Rabu, 05 Agustus 2020

Yang Sombong Tidak Akan Masuk Surga (2)

Dalam sebuah hadits shahih juga telah dijelaskan pengertian sombong, sebagaimana berikut:

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya: “Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar serta Ibrahim bin Dinar, semuanya dari Yahya bin Hammad, Ibnu al-Mutsanna berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad telah mengabarkan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail al-Fuqaimi dari Ibrahim an-Nakha’i dari ‘Alqamah dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi SAW, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan. Seorang laki-laki bertanya: Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)? Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. [HR. Muslim: 131].

Di dalam riwayat al-Tirmidzi terdapat penjelasan atas hadits ini yang terdapat dalam akhir dari bunyi haditsnya:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبٍ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ وَلَا يَدْخُلُ النَّارَ يَعْنِي مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ قَالَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ إِنَّهُ يُعْجِبُنِي أَنْ يَكُونَ ثَوْبِي حَسَنًا وَنَعْلِي حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ بَطَرَ الْحَقَّ وَغَمَصَ النَّاسَ و قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَفْسِيرِ هَذَا الْحَدِيثِ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ إِنَّمَا مَعْنَاهُ لَا يُخَلَّدُ فِي النَّارِ وَهَكَذَا رُوِيَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ وَقَدْ فَسَّرَ غَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ التَّابِعِينَ هَذِهِ الْآيَةَ { رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلْ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ } فَقَالَ مَنْ تُخَلِّدُ فِي النَّارِ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al–Mutsanna dan Abdullah bin Abdurrahman. Keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hammad, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Aban bin Taghlib dari Fudlail bin Amr dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah dari Nabi SAW, beliau bersabda: Tidak akan masuk surga bagi seseorang yang di dalam hatinya terdapat sifat sombong meskipun hanya sebesar biji dzarrah. Dan tidak akan pula masuk neraka, yaitu seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya sebesar biji dzarrah. Abdullah berkata: Kemudian seseorang berkata kepada Beliau, sesungguhnya aku merasa bangga, jika pakaianku bagus dan sandalku juga bagus. Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah menyukai keindahan. Akan tetapi yang dimaksud kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Sebagian Ahli Ilmu berkata terkait tafsir hadits ini, Tidak akan pula masuk neraka, yaitu seseorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya sebesar biji dzarrah. Maknanya, tidak akan kekal di dalam neraka. Dan seperti inilah sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al–Khudri dari Nabi SAW. Beliau bersabda: Akan dikeluarkan dari neraka, yaitu seorang yang di dalam hatinya terdapat keimanan meskipun hanya sebesar biji dzarrah. Kalangan Tabi’in memberikan tafsiran terkait ayat ini: siapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya. Maksudnya, siapa yang Engkau kekalkan di dalam neraka, maka sungguh Engkau telah menghinakannya. Abu Isa berkata: ini adalah hadits hasan shahih gharib”. [HR. al-Tirmidzi: 1922].

 

Akibat dari Kesombongan

Kelanjutan penjelasan kosa kata dalam surat al-Baqarah (2) ayat 34 di atas adalah ungkapan terakhir ayat itu: (وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ) wa kaana minal kaafiriin: Dan dia (Iblis) itu termasuk golongan orang-orang yang kafir. Kata al-kaafiriin adalah bentuk jamak dari kata kaafir. Orang kafir adalah orang yang mendustakan Allah ta’ala. Mendustakan itu berarti tidak membenarkan. Dalam ungkapan lain, orang kafir adalah orang yang menolak dan membangkang serta tidak mau menaati perintah Allah atau salah seorang utusan-Nya (Rasul-Nya).

Perintah bersujud kepada Adam tersebut mempunyai arti menghormati Adam. Para malaikat menaati dan melaksanakan perintah Allah ta’ala dengan bersujud kepada Adam. Sedangkan Iblis tidak mau bersujud kepada Adam. Iblis merasa dirinya lebih baik dibandingkan Adam. Iblis menolak bersujud dan merasa dirinya lebih mulia karena dia diciptakan dari api, sedangkan Adam cuma diciptakan dari tanah. Karena penolakan dan pembangkangan Iblis untuk tunduk dan taat kepada Allah ta’ala, maka Iblis masuk ke dalam golongan makhluk yang kafir.

Alasan Iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Adam dijelaskan di dalam ayat-ayat berikut:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ (71) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (72) فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (73) إِلَّا إِبْلِيسَ اسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (74) قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ (75) قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ (76) -ص/71-76

Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah (71). Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya (72). Lalu seluruh malaikat itu bersujud semuanya (73). kecuali iblis; dia menyombongkan diri dan adalah dia termasuk orang-orang yang kafir (74). Allah berfirman: Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku? Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi? (75). Iblis berkata: Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah (76)” [Q.s. Shaad (38): 71-76].

 

Pelajaran yang dapat dipetik dari Q.s. al-Baqarah (2) ayat 34 di atas adalah, pertama,  Adam sebagai bapak umat manusia memiliki kedudukan yang tinggi karena memperoleh anugerah ilmu dari Allah ta’ala. Oleh karena itu, manusia harus terus belajar dan menambah ilmu supaya memiliki kedudukan yang mulia. Kedua, pelajaran bagi manusia akan bahaya sikap menolak dan berlaku sombong sampai tidak menaati perintah Allah ta’ala sehingga bisa berakibat menjadi kafir.

 

Penulis             : M. Yusron Asrofie

Sumber            : http://tuntunanislam.id/

Halaman Sebelumnya: Yang Sombong Tidak Akan Masuk Surga (1)......

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *