Jum'at, 14 Agustus 2020

Wujud Allah Subhanahu Wa Ta’ala (1)

"Alkisah, tatkala Nabi Musa AS datang untuk bermunajat kepada Allah swt  pada waktu yang telah ditentukan, dan Allah swt pun telah berbicara secara langsung dengannya, tiba-tiba timbul keinginan beliau untuk dapat melihat secara langsung kepada Allah swt".

 

Namun, karena ketidakberdayaan dirinya berhadapan dengan Dzat Allah, keinginan tersebut tidak bisa terwujud, meskipun Allah swt telah memenuhi keinginannya. Hal ini sebagai-mana dijelaskan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

 وَلَمَّا جَآءَ مُوسَىٰ لِمِيقَـٰتِنَا وَكَلَّمَهُ ۥ رَبُّهُ ۥ قَالَ رَبِّ أَرِنِىٓ أَنظُرۡ إِلَيۡكَ‌ۚ قَالَ لَن تَرَٮٰنِى وَلَـٰكِنِ ٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡجَبَلِ فَإِنِ ٱسۡتَقَرَّ مَڪَانَهُ ۥ فَسَوۡفَ تَرَٮٰنِى‌ۚ فَلَمَّا تَجَلَّىٰ رَبُّهُ ۥ لِلۡجَبَلِ جَعَلَهُ ۥ دَڪًّ۬ا وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقً۬ا‌ۚ فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبۡحَـٰنَكَ تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَأَنَا۟ أَوَّلُ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ -١٤٣-

 Dan tatkala Musa datang untuk (mu-najat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya Menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, Dia berkata: “Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman”. (QS al-A’raf: 143)

 

Kasus yang pernah dialami oleh Nabi Musa AS di atas menegaskan bahwa wujud Allah adalah bersifat ghaib dan oleh karenanya manusia tidak akan pernah bisa melihat Allah swt, sebagai-mana firman Allah berikut:

لَّا تُدۡرِڪُهُ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ وَهُوَ يُدۡرِكُ ٱلۡأَبۡصَـٰرَ‌ۖ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلۡخَبِيرُ -١٠٣-

Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dia-lah yang Maha Halus lagi Maha mengetahui. (QS al-An’am: 103)

 

Pada masa Rasulullah saw, beberapa sahabat Nabi pernah memikirkan tentang Dzat Allah swt. Tetapi, Nabi segera menegur mereka, beliau bersabda:

 تَفَكَّرُوا فِي خَلْقِ اللَّهِ وَلَا تَفَكَّرُوا فِي اللَّهِ – رواه الطبراني

Pikirkankanlah ciptaan Allah dan jangan kamu memikirkan (Dzat)   Allah. (HR Thabrani)

 

Oleh karena wujud Allah yang tidak tampak tersebut, banyak manusia tidak mempercayai akan keberadaan-Nya. Mereka mengingkari-Nya dengan alasan karena mereka tidak dapat menangkap keberadaan Allah dengan indera mereka. Mereka bahkan menuduh orang-orang yang meyakini keberadaan Allah sebagai orang-orang yang bodoh, penghayal, tidak ilmiah dan tuduhan-tuduhan lain yang sangat menyakitkan yang dialamatkan kepada orang-orang yang beriman kepada keberadaan Allah swt.

Sejatinya orang-orang yang hanya mempercayai sesuatu yang dapat ditangkap oleh indera manusia terbantahkan oleh kenyataan mereka sendiri. Misalnya, mereka mempercayai adanya kekuatan gravitasi meskipun mereka tidak pernah melihat keberadaannya secara inderawi. Mereka juga mempercayai adanya rasio meskipun tidak pernah terlihat wujudnya melainkan hanya hasil yang ditimbulkannya. Mereka juga mempercayai adanya kekuatan magnet karena adanya daya tarik menarik antara satu besi dengan besi lainnya tanpa pernah   melihat wujudnya secara inderawi.

Mereka juga mempercayai adanya elekton dan neutron bukan karena mereka pernah melihatnya secara inderawi melainkan karena adanya tanda-tanda yang membuktikan keberadaannya, dan lain-lain. Jadi, semestinya orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah swt dengan alasan mereka tidak pernah melihat-Nya secara inderawi harus pula mengingkari benda-benda lain yang juga tidak pernah mereka lihat.

Memang, alat inderawi adalah salah satu perangkat yang dapat dipergunakan untuk membuktikan keberadaan sesuatu. Tetapi, ia bukan satu-satunya, melainkan masih banyak perangkat lain yang dapat dijadikan sarana untuk membuktikan adanya sesuatu. Dalam hal keberadaan Allah, terdapat tiga bukti (dalil) yang bisa mendukung dan menguatkannya.   Dalil itu adalah Dalil FitrahDalil Akal (Aqlidan Dalil Wahyu (Naqli).

 

Dalil Fitrah

Pada dasarnya benih keyakinan terhadap wujud Allah merupakan fitrah atau sesuatu yang bersifat kodrat yang dibawa oleh manusia seiring kelahirannya di alam dunia. Hal ini diakui oleh beberapa pakar dari berbagai kalangan, di antaranya:

  1. Ali Issa Othman, yang menjelaskan bahwa arti fitrah tidak lain adalah inti dari sifat alami manusia, yang secara alami pula ingin mengetahui dan mengenal Allah swt (Ali Issa Othman, Manusia Menurut al-Ghazali: 28).
  2. Mircea Eliade, yang menyebutnya sebagai homo religious atau naturalier religiosa (makhluk beragama).
  3. Danah Zohar dan Ian Marshal yang menamakannya dengan istilah God Spot atau Titik Tuhan (Danah Zohar, Ian Marshall, SQ: Spiritual Intelligence – The Ultimate Intelligence, 2000: 79).
  4. Sayid Sabiq, yang menyebutnya dengan istilah Ghorizah Diniyah. (insting keberagamaan) (Anasirul Quwwah fil Islam: 11).
  5. Yasien Muhammad, yang menerangkan bahwa karena fitrah Allah dimasukkan dalam jiwa manusia, maka manusia terlahir dalam keadaan dimana tauhid menyatu dengan fitrah. (Yasien Muhammad: 21).

 

Penulis             : Zaini Munir Fadholi

Sumber            : http://tuntunanislam.id/

Halaman Selanjutnya: Wujud Allah Subhanahu Wa Ta'ala (2).......

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *