Jum'at, 18 Agustus 2017
Home/ Berita/ Haedar Sebut ‘Aisyiyah Miliki 5 Karakter dalam Kiprahnya Sebagai Gerakan Perempuan

Haedar Sebut ‘Aisyiyah Miliki 5 Karakter dalam Kiprahnya Sebagai Gerakan Perempuan

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANTUL – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir pada Resepsi Milad 100 tahun ‘Aisyiyah menyampaikan bahwa memasuki abad keduanya, ‘Aisyiyah memiliki dinamika yang cukup signifikan. Selain itu, Haedar juga mengatakan bahwa ‘Aisyiyah memiliki 5 karakter yang berbeda jika dibandingkan dengan organisasi perempuan lainnya.

Pertama, Aisyiyah memiliki karakter utama sebagai gerakan Islam, Haedar mengatakan segala bentuk program ataupun gerakan yang berkembang di ‘Asiyiyah tidak terlepas pada karakter ‘Asiyiyah yaitu harakatul Islam yang sebagaimana Muhammadiyah, memahami Islam secara komprehensif dalam dimensi aqidah, ibadah dan duniawiyah.

“Hal inilah yang harus menjadi spirit pergerakan ‘Aisyiyah di abad keduanya,” ucap Haedar, Jumat (15/5) di Sportorium UMY.

Kedua, ‘Aisyiyah memiliki karakter sebagai gerakan Islam berkemajuan. Haedar menegaskan bahwa pondasi Islam berkemajuan harus menjadi identitas yang khas bagi ‘Aisyiyah.

“Posisinya adalah wasathiyah. Ketika berhadapan dengan dua arus ekstrem gerakan perempuan di Indonesia dan juga di dunia, ‘Aisyiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan pasti bisa belajar untuk lebih tawazun,” imbuh Haedar.

Ketiga, ‘Aisyiyah memiliki karakter sebagai gerakan sosial kemasyarakatan di jamaah dan akar rumput. “Tanpa membeda-bedakan suku, ras, agama dan kedaerahan, di akar rumpul itulah rumah kita dan tempat kita berkiprah tak pernah lelah,” ucap Haedar.

Keempat, yaitu sebagai gerakan beramalusaha. Amal usaha telah menjadi ciri Muhammadiyah dan juga ‘Aisyiyah yang membedakannya dengan organisasi pergerakan lainnya.

“Berbagai upaya yang dilakukan melalui amal usaha sesungguhnya itu merupakan manifestasi dari Islam sebagai dinul amal,” tukas Haedar.

Diakhir Haedar mengatakan bahwa ‘Aisyiyah merupakan gerakan kebangsaan. “Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah sebagai bagian dari pendirian bangsa Indonesia menurut tidak boleh lari dari segala permasalahan yang dihadapi oleh bangsa. Oleh karenanya, peran kebangsaan ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah harus terus digelorakan sebagai bagian dari panggilan harakatul Islam,” pungkas Haedar. (adam)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *