Kamis, 23 November 2017
Home/ Berita/ Bahas Toleransi Otentik, AMM DIY Undang Tokoh Pemuda Lintas Agama

Bahas Toleransi Otentik, AMM DIY Undang Tokoh Pemuda Lintas Agama

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA -- Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY selenggarakan Kajian Rutin Malam Sabtu (Kamastu) pada Jumat (18/8) di Gedung Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Jl. Gedong Kuning Yogyakarta.

Kajian itu mengambil tema "Toleransi Otentik" dengan mengundang Niluh Kasiani Sandhi Wakil Ketua Wanita Hindu Darma Indonesia, Agustinus Budiarto Ketua Pemuda Katolik DIY. Serta Ahmad Muttaqin dosen Perbandingan Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Acara tersebut mengangkat tema yang tepat untuk menjawab segala keresahan yang belakangan terjadi di negeri ini. Perbedaan sebenarnya suatu keindahan yang mutlak. Tentu jika kita bisa menerima satu sama lain perbedaan itu.

Seperti disampaikan Niluh, keberagaman yang ada di Indonesia merupakan sebuah anugerah karena tidak semua negara memiliki multikultural seperti Indonesia.

Sehingga, lanjut Niluh, perlu adanya kesadaran di tubuh masyarakat bahwa Indonesia beragam suku dan budaya, dan dapat menjadikan toleransi yang nyata.

“Sehingga tidak ada lagi pertikaian yang mengatasnamakan perbedaan. Toleransi itu dilakukan dengan nyata, secara langsung disampaikan serta dibicarakan. Apa maksud dan tujuan serta bagaimana penyelesaiannya,” terang Niluh.

Sementara itu, Agus mengatakan gambaran perjumpaan berbagai perbedaan adalah ciri mencolok dari Indonesia. Toleransi otentik adalah toleransi berupa dialog-dialog yang solutif. “Pemuka agama harus mampu bermasyarakat, dengan begitu inti dari persatuan agama ini adalah saling berbaur dan bermasyarakat. Sehingga toleransi otentik sangat mungkin terjadi,” ungkap Agus.

Untuk mewujudkan toleransi otentik tentu tidaklah mudah, namun harus didasari dengan kepercayaan dan respect yang tinggi, maka hal tersebut sangatlah mungkin terjadi.

Muttaqin menungkapkan bahwa toleransi tidaklah menjual agama. “Toleransi itu ibarat gula, tapi realitasnya tidak semanis gula. Toleransi hanya mudah sebatas diucapkan, tapi sulit dilakukan,” ungkap Muttaqin.

Muttaqin menambahkan, terdapat tiga pilar toleransi, yaitu kepercayaan, timbal balik dan empati. “Toleransi sejak dalam pikiran, yakni kesadaran bahwa kita berbeda. Puncak ketaqwaan adalah akhlak karimah, taqwa, ta'aruf, tafahum, tasamuh, ta'aawun, dan takaful,” ungkapnya.

Sebagai warga Indonesia yang memiliki beragam budaya dan agama, perlu kita tanamkan rasa percaya dan mampu membangun kerjasama atas perbedaan.

“Perbedaan tersebut kita jadikan sebuah kepedulian, sehingga secara tidak langsung kita telah melakukan toleransi terhadap orang lain. Karena warga Indonesia adalah satu. Satu perjuangan dan satu kemerdekaan,” pungkas Muttaqin. (hanifa/nisa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *