Minggu, 31 Mei 2020

Sajaratun Thoyyibah Muhammadiyah

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat  perumpamaan  kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”, Surah Ibrahim [14]: 24.

“Godhal gadhul”, atau serba tanggung, itulah istilah yang pernah digunakan oleh Pak AR terhadap perkembangan Muhammadiyah pada masa itu, tahun 70-an. Ibarat sado atau kereta kuda yang bingung, karena kereta atau gerobak di depan, sementara kuda yang mestinya menarik di depan, justru berada di belakang. Situasi itu masih relevan untuk diterapkan pada kondisi Muhammadiyah saat ini.

Muhammadiyah yang sejak awal telah menyatakan diri sebagai gerakan ummah, gerakan da’wah dan amar ma’ruf nahi munkar, tapi pada waktu tahun 70an itu, juga pada saat ini, sebagian besar pimpinannya telah lupa daratan dan mengalami kegatalan politik, dengan justru ramai-ramai ikut terjun bebas dalam arus politik praktis, dengan membawa serta atribut-atribut dan kemapanannnya sebagai pimpinan persyarikatan. Karena tanpa atribut dan kemapanannya di Muhammadiyah, mustahil mereka memiliki daya jual dalam persaingan dalam pasar politik praktis. Muhammadiyah memang merupakan batu pijak atau stepping stone yang siap pakai untuk membuat “terobosan” pribadi menuju karier politik.

Organisasi Muhammadiyah kini ibarat piramida terbalik, dengan permukaan melebar di atas, sementara basis menyempit, sehingga organisasi semacam ini mudah goyah dan cenderung mudah dimanfaatkan pihak lain.

Hubungan amal usaha dan baldah thoyyibah

Pertanyaan yang pernah diajukan juga kepada Pak AR oleh peneliti Jepang, Prof. Nakamura, agar Muhammadiyah bisa menunjukkan satu desa saja, yang dianggap sudah mencer-minkan desa yang dianggap ideal oleh Muhammadiyah, yakni desa yang dianggap berhasil mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”, sampai kini juga belum terjawab.

Sementara itu, kita boleh dan wajib bangga atas pujian yang diberikan oleh seorang peneliti Muhammadiyah lainnya dari Universitas Karolina Utara, Prof. James L. Peacock, bahwa “Muhammadiyah adalah organisasi kemanusiaan Islam terbesar di dunia”. Dengan sejumlah deretan amal usaha, hampir 500 RS maupun klinik besar dan kecil, 167 Perguruan Tinggi, 15 000 sekolah sejak Bustanul Atfal hingga Sekolah Menengah Umum, dan 350 Panti Asuhan, di samping puluhan ribu masjid dan jamaahnya, Muhammadiyah memang layak mendapat decakan kagum dari lembaga-lembaga kemanusiaan lain di dunia. Termasuk keikut-sertaan penulis dalam berbagai forum kemanusiaan internasional, tak akan pernah penulis alami tanpa dukungan dan dorongan atribut dan posisi kemapanan penulis sebagai salah seorang ketua PP Muham-madiyah. 

Lalu apa hubungan antara sederetan besar lembaga amal usaha kita yang membanggakan tersebut, dengan kebelum-berhasilan kita mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” tersebut?

Jawabnya adalah, bahwa wujud nyata dari “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”, juga  dengan apa yang disebut “baldah thoyibah”, keduanya merupakan entitas kehidupan masyarakat di wilayah lingkungan tempat tinggal yang berintikan keluarga-keluarga. Sementara, lembaga-lembaga amal usaha di bidang kesehatan, pendidikan, sosial dan keagamaan, adalah batu pijak, stepping stone, yang merupakan sistem pendukung bagi pewujudan baldah thoyyibah di lingkungan keluarga dan masyarakat tersebut.

Sehingga, dengan pemahaman tersebut dapat difahami, bahwa basis bagi pewujudan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” atau “baldah thoyyibah” adalah berupa sinergi dari pemberdayaan keluarga sa-kinah, qoryah thoyyibah, pemberdaya-an gerakan jamaah dan dakwah jamaah (GJGJ), yang kesemuanya bermuara pada pem-berdayaan ranting dan cabang-cabang.

Sajaratun thoyyibah

Bab II Kerangka Kebijakan Program Muhammadiyah 2005-2010 (PP Muham-madiyah 1427 H / 2006) menegas-kan, bahwa :

“Format masyarakat Islam yang sebenar-benarnya diaktualisasikan dalam gerakan yang multivariasi melalui Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah, Keluarga Sakinah, Qoryah Thoyyibah, dan secara ekslusif dalam format Islamic Civil Society (Civil Islami Muhammadiyah), di samping melalui berbagai langkah pembentuk-an jamaah-jamaah di akar rumput atau ranting”.

Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah, Keluarga Sakinah, Qoryah Thoyyibah kesemuanya adalah inti atau core program persyarikatan yang se-cara langsung dilaksanakan di komu-nitas basis, di lingkungan wilayah tempat tinggal yang berintikan keluarga-keluarga, yang dalam bahasa struktur persyarikatan, program tersebut merupakan bagian dan dilaksanakan di tingkat ranting.

Sementara lembaga-lembaga amal usaha seperti perguruan tinggi, sekolah, rumah sakit, panti asuhan se-mua-nya memiliki fungsi khusus sebagai lembaga pelayanan langsung mem-bangun sumber daya manu-sia (human capital). Semen-tara kegiatan multi-variasi di basis komunitas memiliki peran lebih strategis, yakni membangun basis modal sosial atau social capital.

Terdapat perbedaan men-dasar antarpengem-bangan modal manusia (human  capital) dengan pengembangan modal sosial (social capital). Human capital mementingkan unsur-unsur:

(i) unsur pribadi, 

(ii) kualitas pribadi, 

(iii) input ekonomi dan 

(iv) memerlukan policy respons di bidang pendidikan dan pelatihan. 

Sementara, social capital lebih mementingkan unsur-unsur: 

(i) unsur kolektif, 

(ii) peningklatan inter-relationship, 

(iii) memberikan impak keterikatan hubungan atau cohessiveness, dan 

(iv) policy response di bidang capacity building atau pengembangan kapasitas kelembagaan kelompok dan masyarakat. (John Bradock, Nick Manning and Sarah Vickers, Social Policy, p 307).

Pengembangan kapasitas kelembagaan kelompok dan masyarakat memerlukan multivariasi dari berbagai majelis dan amal usaha yang berbeda, seperti tergambar dalam ilustrasi “sajaratun thoyyibatun”. Proses dari “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya” pada saat ini (DAS SEIN) menuju “masya-rakat Islam yang sebenar-benarnya” yang lebih baik dan kita idealkan (DAS SOLLEN), memerlukan masukan multivariasi yang dikonsolidasikan dan diintegrasikan di tingkat komunitas basis atau di tingkat cabang dan ranting. 

Masing-masing perangkat persyarikatan, dari struktur pimpinan (dari Pusat sampai ke Ranting), ortom dan majelis beserta amal usaha sektoralnya, masing-masing, secara bersama-sama memberikan masukan dalam proses ber-kelanjutan, merubah dari DAS SEIN menuju ke DAS SOLLEN.  

Menjawab pertanyaan, kapan kita mencapai dan bisa mewujudkan “masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”, harus dijawab,  bahwa ini adalah continous process, proses berkelanjutan. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tak mengenal angka O (nol) sampai 100 (seratus). Yang penting proses pengembangan kapasitas atau capacity building harus terus-menerus dilaksanakan, dengan prinsip bahwa, hari ini insya Allah lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok insya Allah lebih baik dari hari ini. Insya Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *