Rabu, 18 Oktober 2017
Home/ Berita/ Tajdid

Tajdid

Oleh : Benni Setiawan*

Haedar Nashir (2010) menyebut, Muhammadiyah pada abad kedua menghadapi tantangan yang tidak ringan. Muhammadiyah sebagai bagian dari bangsa berada pada pusaran dinamika globalisasi yang membawa ideologi kapitalisme dan neoliberalisme global. Oleh karena itu, Muhammadiyah perlu mengukuhkan diri sebagai gerakan tajdid sebagai ruh persyarikatan sejak pertama berdiri.

Tajdid (pembaruan) yang dilakukan oleh Muhammadiyah tidak sekadar dalam konteks pemikiran. Namun, selayaknya mewujud dalam sebuah laku (action) yang menjadi habitus bagi semua. Tajdid abad kedua ini seakan selaras dengan hadis Rasulullah., s.a.w. “Sesungguhnya pada setiap penghujung seratus tahun, Allah akan mengutus untuk umat ini orang yang akan memperbarui agama mereka (H.R. Abu Dawud no. 3740).

Abad kedua adalah peralihan seratus tahun. Dan menurut hadis di atas akan ada umat yang melakukan pembaruan (tajdid). Hadis di atas mendorong kita untuk menjadi umat terpilih itu. Umat yang melakukan tajdid (pemurnian dan pembaruan) keagamaan.

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apa yang dapat kita lakukan dalam menyongsong umat terpilih (the choosen people) itu?

Amal Saleh

Tajdid memerlukan tindakan. Artinya, konsepsi tajdid perlu bersinergi dengan amal saleh. Tajdid tanpa amal soleh maka ia tidak akan mewujud dalam sebuah gerakan. Inilah yang dilakukan oleh Kiai Dahlan sejak mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Kiai Dahlan tidak sekadar “menafsirkan” al-Quran. Namun, ia menafsirkan al-Quran dengan melakukan tindakan nyata untuk umat. Seperti potret penyantunan dan pendidikan bagi kaum miskin dan lemah sebagai manifestasi dari surat al-Maun. Kiai Dahlan juga mendorong umat untuk terus melakukan kebajikan dengan memerhatikan pentingnya waktu sebagaimana cerminan surat al-Maun. Pendek kata, penafsiran al-Quran perlu didukung oleh bukti empiris, yaitu melakukan tindakan untuk keumatan yang utama.

Saat tindakan (amal saleh) ini dilakukan secara terus-menerus dan diikuti serta dilakukan oleh orang lain, maka ia akan mendapatkan pahala yang terus mengalir. Hal ini ditegaskan oleh Allah sebagaimana dalam Surat al-Kahfi (18: 30).

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا (٣٠)

Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik”. (Q.S. al-Kahfi, 18: 30).

Ayat di atas dengan gamblang menunjukkan betapa besar pahala amal saleh yang menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Tidak hanya melakukan hal yang sama, boleh jadi, generasi penerus akan mengadopsi ilmu baru dan mengembangkan amal saleh itu.

Jika di abad pertama, Muhammadiyah telah menginspirasi Indonesia melakukan pendidikan modern, sekolah, dirasat islamiyah dengan berbagai pendekatan, perhitungan hisab (penanggalan bulan Qomariah), meluruskan arah kiblat, pengasuhan anak yatim melalui panti asuhan, penyembuhan penyakit melalui kegiatan medis, dan seterusnya. Kini semua itu telah diadopsi oleh gerakan atau ormas lain. Muhammadiyah tidak perlu risau. Pasalnya, ia telah melakukan amal saleh yang dilakukan oleh banyak orang. Muhammadiyah kini tinggal memanen pahala dari apa yang dikerjakan oleh orang lain.

Tugas Muhammadiyah kini adalah melakukan gebrakan (amal saleh) baru yang akan menjadi penanda abad kedua persyarikatan. Amal saleh yang bisa dilakukan oleh Muhammadiyah kini, yang juga sudah mulai dirintis dan mendapat perhatian dunia adalah gerakan humanitarian terkait penanganan bencana. Kebencanaan bukan sekadar musibah yang perlu diratapi, namun perlu sentuhan agar umat segera bangkit dari keterpuruan bencana. Muhammadiyah melalui Lembaga Penanggulangan Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Tajdid ala MDMC dengan memberikan pertolongan cepat dan tepat serta gerakan pemanusiaan ini perlu disambut oleh kader Muhammadyah dengan kerja nyata. Artinya, kader Muhammadiyah perlu menjadi duta kebencanaan yang siap tanggap terhadap setiap peristiwa alam itu. Hal ini penting, mengingat dalam konteks Indonesia, bencana perlu diakrabi agar tidak menjadi trauma. Oleh karena itu, setiap kader perlu memahami bencana dengan baik dan mampu berserikat dalam masyarakat sadar bencana.

Itulah amal saleh yang dapat dilakukan sebagai tabungan yang “ditukar” dengan pahala surga. Gambaran surga yang indah itu termaktub dalam lanjutan al-Kahfi ayat ke-31.

أولَئِكَ لَهُمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ وَيَلْبَسُونَ ثِيَابًا خُضْرًا مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الأرَائِكِ نِعْمَ الثَّوَابُ وَحَسُنَتْ مُرْتَفَقًا (٣١)

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah” (Q.S. al-Kahfi, 18: 31).

Perniagaan

Amal saleh lain yang dilakukan pada abad kedua adalah bagaimana kader Muhammadiyah menata sistem ekonomi berkeadilan. Sistem ekonomi berkeadilan perlu bersumbu pada perintah menegakkan salat dan menunaikan zakat. Menegakkan salat itu penting. Namun, membagi harta yang kita memiliki kepada orang lain dengan sistem zakat juga perlu. Perintah ini perlu dimaknai sebagai perintah Allah kepada umat Islam untuk menjadi orang yang kaya. Kaya berarti orang yang memiliki kelebihan harta. Kelebihan harta yang kemudian berzakat untuk kemakmuran umat.

Kaderpersyarikatan perlu mengambil hikmah dari umat terdahulu yang menjadi pengusaha (pedagang). Melalui perdagangan dan penguasaan aset perniagaan, Muhammadiyah akan mandiri dan pada gilirannya umat akan sejahtera. Memperbanyak saudara menjadi tantangan abad kedua bagi kader persyarikatan Muhammadiyah.

Inilah senjata ampuh untuk memenangkan kontestasi global. Semangat menyambut dan mengisi abad kedua. Wallahu a’lam.

 

*) Anggota MPK PP Muhammadiyah

Dinukil dari buku: Siapakah Kader Muhammadiyah Itu? : Materi Kultum Peneguh Jatidiri Kader. MPK PP Muhammadiyah. (2017)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *