Sabtu, 18 November 2017
Home/ Berita/ Taat Ibadah dan Rajin Beramal Shaleh

Taat Ibadah dan Rajin Beramal Shaleh

 

Oleh : Imam Hanafi

Ibadah dan amal shaleh merupakan bagian penting yang menunjukan eksistensi agama Islam di tengah umat manusia. Seseorang yang sudah mengakui dirinya muslim, sudah menyatakan syahadah bahwa hanya Allah SWT yang ia sembah dan hanya Muhammad SAW Rasul yang diikuti, maka konsekuensinya adalah menerapkan apa yang telah ia akui dan yakini dalam hatinya, juga yang telah ia ucapkan dengan lidahnya, dalam kehidupan sehari-hari dalam bentuk ibadah dan amal shaleh.

Ibadah melahirkan perasaan ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT. Ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT meringankan seorang hamba dalam melaksanaan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Yang harus disadari bahwa perintah dan larangan Allah SWT diciptakan demi kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat. Rasa tunduk dan taat inilah yang membuat perilaku serta sikap hidup manusia menjadi mulia, jauh dari sikap tercela. Karena di dalam hati dan pikirannya selalu ada Allah SWT.

Ibadah dan amal shaleh adalah dua entitas yang tidak dipisahkan. Sebab baik buruknya ibadah seseorang bisa dilihat dari perilakunya sehari – hari. Orang yang rutin beribadah dan akhlaknya mulia, dipastikan ibadahnya sempurna. Sebaliknya jika orang aktif beribadah sedang tetap melakukan perilaku tercela, dipastikan ibadahnya belum sempurna. Sebab ibadah yang sempurna adalah ibadah yang berdampak pada sikap hidup dan akhlak mulia.

 

Amal ibadah yang terdapat dalam Rukun Islam seperti sholat, puasa, zakat dan haji adalah yang dimaksudkan untuk menyempurnakan akhlak yang  mulia. Sholat baik itu yang fardu atau sunat adalah bermaksud untuk mentarbiyah dan mendidik manusia agar berhenti dari segala perbuatan keji dan mungkar . Firman Allah SWT :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

"Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar."( al-‘Ankabut: 45).

Ibadah puasa dimaksudkan, di antaranya untuk mencapai tingkatan takwa. Firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."  (al-Baqarah: 183). 

Berkaitan dengan ibadah puasa ini, Rasulullah SAW bersabda: 

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari)

Zakat, di antara rahasianya adalah untuk menyucikan dan membersihkan jiwa dari berbagai sifat buruk dan tercela. Firman Allah SWT:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا

"Ambillah zakat dari harta mereka guna membersihkan dan mensucikan mereka."  (at-Taubah: 103).  

Sedangkan ibadah haji difardhukan oleh Allah kepada mereka yang mampu dengan banyak maksud dan aturan, contohnya agar orang yang beribadah haji terlatih untuk tidak berkata kotor, tidak berbuat fasik dan tidak banyak berkata-kata sia-sia. Firman Allah SWT:

 الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَّعْلُومَاتٌ ۚفَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗوَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ

"(Musim) haji itu (pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi : 'Barangsiapa mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu maka janganlah dia berkata jorok (cabul), berbuat maksiat dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala yang baik yang kamu kerjakan, Allah mengetahuinya'. " (al-Baqarah: 197). 

 

Segala kebaikan yang kita lakukan berupa bersedekah dan berbuat baik kepada fakir- miskin, anak yatim, janda – janda tua, melapangkan kesusahan orang mukmin dari kesusahan dunia, melaksanakan kerja-kerja kebajikan, membersihkan masjid dan surau, membuang halangan dijalan raya, membantu kemalangan orang, menangani bencana alam dan musibah adalah merupakan akhlak yang baik.  

Jiwa manusia adalah tempat  menerima sesuatau baik itu fujur (kejahatan ) atau takwa (kebaikan) Rasulullah SAW bersabda maksudnya  :

 “Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (HR Bukhari dan Muslim). 

 

Hati (jiwa) adalah konduktor yang menggerakkan tubuh untuk melakukan perbuatan-perbuatannya,  jika hati tersebut bersih (baik),  maka seluruh tubuhnya akan tergerak untuk mengerjakan hal-hal yang baik, adapun jika hatinya kotor (buruk) dan kita benci orang lain tahu apa yang ada pada hati kita itu sebenarnya perkara dosa yang dibenci oleh Allah SWT. Maka tentunya juga akan membawa tubuh melakukan hal-hal yang buruk. Hati adalah perkara utama untuk memperbaiki akhlak manusia. Jika seseorang ingin memperbaiki dirinya maka hendaklah ia memperbaiki dahulu hatinya   Kotoran apalagi najis itu tidak semestinya terdapat pada pakaian dan tubuh badan secara zahir. Terlebih yang utama kita harus menjaga hati agar selalu bersih dari kotoran apalagi najis. Selagi hati masih tercemar dengan sifat-sifat yang keji maka cahaya ilmu yang bermanfaat kepada agama menjadi tidak dapat menerangi hati. 

Ketika hati bersih maka Nur (cahaya) Illahi akan meneranginya. Oleh karenanya kita perlu membersihkan dan menjaga hati dari sifat-sifat yang keji dan tercela seraya menghias diri dengan akhlak yang terpuji.   Orang mukmin akan menjaga hatinya agar jangan terlintas sesuatu yang bisa mendatangkan dosa seperti hasad dengki, iri hati, ujub, sombong dan takabur. Penyakit-penyakit hati yang lain adalah seperti sifat tamak kepada harta dunia, cinta dunia, suka marah dan berprasangka buruk kepada orang lain. 

Marilah sama-sama kita tingkatkan ibadah kita dan perbaiki akhlak kita sehingga menghiasi perbuatan dan sikap hidup kita sehari - hari. Dimana tidak keluar sesuatu daripada mulut kita melainkan yang baik dan bermanfaat untuk orang lain. Dan tidak ada perbuatan dan amalan kita melainkan amal soleh, amal kebaikan dan amal yang mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Begitu juga tidak terlintas di dalam hati dan jiwa kita melainkan sesuatu yang baik, ikhlas dan jujur. Segala bentuk prasangka buruk, was-was dan su'udzan akan kita buang sejauh-jauhnya dari hati dan jiwa kita. Allah SWT berfirman: 

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَاوَقَدْخَابَمَندَسَّاهَا

 

 

"Sesungguhnya beruntunglah yang mensucikan jiwa itu. Dan merugilah orang yang mengotorinya " (asy Syams: 9-10). 

Sumber: Siapakah Kader Muhammadiyah Itu ? : Materi Kultum Peneguh Jati diri Kader

                                                                                                                                                

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *