Rabu, 05 Agustus 2020

Tata Cara Sholat Dhuha (2)

Pelaksanaan Shalat Dhuha

Jika shalat dhuha dilakukan lebih dari 2 raka’at, hendaklah dikerjakan dengan diakhiri salam pada setiap 2 raka’at. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « صَلاَةُ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ مَثْنَى مَثْنَى » سنن أبي داود.قال الشيخ الألباني :صحيح

Dari Ibnu Umar dari Nabi SAW, Beliau bersabda: “shalat di malam dan siang hari adalah dua-dua [raka’at]” (HR. Abu Dawud). Syaikh al-Bani menyebut hadits ini adalah hadits shahih.

·  Shalat dhuha dapat dikerjakan secara berjama’ah. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:

عَنْ عِتْبَانِ بْنِ مَالِكٍ وَهُوَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِمَّنْ شَهَدَ بَدْرًا مِنَ اْلأَنْصَارِ أَنَّهُ أَتَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنِّى قَدْ أَنْكَرْتُ بَصَرِي وَأَنَا أُصَلِّى لِقَوْمِي وَإِذَا كَانَتِ اْلأَمْطَارُ سَالَ اْلوَادِى بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ وَلَمْ أَسْتَطِعْ أَنْ أَتَى مَسْجِدَهُمْ فَأًُصَلِّي لَهُمْ وَوَدِدْتُ أَنَّكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ تَأْتِي فَتُصَلِّي فِي مُصَلَّى فَأَتَّخِذُهُ مُصَلًى قَالَ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سَأَفْعَلُ إِنْ شَآءَ اللهُ. قَالَ عِتْبَانُ: فَغَدَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيْقُ حِيْنَ ارْتَفَعَ النَّهَارُ فَاسْتَأْذَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَذِنْتُ لَهُ فَلَمْ يَجْلِسْ حَتَّى دَخَلَ الْبِيْتَ ثُمَّ قَالَ: أَيْنَ تُحِبُّ أَنْتُصَلِّي مِنْ بَيْتِكَ. قَالَ: فَأَشَرْتُ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنَ الْبَيْتِ فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَبَّرَ فَقُمْنَا وَرَاءَهُ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ. – متفق عليه

Diriwayatkan dari Itban bin Malik [dia adalah salah seorang sahabat Nabi yang ikut perang Badar dari kalangan Ansar] bahwa dia mendatangi Rasulullah s.a.w. lalu berkata: Wahai Rasulullah, sungguh aku sekarang tidak percaya kepada mataku [maksudnya: matanya sudah kabur] dan saya menjadi imam kaumku. Jika musim hujan datang maka mengalirlah air di lembah [yang memisahkan] antara aku dengan mereka, sehingga aku tidak bisa mendatangi masjid untuk mengimami mereka, dan aku suka jika engkau wahai Rasulullah datang ke rumahku lalu shalat di suatu tempat shalat sehingga bisa kujadikannya sebagai tempat shalatku. Ia meneruskan: Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Akan kulakukan insya Allah”. Itban berkata lagi: Lalu keesokan harinya Rasulullah s.a.w. dan Abu Bakar ash-Shiddiq datang ketika matahari mulai naik, lalu Beliau meminta izin masuk, maka aku izinkan Beliau. Beliau tidak duduk sehingga masuk rumah, lalu Beliau bersabda: “Mana tempat yang kamu sukai aku shalat dari rumahmu? Ia berkata: Maka aku tunjukkan suatu ruangan rumah”. Kemudian Rasulullah s.a.w. berdiri lalu bertakbir, lalu kami pun berdiri (shalat) di belakang Beliau. Beliau shalat dua raka’at kemudian mengucapkan salam”. (Muttafaq Alaih).

 

· Pada dasarnya, pelaksanaan shalat dhuha, (sebagaimana shalat-shalat tathawwu’ yang lain), baik gerakan-gerakan maupun bacaan-bacaannya, tidak berbeda dengan pelaksanaan shalat wajib. Satu hal yang membedakannya hanyalah pada niat seseorang yang harus disesuaikan dengan shalat yang akan dikerjakan.

· Tidak ditemukan hadits-hadits maqbullah yang menjelaskan bahwa di dalam shalat dhuha dituntunkan adanya bacaan-bacaan khusus mengenai ayat-ayat al-Qur’an atau do’a dan dzikir, baik yang dibaca di dalam shalat maupun sesudahnya. Meskipun demikian, terdapat bacaan shalat dhuha yang dikenal selama ini adalah sebagai berikut:

اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ. اَللهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقَى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسَّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagunan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu. Wahai Tuhanku, apabila rizkiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan hak dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu dan kekuasaan-Mu. (Wahai Tuhanku) datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih”.

 

Do’a tersebut di atas disebutkan as-Syarwani dalam kitabnya yang berjudul “Syarah al-Minhaj” dan ad-Dimyati dalam kitabnya yang berjudul “I’anatut-Thalibin”. Kendati demikian, menurut penelitian para ulama, tidak dijumpai satu pun hadits (sekalipun hadits lemah) yang dapat dijadikan sebagai rujukan terhadap do’a tersebut.

Di dalam kitabnya yang berjudul “al-Islam, Su’alun wa Jawabun”, Syaikh Muhammad Shalih al-Munjid mengatakan bahwa mereka (as-Syarwani dan ad-Dimyati) mengkhususkan bacaan-bacaan yang indah di atas pada ibadah tertentu (shalat dhuha) dengan tanpa berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Di dalamnya, mereka menyebut kalimatبِحَقِّ ضُحَاءِكَ  (dengan hak dhuha-Mu). Padahal, tidak diketahui (ajaran yang menjelaskan) bahwa waktu dhuha memiliki hak dan kebesaran yang dapat dijadikan perantara (wasilah) untuk memohon sesuatu kepada Allah.”

Selanjutnya, Beliau mengatakan bahwa adanya anggapan bahwa do’a di atas disunnahkan dibaca untuk shalat dhuha adalah membuka pintu bid’ah di dalam agama. Mereka bukanlah petunjuk para Fuqaha’ terdahulu yang mendalam ilmunya, juga tidak bersumber dari para Shalafus Shalih. Oleh kerena itu, kita semestinya tidak mengamalkannya. Anggapan di atas adalah sebuah kebohongan yang diatasnamakan kepada Nabi Muhammad SAW.” (Lihat: Syaikh Muhammad Shalih al-Munjid, al-Islam, Su’alun wa Jawabun, IV/228).

·

 Shalat Dhuha dapat dikerjakan di masjid, namun lebih utama dikerjakan di rumah. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:

فَصَلُّوا أَيُّهَا النَّاسُ فِى بُيُوتِكُمْ ، فَإِنَّ أَفْضَلَ الصَّلاَةِ صَلاَةُ الْمَرْءِ فِى بَيْتِهِ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةَرواه البخاري)

Hendaklah kalian manusia melaksanakan shalat (sunnah) di rumah kalian, karena sebaik-baik shalat adalah shalat seseorang di rumahnya, kecuali shalat wajib” (HR. Bukhari).

 

· Jumhur (mayoritas) ulama, selain dari kalangan Hanafi, berpendapat bahwa shalat dhuha lebih utama dilakukan secara rutin (setiap hari). Hal ini didasarkan pada hadits Nabi yang berisi wasiat Rasulullah SAW. kepada Abu Hurairah, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di atas. Selain itu, pendapat ini juga didasarkan pada hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ يُحَافِظُ عَلَى صَلاَةِ الضُّحَى إِلاَّ أَوَّابٌ . قَالَ : وَهِيَ صَلاَةُ الأَوَّابِينَ. رواه ابن خُزَيمة والحاكم. قال الشيخ الألباني : حسن

Tidak ada yang memelihara shalat dhuha kecuali orang yang kembali kepada Allah. Beliau bersabda: “Dia adalah Shalat Awwabin (shalat orang-orang yang kembali kepada Allah)” (HR. Ibnu Khuzaimah dan al Hakim). Syaikh al-Bani menyebut hadits ini adalah hadits hasan.

 

Hadits di atas juga diperkuat oleh hadits berikut ini:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ » رواه مسلم

Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu, walaupun itu sedikit” (HR. Muslim).

Wallahu a’lamu bis-shawab

 

 

 

Penulis : Zaini Munir Fadloli

Sumber Artikel : http://tuntunanislam.id/

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *