Kamis, 23 November 2017
Home/ Berita/ Haedar: Tanamkan Nilai Kemerdekaan dalam Kehidupan Berbangsa

Haedar: Tanamkan Nilai Kemerdekaan dalam Kehidupan Berbangsa

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Menjelang peringatan hari kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2017besok, kerap diadakan berbagai perayaan sebagai ungkapan syukur atas 72 tahun Indonesia merdeka. Perayaan tersebut biasanya dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari mengadakan perlombaan, upacara kemerdekaan hingga menggelar panggung hiburan.

Namun setelah 72 tahun Indonesia merdeka, selama itu pula sering kali bangsa ini larut hanya dalam seremonial belaka, tidak menghayati makna kemerdekaan sesungguhnya dengan jiwa, pikiran dan cita-cita kemerdekaan yang digagas oleh para pendiri bangsa seperti yang disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir.

“Jujur kita ini sekarang mengalami erosi, mengalami distorsi bahkan mengalami deviasi dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapHaedar, Rabu (16/8).

Politik Indonesia yang liberal sering kali diperparah dengan penetapan regulasi atau peraturan yang menurut Haedar salah langkah dengan mengabaikan prinsip demokrasi dan hukum. Dalam bidang ekonomi, Indonesia sebagai negara kaya raya dengan sumber daya alam yang melimpah ruah pernah mengusung misi ekonomi kerakyatan, namun ini kemudian kalah dengan ekonomi kapitalis yang mendominasi kehidupan bangsa Indonesia.

Dalam kehidupan sosial budaya secara keseluruhan masyarakat dan elit bangsa ini selalu menunjukan kepribadian Indonesia dengan berbagai slogan, bahkan pemerintah dengan nawacitanya berkeinginan untuk membangun karakter Indonesia.

“Namun dalam praktik kehidupan kita saat ini budaya sekular-liberal menjadi sangat dominan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa, lebih dari itu dengan media sosial kita menjadi bangsa yang cenderung membolehkan ujaran apa saja tanpa bingkai keadaban, tatakrama, sopan santun dan akhlak mulia,” sesalnya.

Maka dengan ini Muhammadiyah mengajak seluruh warga bangsa dan elit negeri untuk bagaimana merekonstruksi nilai-nilai kebangsaan yang diletakan oleh para pendiri bangsa. “Agar bangsa ini jelas arahnya, terutama dalam bidang politik, ekonomi dan budaya,” terang Haedar.

Haedar juga mengimbau agar bangsa ini tidak mengalami erosi, distorsi dan deviasi dalam penerapan nilai-nilai kebangsaan, maka harus ada penanaman nilai tersebut yang berjangka panjang dan masuk dalam proses pendidikan yang mencerdaskan, bukan yang instan.

“Jadi kalau sekarang ada UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Idelogi Pancasila), maka unit ini harus betul-betul menanamkan nilai pancasila yang pas, tidak instan dan tidak indoktrinatif sehingga pancasila betul-betul dihayati secara luas, mendalam dan aktual,” ungkap Haedar.

Terakhir, terkadang bahkan juga sering kali masyarakat bangsa ini terjebak dalam ritual seremonial yang serba verbal, akibatnya hari kemerdekaan yang berlalu dari tahun ke tahun yang ditangkap hanya kegembiraaanya saja. “Tetapi tidak membekas menjadi nilai-nilai kemerdekaan yang tertanam di dalam kehidupan kebangsaan kita,” kata Haedar.

Muhammadiyah sendiri selalu memperingati kemerdekaan tersebut dengan berbagai pengajian, diskusi, seminar hingga gerakan-gerakan sosial sebagai bentuk dari pengejawantahan berislam juga mewujudkan pancasila yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Sehingga Muhammadiyah insya Allah tidak akan terlalu terbawa oleh suasana kehidupan seremonial yang berlebihan, gembira boleh karena kita ini ulang tahun, tapi kita harus menghabiskan energi kita hanya untuk kerja-kerja produktif. Selamat ulang tahun Indonesia,” tutup Haedar. (raipan)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *