Rabu, 20 September 2017

Sudah Siapkah Ramadhan Anda?

Sungguh amat disayangkan sekiranya bulan Ramadlan yang penuh barakah tersebut akan berlalu,  tanpa dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Sementara tidak ada seorang pun yang mengetahuinya apakah tahun berikutnya masih dapat menjumpainya kembali. Oleh karenanya, sebelum memasuki bulan Ramadlan seharusnya dilakukan persiapan-persiapan, diantaranya.

1. Menjelang Ramadlan seseorang harus membangun tekad dan kemauan dapat memanfaatkan bulan Ramadlan dengan sebaik-baiknya, dengan keyakinan tahun depan belum bisa dipastikan akan menemui lagi bulan Ramadlan. Persiapan Ruhiyah dengan cara memperkokoh iman sebagai landasan seseorang dalam melakukan ibadah kepada Allah SWT.   Iman yang kokoh akan melahirkan mahabbatullah (mencintai Allah), ar-raja’ wal khouf (berharap dan takut) kepada Allah. Dengan ketiga sikap ini  seseorang akan mampu melaksanakan ibadah dengan ikhlas, bersungguh-sungguh, istiqomah dan khusyu’.

2. Persiapan amaliyah dengan memperbanyak melakukan  puasa Sunah di bulan Sya’ban.

Hal ini didasarkan kepada Hadits yang berbunyi:

Artinya: “Dari ‘Aisyah r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: … Saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW  berpuasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan. Juga sayatidak pernah melihat beliau banyak berpuasa kecuali di bulan Sya‘ban.” (Muttafaq ‘Alaih).

Berpuasa di bulan Sya’ban selain sebagai ibadah,  ia mempunyai hikmat untuk menciptakan kondisi diri menjelang berpuasa di bulan Ramadlan, sehingga ketika saat memasuki bulan Ramadlan seseorang telah terkondisi dengan baik. Selain berpuasa, hendaklah seseorang memperbanyak amaliah-amaliah masyru’ah yang lain seperti rajin menghadiri shalat jamaah, memperbanyak shadaqah, tadarus al-qur’an menjauhi perbuatan-perbuatan tercela atau tidak bermanfaat, dan lain-lain.

3.  Persiapan ilmiah dalam bentuk  melakukan kajian-kajian keilmuan dengan menghadiri majlis-majlis ilmu atau membaca buku-buku yang membahas tentang berbagai tema keagamaan terutama seputar Ibadah-Ibadah di Bulan Ramadlan. Dengan demikian, seseorang akan berhasil menjaga amaliahnya berdasarkan ilmu yang diketahuinya dan sesuai yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW . Sebaliknya ia akan terhindar dari sikap taqlid atau mengada-ada dalam beribadah (bid’ah).

Allah melarang seseorang melakukan sesuatu tanpa didasarkan oleh ilmu, Dia berfirman:

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al Isra’ 36)

Rasulullah SAW  di dalam sabdaNya melarang seseorang membuat-buat tatacara ibada yang tidak dituntunkan olehNya.

Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan. Karena setiap bid’ah adalah tersesat. (HR At-Thabrani)

4. Persiapan fisik,  baik yang menyangkut diri pribadi maupun sarana dan prasarana yang diperlukan. Puasa adalah ibadah fisik. Disebut demikian karena untuk dapat melaksanakan ibadah ini dibutuhkan fisik yang sehat, tidak sedang sakit juga sarana-prasarana yang memadai, seperti makanan untuk sahur dan berbuka. Lebih-lebih untuk melakukan ibadah-ibadah terkait bulan Ramadlan seperti, shalat tarwih, bersedakah, dan lain-lain.  Oleh karenanya diperlukan persiapan-persiapan diri seperti menjaga kesehatan diri dengan memperbanyak olahraga atau banyak mengkosusmsi vitamin-vitamin; menyiapan  persediaan makanan dan lain-lain. Sedangkan untuk persiapan sarana-prasarana seperti tempat-tempat ibadah, majelis-majelis ilmu   diperlukan usaha-usaha pengadaan atau pembenahan-pembenahan.

Oleh: Zaini Munir Fadloli

                    

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *