Senin, 18 Desember 2017
Home/ Berita/ Amanah dalam Menjalankan Tugas

Amanah dalam Menjalankan Tugas

 

Oleh: Muamaroh*

Kata “amanah” secara etimologis (lughawi/bahasa) berasal dari bahasa Arab yang berarti jujur atau dapat dipercaya. Sementara kata amanah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Dari definisi ini mengandung pengertian bahwa sikapamanah melibatkan dua pihak antarapemberi dan penerima amanah. Dimana antara keduanya harus ‘saling’ menjaga amanah yang diberikan. Sementara itu secara terminologi/istilah, ada beberapa pendapat tentang makna kata ‘amanah’. Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, amanah adalah sesuatu yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak memilikinya. Sementaraitu,Ibn Al-Araby berpendapat bahwa amanah adalah segala sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya atau sesuatu yang diambil dengan izin pemiliknya untuk diambil manfaatnya. Jadi amanah adalah  menyampaikan hak apa saja kepada pemiliknya, tidak mengambil sesuatu melebihi haknya dan tidak mengurangi hak orang lain. Sikap amanah merupakan salah satu empat sifat Nabi yaitu Siddiq, Amanah, Tablig dan Fathanah.

Menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, amanah itu ada tiga macam:  

1. Amanah terhadap Allah Swt.

Amanah terhadap Allah artinya kita harus taat akan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Manusia adalah makluk yang diciptakan oleh Allah dan Allah adalah sang Kholiq. Pencipta segala yang ada di dunia ini. Itu sebabnya manusia memiliki amanah terhadap Allah untuk beribadah hanya kepada-Nya. Manusia harus amanah terhadap semua yang sudah Allah anugerahkan kepada manusia. Hal ini seiring dengan Firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.” (QS. Al Anfal: 27)

2. Amanah terhadap Sesama Manusia.

Manusia adalah makluk individu sekaligus sebagai makluk sosial. Amanah terhadap sesama manusia berarti bahwa manusia memiliki kewajiban yang harus ditunaikan sebagai konsekuensi dirinya sebagai bagian dari masyarakat dimana dia hidup. Ada hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai sosialisasi diri dalambermasyarakatuntuk menjaga keharmonisan hubungan antar sesama manusia berkaitan dengan tatanan berinteraksi sosial (muamalah) atau hablun min an-nas.Allah Taala berfirman:“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.(QS An-Nisa:58)

3. Amanah terhadap diri sendiri.

Amanah terhadap diri sendiriartinya bahwa setiap individu memiliki tugas, kewajiban dan tanggung jawab yang harus selesaikansendiri. Allah SWT. berfirman: “Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya”(Q.S. al-Mu’minun:8).

Berdasarkan ayat tersebut di atas, sifat amanah itu melekat pada setiap individu, setiap manusia sebagai mukallaf dalam kapasitasnya sebagai hamba Allah, individu dan makhluk sosial.

Orang yang amanah bisa dipastikan orang tersebut jujur dan bertanggung jawab. Dengan demikian maka amanah itu berkaitan dengan sifat dan sikap baik yang lain yaitu jujur dan bertanggung jawab. Jujur adalah sifat penting seorang kader. Bahkan Nabi besar Muhammad sebelum diangkat menjadi rasul, beliau sudah dijuluki alaminyang artinya dapatdipercaya. Itu sebabnya kita harus selalu jujur dalam segala perkataandan perbuatan kita.Menjadikan Rasullullah sebagai contoh teladan dalam kepemimpinan maupun dalam aspek kehidupan dan kesehariannya. Sebagaimana Firman Allah Ta’ala:“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”(QS. Al-Ahzab: 21). Amanah adalah akhlak dari para Nabi dan Rasul. Mereka adalah orang-orang yang paling baik dalam menjaga amanah, paling terpercayadan paling jujur. Dalam hal kejujuran Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertawakkallah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur” (Qs. At-Taubah: 119).

Dengan demikian sikap amanah memiliki dimensi yang luas. Dalam ranah kepemimpinan, sifat amanah harus menjadi ciri khas yang melekat bagi seorang muslim. Jabatan yang tinggi merupakan bentuk amanah yang harus dijaga.Karena setiap individu terlebih lagi seorang pemimpin untuk level manapun pasti Allah akan meminta pertanggung jawaban. kita semua merupakan pemimpin, setidaknya bagi diri sendiri dan keluarga. Sehingga, nanti kita pasti akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang kepempinan kita. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Anfaal ayat 27:

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.Rasulullah saw juga bersabda: "Kamu sekalian pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung-jawabannya tentang apa yang kamu pimpin, imam (pejabat apa saja) adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawabannya tentang apa yang dipimpinnya, dan orang laki-laki (suami) adalah pemimpin dalam lingkungan keluarganya, dan ia akan ditanya tentang apa yang ia pimpin, orang perempuan (istri) juga pemimpin, dalam mengendalikan rumah tangga suaminya, dan ia juga akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya, dan pembantu rumah tangga juga pemimpin dalam mengawasi harta benda majikannya, dan dia juga akan ditanya tentang apa yang ia pimpin." (H.R. Ahmad, Muttafaq 'alaih, Abu Daud dan Tirmidzi dari Ibni Umar)

Seorang pemimpin harus amanah dan bertanggung jawab penuh terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang tidak hanya bertanggung jawab tetapi juga jujur.  Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang bisa diandalkan dalam melaksanakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Pemimpin yang membawa perubahan, pencerahan dan kebaikan. Itu sebabnya seorang pemimpin harus betul-betul waspada dan amanah terhadap tugas kepemimpinannya. Rasulullah SAW mengingatkan para pemimpin, “Siapa saja yang dianugerahkan Allah sebagai pemimpin, tetapi dia tidak berbuat sesuatu untuk kebaikan umatnya (malah sebaliknya menipu dan menzalimi umatnya ), Allah akan mengharamkan surga untuknya.”(HR. Bukhori). Dalam Hadistlain, Rasulullah SAW bersabda, Orang yang paling sakit siksaan di hari kiamat adalah pemimpin yang dhalim (curang).”(HR. Thabrani).

Life is choice: hidup adalah pilihan. Dalam menerima sebuah amanah kepemimpinan atau pekerjaan yang dipercayakan maka seseorang memiliki pilihan. Yaitu pilihan untuk amanah, jujur, istiqomah bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan atau bersikap sebaliknya.

Sikap amanah harus dimiliki dan diupayakan serta dilatihkan agar sifat itu betul-betul mendarah daging dalam kehidupan kita. Amanah itu berkenaan dengan tanggung jawab tugas yang harus diemban dan diselesaikan. Orang yang amanah itu orang yang apabila diberikan tanggung jawab dan tugas untuk diselesaikan orang tersebut bisa menyelesaikannya dengan baik dan maksimal.

Hikmah Perilaku Amanah

Segala sesuatu yang dilakukan manusia maka dampak positif dan negatifnya akan kembali kepada manusia itu sendiri. Begitu juga dengan bersikap amanah, manfaatnya tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi anggota keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kebaikan yang kita lakukan memberikan nilai dan manfaat yang berlipat. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi: Dan barang siapa berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh, Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.  Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, pasti akan Kami hapus kesalahan-kesalahannya dan mereka pasti akan Kami beri balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (Q.S. Al Ankabut: 6-7).

Dengan demikian, manfaat dan dampak yang dirasakan bagi orang yang amanah terhadap tugas yang dipercayakan kepadanya adalah:

- Mendapat kepercayaan yang lebih besar. Ketika seseorang amanah dalam menjalankan tugasnya dengan baik, maka orang tersebut akan semakin mendapat kepercayaan dan tanggung jawab yang lebih besar. Sehingga karir kepemimpinannya akan semakin sukses. Demikian juga karir pekerjaannya juga akan lebih baik. Karena orang tersebut sudah mendapatkan ‘trust’ dari masyarakat.

- Dicintai dan dihargai. Pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab akan dicintai oleh masyarakat yang dipimpinnya. Karena pemimpin yang amanah bisa membawa kepada perubahan ke depan yang lebih baik. Kesejahteraan akan lahir dan merata kalau pemimpinnya amanah terhadap tugas yang diamanahkan.

- Hidup yang berkahdan bahagia. Ketika seorang pemimpin amanah terhadap jabatan yang diembannya dengan baik maka hidupnya akan lebih bahagia dan penuh kebaikan. Dia tidak perlu kuatir kalau difitnah seputar keuangan, dll karena dia selama ini sudah membuktikan bahwa dia orang yang amanah, tanggung jawab, jujur dan bisa dipercaya baik dalam perkataan maupun tindakannya.

Oleh sebab itu hendaklah kader senantiasa amanah terhadap tugas tanggung jawab yang diamanahkan kepadanya. Menjaga amanah itu sangat penting dan bagi orang-orang yang mengabaikan amanahmaka dampaknya bisa fatal.Orang yang tidak amanah terhadap tugas yang dipercayakan bisa saja terjerumus melakukan tindakan-tindakan yang tidak terpuji. Korupsi merupakan satu contoh sikap orang yang tidak amanah terhadap tugasnya. Begitu besarnyadampak yang diakibatkan bila seseorang tidak amanah, hingga bumi, langit, dan gunung pun takut menerimanya. Hal ini tercantum dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 72: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Kaderyang baik, seharusnya menghindari dari meminta-minta jabatan. Karena jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah. Apalagi kalau seseorang sudah menyadari bahwa dia memiliki kekurangan atau ketidakmampuan, tidak memiliki kompetensileadership dan manajerial yang baik. Maka sikap meminta jabatan hanya akan merendahkan harga dirinya sendiri. Kalau tidak hati-hati,  seorangpemimpin bisa tergelincir dalam menjalankan amanah yang diembannya.  Hadist riwayat Muslim dari hadits Abu Dzar,“Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa Engkau enggan mengangkatku (jadi pemimpin)?” Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- menjawab, “Engkau itu lemah. Kepemimpinan adalah amanat. Pada hari kiamat, ia akan menjadi hina dan penyesalan kecuali bagi yang mengambilnya dan menunaikannya dengan benar.

Oleh sebab itu, suatu jabatan itu bukan untuk diminta apalagi diperebutkan. Ada beberapa upaya yang bisa dilakukan agar bisa amanah dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepada kita, diantaranyayaitu:jujur, ikhlas, kerja kerasuntuk memberikan dan melakukan yang terbaik, bertanggung jawab dan kesatria berani menerima resiko apapun sebagai konsekwensi dari sikap amanah yang diambilnya.

Amanah dalam melaksanakan tugas yang diamanahkan seharusnya menjadi karakter bagi setiap Muslim. Apapun dan dimanapun posisi kita, kitaharus tetap bisa amanah, jujur dan bertanggung jawabdengan tugas yang dipercayakankepada kita.Semoga Allah meridhoi segala apa yang kita lakukan dan upayakan. Selagi kita masih diberi waktu dan kesempatan, mari kita berikan yang terbaik untuk persyarikatan, umat, agama, negara dan bangsa. Do and be the best.

 

*) Anggota MPK PP Muhammadiyah

Dinukil dari buku: Siapakah Kader Muhammadiyah Itu?: Materi Kultum Peneguh Jatidiri Kader. MPK PP Muhammadiyah. (2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *