cool hit counter

Persyarikatan Muhammadiyah

gambar
Rabu, 16 May 2012 | 17:47 WIB |
Dibaca: 1529

Haedar Nashir: MPM Membumikan Teologi Al-Maun

Yogyakarta- Muhammdiyah sebagai salah satu gerakan civil society di Indonesia, memiliki tanggung jawab sosial yang sangat besar. Bahkan Muhammadiyah dalam banyak hal terlimpahi oleh tanggung jawab yang seharusnya bisa dilakukan oleh negara. Masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial adalah salah satu tanggung jawab sosial yang selama ini sering diabaikan oleh negara. Tapi karena keterbatasan negara itulah Muhammadiyah memiliki ladang untuk beramal.

 

Untuk menjawab tantangan itu, teologi Al-Maun salah satunya dibumikan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat. Demikian disampaikan Haedar Nashir, dalam sambutannya pada pembukaan Diklat IV Pertanian terpadu MPM PP Muhammadiyah, yang diselanggarakan di Balai Besar Latihan Ketegakerjaan Kabupaten Sleman, Rabu (16/05/2012).

 

Haedar Nashir mengungkapkan, selama ini banyak kebijakan pemerintah yang tidak melindungi pertanian, bahkan justru menghancurkan petani. 'Petani yang sekarang ini miskin sesungguhnya bukanlah orang pemalas dan bodoh, bahkan petani merupakan pekerja keras dan ulet. Tetapi karena kebijakan seringkali tidak memberikan perlidungan petani, maka petani selalu berada pada posisi marginal atau terpinggirkan," jelasnya, mengutip Antropologi dari Yale University, James C. Scott. Menurut Haedar, keseluruhan sumberdaya yang telah dikeluarkannya tersebut setelah dihitung dengan pendekatan ekonomi sesungguhnya para petani tersebut rugi. Hal ini karena jerih payah mereka tidak dihitung sebagai modal. Petani semakin merugi apabila hasil peranian yang diharapkannya tidak capai, atau tidak sesuai dengan apa yang seharusnya mereka capai.

 

Karena itu menurut Haedar Nasir ke depan, MPM perlu melakukan pembumian teologi Al-Maun ini secara lebih cepat dengan tiga kerangka proses utama, yaitu pembebasan, pemberdayaan dan memajukan.

 

"Proses pembebasan ini merupakan bentuk penyadaran terhadap hakikat kemanusian yang sesungguhnya, membebaskan mereka yang tertindas. Mengentaskan mereka sebagai dhuafa dan mustad’afin. Proses pemberdayaan adalah bentuk-bentuk upaya memaksimalkan penggunaan sumberdaya yang telah mereka miliki. Etos tinggi petani ini harus disalurkan secara benar sehingga petani ke depan setelah diberdayakan, para petani ini tidak lagi menjadi pemain pinggiran," jelasnya. Terakhir menurut Haedar Nashir faktor memajukan merupakan bentuk transformasi terhadap apa yang seharusnya ingin diwujudkan untuk memperbaiki realitas yang mandeg. Proses ketiga ini untuk menjembatani agar jangan sampai MPM terjebak pada model-model pemberdayaan yang karikatif. (Mann)(mac)


Tags: muhammadiyah, pemberdayaan, mpm, petani
facebook twitter delicious digg print pdf doc Kategori: majelis pemberdayaan masyarakat

Pilih Artikel


Apakah artikel tersebut menarik bagi saudara?
Sangat Menarik Menarik Cukup Menarik Kurang Menarik

2 Komentar


Mull
17-05-2012 12:24:28
Para petani seharusnya menjadi perhatian Pemerintah. Andaikan Petani Diperhatikan Maka Tidak akan ada kekurangan pangan dan komuditas pertanian, sehingga tidak perlu memasok dari luar negeri
HM. Muntaha Ichwan, S.Pd.I
19-05-2012 11:09:53
Saya sangat tertarik dengan program MPM tersebut. Yang ingin saya tanyakan disini Bagaimana cara memulai melaksanakan kegiatan MPM tersebut, kami masih mempunyai kendala yang kendala itu sendiri sulit saya sebutkan. Untuk itu bagaimana jika dari MPM PP Muh memberikan Pelatihan Khusus untuk MPM PDM khususnya MPM PDM Kabupaten Bintan Prov Kepri, misalnya jika ada Pelatihan di tempat tertentu, kami diundang sebagai peserta. Trima kasih. Tanjung Uban, 19 Mei 2012 HM. Muntaha Ichwan, S.Pd.I, NBM: 531 695 Ketua MPM PDM Kab. Binta Kepri.

Beri Komentar


Kalau saudara semua tertarik untuk memberikan komentar terhadap berita atau artikel di atas, kami mohon agar memberikan komentar yang santun untuk kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah di masa yang akan datang. Isi komentar terserah dari pembaca, tapi jika dinilai kurang layak tampil oleh pengelola website, maka kami akan menghapusnya.
*) Harus Diisi

Nama * Email *

Website

Tulis Komentar *
Kode *

Berita Lain



iklan

Berita Terpopular

Jakarta - Muhammadiyah menghormati hasil sidang itsbat yang dilakukan pemerintah menetapkan awal ... selengkapnya
Jakarta - Kementerian Agama harus tetap ada dan namanya jangan diubah. Ini bagian dari sejarah ba ... selengkapnya

Daftar Newsletter

Tetap terkini dengan berita terbaru dari Muhammadiyah

Bacaan Sehari-hari

Rapuhnya bangsa ini berpangkal dari keluarga, karena itu sebagai gerakan perempuan, Aisyiah juga berorientasi sebagai gerakan kekeluargaan, dimana seorang ibu akan menyiapkan generasi yang lebih baik bagi masa yang akan dating.
[H. Din Syamsudin]
iklan