Senin, 18 Desember 2017
Home/ Berita/ Hidayat Nur Wahid: Kader Muhammadiyah Harus Bisa Memahami Akar Sejarah Keislaman dan Keindonesiaan

Hidayat Nur Wahid: Kader Muhammadiyah Harus Bisa Memahami Akar Sejarah Keislaman dan Keindonesiaan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, TASIKMALAYA -- Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya (UMTAS) mengadakan Seminar dan Lokakarya Nasional (Semloknas), dengan mengundang Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid sebagai salah satu pemateri yang menjelaskan tentang 4 Pilar Kebangsaan, pada Kamis (12/10).

Kegiatan yang bertempat di kampus UMTAS tersebut berlangsung selama tiga hari dan dihadiri oleh utusan IMM seluruh Indonesia.

Sosiali 4 Pilar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa pilar atau tiang penyangga negara haruslah kuat dari goncangan-goncangan yang muncul. Keempat pilar itu terdiri dari Pilar Pancasila, Pilar Undang-Undang Dasar 1945, Pilar Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pilar Bhineka Tunggal Ika.

Hidayat Nur Wahid dalam orasinya menghimbau agar IMM sebagai generasi muda Indonesia dan Muhammadiyah, bisa memahami sejarah Indonesia secara utuh, termasuk 4 pilar kebangsaan.

“IMM adalah generasi muda Indonesia dan sebagai mahasiswa Muhammadiyah mereka harus meyakini bahwa Indonesia adalah milik mereka. Mereka harus mengisi kemerdekaan Indonesia seperti yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh besar Muhammadiyah, yaitu Ki Bagus Hadikusumo, Abdoel Kahar Moezakir, Kasman Singodimejo, dan lainnya,” jelas Hidayat.

Pemuda Muhammadiyah, lanjut Hidayat, harus memperjuangkan kemerdekaan Indonesia tanpa melupakan sejarah.

“Generasi muda di masa kini orientasinya serba kekinian, serba yang akan datang, dan yang dulu dilupakan. Banyak generasi muda di masa kini yang tidak tahu mengenai sejarah Indonesia” ujarnya.

Hidayat berharap kader-kader muda IMM bisa memahami akar sejarah keislaman, kemuhammadiyahan, dan keindonesiaan, agar kedepan bisa menjadi bagian dari generasi yang tidak terbawa arus liberalisme, radikalisme, nihilisme, dan hedonisme.

“Kesemuanya itu tidak sesuai dengan prinsip-prinsip yang diwariskan oleh founding father dan founding mother Indonesia yang sebagian adalah tokoh-tokoh Muhammadiyah. Memahami 4 pilar kebangsaan itu sama dengan memahami Muhammadiyah,” pungkasnya. (tuti)

Sumber: Humas UMTAS

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *