Rabu, 30 September 2020
Home/ Berita/ Haedar: Banyak yang Menamakan Organisasi Islam, Tetapi Spirit Nilai Keislamannya Tidak Diaktualisasikan

Haedar: Banyak yang Menamakan Organisasi Islam, Tetapi Spirit Nilai Keislamannya Tidak Diaktualisasikan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Begitu mudah untuk membangun hubungan silaturahim, akan tetapi terkadang hal itu tidak selalu berhasil menghilangkan benih-benih perpecahan, padahal Nabi Muhammad SAWmengajarkan umatnya tentang makna seilaturahim melalui sebuah hadis yang berbunyi; tidak masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahim.

Sejarah mencatat bahwa umat islam menjadi pemenang dalam perang Badar, namun kalah dalam peperangan berikutnya yakni perang Uhud. Ini tentu menjadi peristiwa besar yang Allah SWT tanamkan hikmah di dalamnya. Seperti yang disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam acara Silaturahim Idul Fitri, di Auditorium Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jl. Menteng Raya 62 Jakarta, Jumat (7/7) malam.

“Ada hal yang penting buat kita pahami bagaimana mengkapitalisasi kemenangan ini yang pusatnya pada kebersamaan, dan membangun kebersamaan juga itu ada kerikilnya, tadi dicontohkan bahwa sebelum Nabi SAW dimakamkan betapa susahnya umat islam dalam menentukan pilihan pemimpinnya kala itu bahkan nyaris menjadi persitiwa besar," papar Haedar.

Haedar mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa sejarah ini perlu menjadi perhatian khusus oleh umat islam. bagaimana kita mencoba untuk mengeliminasi benih-benih perpecahan yang memberi peluang kepada kita menjadi tidak sukses dan mengulang kemenangan.

Ciri benih perpecahan biasanya terlihat dari tidak pandainya seseorang dalam bermusyawarah dalam menentukan strategi dan langkah. Bahkan seorang Nabi Muhammad SAW pun mempunyai otoritas Illahi menentukan strategi dengan bermusyawarah.

"Maka kedepan mungkin umat islam perlu bermusyawarah tentang strategi dan itu tidak milik satu orang, kelompok atau golongan. Hal ini penting mengingat langkah di masa depan tidak akan semudah yang dibayangkan, karena ada banyak perbedaan pilihan dan juga strategi gerakan," ujar Haedar.

Sebagai tasyakur bi nikmat, lanjut Haedar umat islam di satu pihak mengakui ada banyak kelemahan,tetapi di pihak lain juga tidak sedikit pencapaian. "Pak Amin Rais telah merintis reformasi dan itu buahnya luar biasa, tetapi kemudian di tengah jalan banyak orang membajak dan menyandera reformasi itu, sehingga (mungkin) spirit reformasi yang ditanamkan beliau tidak diserap jiwanya,” ucap Haedar.

Begitu juga dalam perjuangan islam, Haedar menyinggung bahwa banyak yang menamakan organisasi islam tetapi spirit nilai-nilai keislamannya tidak otomatis diaktualisasikan.

"Muhammadiyah alhamdulilah dari fase ke fase juga mengalami pasang surut dan kemudian ada hal yang harus kita syukuri kita punya perguruan tinggi yang besar dan kita juga bisa membuat banyak hal yang juga tidak mudah. Banyak orang yang iri dengan Muhammadiyah maka tentu perjalanan kedepan kita perlu menentukan langka-langkah strategis yang lain,” pungkas Haedar.

Hadir dalam acara tersebut Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Amien Rais, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan, dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti. (raipan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *