Minggu, 17 Desember 2017
Home/ Berita/ Haedar: Sentimen Agama Menjadi Konstruktif untuk Menghidupkan Derajat Moral dan Keadaban Publik

Haedar: Sentimen Agama Menjadi Konstruktif untuk Menghidupkan Derajat Moral dan Keadaban Publik

 

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan dalam masyarakat yang tingkat keagamaannya tinggi, sentimen agama menjadi niscaya dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat, sampai bangsa dan negara.

“Ketika agama menjadi sumber nilai dalam kehidupan dan mengajarkan orang berbuat benar, baik, patut, dan nilai-nilai keadaban, sentimen agama menjadi konstruktif untuk menghidupkan derajat moral dan keadaban publik,” ucap Haedar, Rabu (19/4).

Haedar mengatakan bahwa agama merupakan sesuatu yang paling fundamental dalam hidup manusia. “Islam bukan hanya ajaran keyakinan (akidah) dan ritual (ibadah), melainkan juga akhlak dan muamalah. Pada ranah muamalah itulah Islam bertautan dengan politik, ekonomi, iptek, budaya, dan urusan duniawi lainnya,” ungkap Haedar. 

Politik dan ekonomi menurut Haedar selalu memerlukan agama sebagai legitimasi. “Politik itu sarat kepentingan dan banyak seninya. Ketika menguntungkan, agama dipakai. Ketika tidak menguntungkan, agama tidak dipakai. Ini soal aktornya,” ungkap Haedar.

Menanggapi ekspresi politik umat Islam belakangan ini, Haedar beranggapan bahwa Islam sebagai mayoritas ini sedang mencoba mencari tempat dan artikulasi yang pas. “Sebenarnya umat Islam tidak sedang mengganggu kebhinekaan, agama lain, apalagi mengganggu kemapanan kekuasaan. Tetapi sedang mencari baju yang pas di republiknya sendiri yang dia bangun,” ucap Haeadar.

 Haedar mengibaratkan umat muslim di Indonesia saat ini sepeerti orang yang badannya gemuk, kebetulan bajunya agak sesak, jadi bawaannya jengkel. “Dia harus punya baju yang pas. Ini bukan politik diskriminasi. Tapi realitas politik yang berlaku di negara mana pun dalam proses demokrasi. Dan tidak ada tuntut-menuntut,” tegas Haedar.

“Umat Islam tidak ingin meminta lebih kok. Kami, Muhammadiyah, dan tentu organisasi Islam moderat lain, selalu menjaga koridor bahwa posisinya adalah Negara Pancasila. Tidak negara Islam. Dan tidak negara sekuler. Proses dialektik ini sedang berlangsung,” pungkas Haedar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *