Rabu, 23 Agustus 2017

Sederhana dengan 3 Hal

 

Oleh Irvan Shaifullah

Tepat 7 Desember 1941, dalam catatan Encarta Encyclopedia, secepat  kilat Jepang menyerbu pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour. Kejadian itu menenggelamkan sedikitnya 21 kapal perang, menghancurkan 200 pesawat tempur dan menewaskan sekitar 3000 personel Angkatan Laut Amerika Serikat. Dibalik serangan Jepang itu, muncullah nama Laksanamana Isoroku Yamamoto, inisiator penyerbuan kala itu. Jika memperhatikan sejarah, rudal-rudal torpedo Jepang yang menghancuran kapal kapal amerika tersebut ternyata bisa mengambang didekat permukaan air laut setelah dijatuhkan dari pesawat tempur Jepang.

Lebih jelasnya, pesawat tempur Jepang tidak menjatuhkan rudal itu tepat diatas kapal kapal angkatan laut Amerika, tapi cukup membidiknya dari kejauhan dan menjatuhkan rudal itu kelaut. Lalu dengan secepat kilat rudal itu akan meluncur dipermukaan laut dan menghantam tepat di lambung kapal.

Lantas apa yang istimewa?

Bagaimana rudal yang semestinya tenggelam dalam air tersebut dapat timbul dan melesat? Jawabannya ada pada kayu dan bambu.  

Memilih kayu dan bambu sebagai bahan utama adalah salah satu nilai tradisi Jepang yang lestari. Komitmen Jepang dalam mewarisi nilai nilai nenek moyang patut dicontoh, walau tidak kita pungkiri bahwa Jepang harus melalui perang dunia II dengan kepahitan terlebih dahulu untuk memilih dan memilah mana nilai nilai warisan leluhur yang layak dihidupkan. Sederhana bukan?

--------

Pada awal awal diutusnya Rasul, banyak dari kalangan orang musyrik bertanya, mengapa risalah kenabian tidak diturunkan kepada dua intelektual besar, dua orang terpelajar dan dua orag cendekiawan pada zaman itu yakni Al Walid ibn Al Mughirah dari Makkah atau Mas’ud ibn Amr Ats Tsaqafi dari Thaif. Allah lantas mengabadikan pertanyaan itu dalam Al Qur’an.

“Mereka berkata,” Mengapa Al Qur’an tidak diturunkan pada seorang besar dari dua negeri (Makkah dan Thaif) ini ?” ( Az Zukhruf  31)

Lalu Allah memberikan jawaban telak pada pertanyan orang orang musyrik itu.

“ Allah lebih mengetahui dimana Dia menempatkan tugas kerasulan” (Al An’am 124)

Diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai rasul tentunya atas kehendak Allah SWT. Tapi hal itu tidak lepas dari doa Nabi Ibrahim dan Ismail setelah menyelesaikan tugas peradaban mereka, yakni menegakkan dasar dasar Baitullah. Dengan masih berpeluh keringat selepas menyelesaikan pembangunan ka’bah, di atas padang pasir yang menyengat. Doa itu, doa yang sederhana itu menjelajah melintasi ribuan tahun waktu untuk dikabulkan. Doa yang menyejarah, memohon kesinambungan peradaban untuk.  suatu ummat setelahnya. Untuk mengajarkan kitab dan hikmah untuk mentauhidkanNya

Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang akan memmbacakan kepada mereka ayat ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al Baqoroh 129)

Sederhana sekali memang. Lantas, kaum yang buta huruf itu pun diajari untuk mendengarkan ayat ayat Allah. Mensucikan diri mereka dari dosa dosa dan perilaku jahiliyah, memperlajari kitab Allah untuk menjadi kemuliaan bagi mereka. Muhammad SAW adalah jawaban bagi doa sederhana nabi Ibrahim dan Ismail.

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dinatara mereka, yang membacakan ayat ayat Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar benar dalam kesesatan yang nyata ( Al Jumu’ah 2)

Tiga kunci Rasulullah dalam merubah kaum jahiliyah ada dalam ayat tersebut. Pertama tilawah berarti membacakan ayat ayatNya. Kedua, tazkiyah artinya mensucikan dan ketiga ta’lim artinya mengajarkan.

Tilawah, berarti membaca ayat ayatNya. Komaruddin Hidayat dalam bukunya Wisdom Of Life (2014) menuliskan bahwa salah satu jalan untuk menelusuri jejak kehadiran dan karya Tuhan adalah melalui kitab suci (kitabiyah). Bagi umat islam, tentunya adalah Al Qur’an. Namun Al Qur’an menunjukkan paling tidak ada tiga macam ayat Tuhan yang mesti dibaca dan dikaji.

Pertama, ayat-ayat kauniyah berupa hamparan alam semesta ini. Keindahan dan kebesaran semesta ini tanda-tanda keindahan dan kebesaran sang penciptaNya. Kedua, Al Quran juga menyatakan, ayat Tuhan itu tertulis dalam diri manusia (nafsiyah) yang kadang disebut mikrokosmos atau jagat cilik. Keunikan yang luar biasa ada dalam diri manusia dan tidak habis digali oleh berbagai disiplin ilmu. Ketiga adalah ayat ayat kebesaran Tuhan yang telihat dalam peristiwa sejarah (tarikhiyah). Kekuasaan Allah akan terlihat dalam peristiwa peristiwa sejarah bagi mereka yang memperlajarinya dengan melibatkan mata hati (bashirah). Itulah keistimewaan Al Quran agar supaya kita tidak hanya berhenti membacanya tetapi juga berusaha untuk terus belajar dan memahami ayat ayat didalamnya.

Kedua, cara rasul untuk merubah kaumnya adalah dengan tazkiyah yang artinya mensucikan dan ta’lim yang berarti mengajarkan. Ketiga hal ini tidak bisa terpisah begitu saja, berurutan dan sudah terbukti. Tidak hanya untuk merubah masyarakat, ketiga hal ini menjadi jalan terbaik untuk merubah diri sendiri. Apalagi untuk perihal yang sifatnya melenakan, kita tidak lagi dianggap seperti anak kecil yang membangun istana pasir. Terlihat indah dan megah, tapi rapuh dan mudah roboh.  

Sebagai penutupnya, ungkapan Sayyid Qutb ini mungkin dapat menjadi pengigat kita bersama bahwa, “Semua itu mengungkapkan kebingungan mematikan, yang tiada ketenangan dan kedamaian di dalamnya. Mengungkapkan keadaan jenuh yang telah mencapai titik terendah. Dijadikan dunia ini indah bagi mereka, lalu mereka berhenti pada batasnya, terantuk, tak mampu melampauinya, tak kuasa menembusnya.”

Ingatlah selalu bahwa sesuatu yang besar selalu dimulai dengan hal hal sederhana. Kayu dan bambu, warisan sederhana nenek moyang orang Jepang menjadi senjata yang efektif untuk melancarkan target serangan rudal kepada kapal kapal perang Amerika Serikat dan mereka berhasil menenggelamkannya. Doa Nabi Ibrahim dan Ismail yang sederhana melintasi waktu dan dijawab oleh Allah dengan mengutus manusia mulia, Nabi Muhammad sebagai penyempurna akhlak manusia.

Jadilah manusia sederhana yang pandai membaca dan memaknai ayat ayatNya.Selalu berbenah dan terus mensucikan dirinya dengan mengajarkannya pada orang disekitarnya.   

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *