Rabu, 05 Agustus 2020

Sabar sebagai pelonongmu (2)

 وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
 

Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya (Qs. Al-Kahfi 18: 28).

 

Sabr dalam Pengertian Umum
 

Arti bahasa: menahan diri (الحبس ) dan mencegah (الكف )

Sabr adalah menahan diri dari rasa sedih (berkeluh kesah) dan menahan lesan dari menggerutu (mengeluh) dan menahan anggota badan agar tidak menampar pipi, merobek baju, dan sebagainya.

Sabr dalam arti syariat Islam
 

Menahan diri (tekun, telaten, rajin) dalam melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh Allah atau menahan diri (bertahan) untuk tidak melakukan apa saja yang dilarang oleh Allah.

Artinya: Dia sabar melakukan apa yang diperintahkan Allah dan dia sabar  untuk bertahan tidak mau melakukan apa yang dilarang Allah. Allah menjadikan di dalam hal itu pahala yang besar bagi orang yang mengharap ridha-Nya, dan membalas mereka dengan menjadikannya sebagai penghuni surga karena mereka bersabar dalam menggapai ridha Allah.

Di dalam kata sabar ada makna pencegahan, kekuatan, dan menahan (penolakan). Tasabbara rajul artinya dia menanggung kesabaran, berjihad melawan hawa nafsunya (dirinya) dan mengarahkan nafsu dirinya kearah akhlaq yang baik. Dan sabbaraha apabila dia mengarahkan dirinya untuk bersabar yaitu tetap kokoh berlandaskan ajaran agama apabila datang dorongan nafsu syahwat menggodanya, dan dia tetap kokoh berlandaskan al-Quran dan as-Sunnah karena siapa yang berpegang teguh kepada keduanya maka dia bersabar atas musibah dan bersabar untuk tekun rajin beribadah, dan bersabar dalam menjauhi hal-hal yang diharamkan.

Macam-Macam Sabar
 

1. Sabar untuk tetap rajin, tekun dalam ketaatan kepada Allah.

2. Sabar untuk menahan diri dari berbuat durhaka kepada Allah.

3. Sabar untuk tetap tegar dalam menghadapi takdir-takdir Allah yang menyakitkan.

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ -200
 

Ali ‘Imran /3: 200.  Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. 

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ
 

Al-Ahqaaf  46: 35.  Maka Bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ -10
 

Az-Zumar  39: 10.  Hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

 

Pahala Kesabaran
 

Allah memberikan tiga anugerah kepada orang-orang yang bersabar yang tidak diberikan kepada orang lain, yaitu:

1. Doa shalawat.

2. Rahmat kasih sayang.

3. Petunjuk.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157
 

 Al-Baqarah/2: 155.  Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. 156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. 157. Mereka Itulah yang mendapat doa shalawat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka Itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Allah Swt menjadikan sabar sebagai pertolongan dan peralatan serta Dia memerintahkan untuk memohon pertolongan dengan alat sabar. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (153
 

 Al-Baqarah  2: 153.  Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.

Ada pula yang mengartikan: Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Maka siapa yang tidak memiliki kesabaran, dia tidak memiliki penolong. Allah juga mengaitkan pertolongan (kemenangan) dengan sabar dan taqwa:

 بَلَى إِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا وَيَأْتُوكُمْ مِنْ فَوْرِهِمْ هَذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ آَلَافٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُسَوِّمِينَ (125
 

Ali ‘Imran  3: 125.  Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.

Rasulullah saw bersabda:

مسند أحمد  مشكول – (ج 6 / ص 198
وَاعْلَمْ أَنَّ فِي الصَّبْرِ عَلَى مَا تَكْرَهُ خَيْرًا كَثِيرًا وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
المستدرك على الصحيحين  الحاكم – (ج 14 / ص 408
واعلم أن النصر مع الصبر ، وأن الفرج مع الكرب ، وأن مع العسر يسرا
 

Ketahuilah bahwa di dalam kesabaran atas apa yang tidak engkau sukai ada kebaikan yang banyak sekali, dan bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran, dan bahwa kebahagiaan itu bersama kesusahan dan bahwa bersama kesulitan itu ada kemudahan. HR Ahmad dan al-Hakim

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (120
 

Ali ‘Imran  3: 120.  Dan jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

 

Hukum Sabar

Sebagian sabar hukumnya wajib dan sebagian lagi sunnah (disukai).

Hukum sabar adalah wajib apabila berkaitan dengan mengerjakan kewajiban-kewajiban agama atau menjauhi hal-hal yang diharamkan agama. Sabar adalah disukai kalau menjauhi hal-hal yang makruh.

Di antara dalil yang menunjukkan bahwa sabar itu wajib adalah firman Allah:

 وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
 

Al-Kahfi 18: 28.  Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya;

Menyeru Tuhan atau beribadah shalat pada pagi dan petang itu adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan sabar, rajin dan tekun. Semua itu dikerjakan dengan mengharap ridha Allah.

Sedangkan dalil yang menunjukkan bahwa sabar itu sunnah/mustahab (disukai)  dan tidak wajib adalah:

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ (126
 

An-Nahl  16: 126.  Dan jika kamu memberikan balasan, Maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Apa hukum sabar untuk tidak membalas di sini? Engkau bisa memilih antara membalas dan tidak membalas orang yang menyiksamu. Apa hukum syar’i-nya? Engkau boleh melakukan qisas (balasan), yaitu membalas sepadan sebagaimana dia menzalimi dirimu. Apa hukum sabar dengan tidak membalasnya? Hukumnya sunnah (disukai). Kemudian, kalau engkau bertanya apa hukum sabar, tekun  dan rajin Shalat Shubuh? Hukumnya wajib. Apa hukum sabar ketika terkena musibah dengan menahan diri untuk tidak meratap? Hukumnya wajib. Apa hukum sabar untuk tidak membalas orang yang berbuat jelek kepadamu dengan semisal kejelekan yang dia lakukan? Hukumnya sunnah (disukai). Oleh karena itu, hukum sabar itu ada yang wajib dan ada yang sunnah.

حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ حَفْصَةَ بِنْتِ سِيرِينَ عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ عَلَيْنَا { أَنْ لَا يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا } وَنَهَانَا عَنْ النِّيَاحَةِ فَقَبَضَتْ امْرَأَةٌ يَدَهَا فَقَالَتْ أَسْعَدَتْنِي فُلَانَةُ أُرِيدُ أَنْ أَجْزِيَهَا فَمَا قَالَ لَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا فَانْطَلَقَتْ وَرَجَعَتْ فَبَايَعَهَا
 

Telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Telah menceritakan kepada kami Abdul Warits Telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Hafshah binti Sirin dari Ummu ‘Athiyyah radliallahu ‘anha ia berkata; Kami berbai’at kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau pun membacakan ayat kepada kami: “Dan janganlah mereka menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” Kemudian beliau juga melarang kami untuk melakukan Niyahah (meratap saat tertimpa musibah). Lalu seorang wanita menggenggam tangannya dan berkata, “Sesungguhnya si Fulanah telah membahagiakanku, dan aku ingin segera membalasnya.” Namun, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak berkata apa pun pada wanita itu. Wanita itu pergi, kemudian kembali lagi, dan beliau pun membai’atnya.HR Bukhari   4513

 

 

 

Penulis                           : Yusron Asrofir

Sumber Artikel                : http://tuntunanislam.id/

Halaman Sebelumnya    : Sabar sebagai penolongmu (1)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *