Senin, 23 Oktober 2017
Home/ Berita/ Keutamaan Hari Raya Idul Adha

Keutamaan Hari Raya Idul Adha

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Muhsin Hariyanto dosen jurusan Ekonomi Perbankan Islam (EPI) Fakultas Agama Islam UMY mengungkapkan bahwa secara organisatoris Muhammadiyah tidak memiliki pandangan yang khusus terhadap pelaksanaan Hari Raya Idul Adha, tetapi Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah terus berupaya memberi tuntunan dan syariat kepada ummat yang sesuai dengan pedoman Al-Qur’an dan sunnah Rasul.

Menurut Muhsin, Keutamaan atau fadhilah adalah sesuatu yang menjadi nilai tambah dari pelaksanaan ibadah atas kewajiban yang dilaksanakan dengan memprioritaskan tujuan.  Semakin ikhlas kita beribadah maka semakin murni kita mendapatkan nilai tambah tersebut. Hakikat yang kita capai adalah tujuannya, yaitu beribadah kepada Allah.

Keikhlasan seseorang dalam beribadah, dijanjikan oleh Allah dengan sebuah pahala. Begitu pula sebaliknya, jika tidak dilandaskan dengan rasa ikhlas maka amalan tersebut akan menjadi sia-sia.

"Artinya, kita dapat memanfaatkan beberapa hal terkait dengan momentum Idul Adha, tidak hanya momentum yang bersifat ritual seperti takbiran, sholat Ied, tapi  apa yang ada dibalik itu, yakni jalinan ukhuwah sesama muslim, merasa lebih dekat dengan Allah, dan ada banyak hal lainnya yang dapat kita rasakan dalam Idul Adha," jelas Muhsin saat ditemui pada , Jum'at (4/8).

Terdapat beberapa keutamaan dalam pelaksanaan Hari Raya Idul Adha, yaitu :

1.Qurban, adalah bagian dari salah satu cara untuk mendekatkan diri (taqorrub) kepada Allah SWT, dan  salah satu tanda dari ketaqwaan seseorang kepada Allah SWT.

Bagi yang melaksanakan qurban, juga dijanjikan akan mendapat pahala yang berlipat ganda, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist yang artinya "Dari Aisyah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada amalan yang dikerjakan anak Adam ketika hari (raya) kurban yang lebih dicintai oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dari mengalirkan darah, sesungguhnya pada hari kiamat ia akan datang dengan tanduk-tanduknya, kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Dan sesungguhnya darah tersebut akan sampai kepada Allah ‘Azza Wa Jalla sebelum jatuh ke tanah, maka perbaguslah jiwa kalian dengannya.” (HR. Ibnu Majah, At-Tirmidzi, Al-Hakim berkata isnad hadits shahih)

Tidak hanya sebatas nilai ibadah, berqurban juga menciptakan nilai muamalah yang   mengandung nilai-nilai spiritual yang berupa sedekah dan silaturahmi. Artinya, jika qurban dilaksanakan dengan niat ikhlas mengharap ridho Allah maka akan terbangun rasa untuk memberi kepada siapapun yang layak untuk diberikan. Kemudian pada saat memberikan qurban, disatulah terjalinan silaturahmi antara yang pemberi dan penerima.

2. Siyam atau puasa Arafah yang dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Puasa Arafah memiliki keutamaan yang seharusnya tidak ditinggalkan oleh seorang muslim. Jika puasa dijalankan dengan niat ikhlas mengharap ridho Allah,  maka ganjaran  bagi yang melaksanakannya adalah pahala, dan dijamin akan terhapusnya dosa-dosanya serta terjaga dari dosa besar. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist, yang artinya :

Dari Abu Qotadah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,   “Puasa Arofah (9 Dzulhijjah) dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun akan datang. Puasa Asyuro (10 Muharram) akan menghapuskan dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim no. 1162). (tuti)

Foto: Ilustrasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *