 2017
Home/ Berita/ Yunahar: Tidak Boleh Menyebarkan Berita Bohong Walau Niatnya Baik

Yunahar: Tidak Boleh Menyebarkan Berita Bohong Walau Niatnya Baik

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo)  RI bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI)  DIY mengadakan kegiatan Literasi Media Sosial Berbasis Islam Wasathiyah, yang bertemakan "Jaga Jagad Maya Rukun di Media Sosial" bertempat di Ballroom Hotel Harper Yogyakarta, Sabtu (14/10).

Dalam kegiatan tersebut hadir Yunahar Ilyas, Wakil Ketua MUI Pusat sebagai salah satu pembicara.  Yunahar mengatakan bahwa tidak dapat dipungkiri saat ini banyak berita hoax yang tersebar di dunia maya. 

Maka dengan itu, Yunahar mengimbau agar masyarakat jangan mudah terpercaya dengan berita yang tersebar tanpa mengetahui fakta atau kejadian yang sebenarnya.

"Dalam surat Al-Hujarat sendiri kita diperintahkan untuk melakukan tabayyun atau bahasanya cek dan ricek,  harus diteliti terlebih dahulu," ujar Yunahar.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini jugamengatakan saat ini juga marak orang-orang yang tidak bertanggung jawabmenyebarkan pesan-pesan terusan lewat whatsapp, line, dan lainsebagainya yang tujuan utamanya profokasu.

MenurutYunahar jika pesan-pesan tersebut belum dapat dikonfirmasikebenarannyasebaiknya tidak perlu diteruskan, apalagi jika didalam pesan itu mengimbau untuk memviralkan, maka patut dicurigai dan tidak perlu diteruskan. 

Yunahar menambahkan ada enam hal yang perlu dijauhi dalam bermedia sosial diantaranya, saling mengejek,  mencaci, memanggil dengan panggilan yang tidak disukai,  berprasangka,  mencari-cari kesalahan orang lain,  dan membicarakan keburukan orang. 

"Jelas sekali Al-Qur'an menyampaikan kita tidak boleh menyebarkan hoax,  ghibah,  dan melakukan fitnah. Maka kita juga tidak boleh menyampaikan berita bohong walau niatnya baik," imbuhnya. 

Lebih lanjut lagi,  Yunahar menyampaikan sebaiknya sebelum menyebarkan berita kita menimbang-nimbang terlebih dahulu berita yang akan disebarkan.

"Apa berita itu menyebabkan pertengakaran atau tidak,  apa mengandung provokasi atau tidak, harus sesuai dengan waktu dan tempatnya, dan tepat konteksnya, " paparnya. (Syifa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *