Minggu, 25 Februari 2018

Risalah dari Jantung Peradaban

Oleh : Muhammad Utama Al Faruqi (Sekretaris PCIM Arab Saudi)

Madinah. Inilah nama populer yang digunakan untuk menyebut tempat ini hari ini. Lebih lengkapnya, kita menyebutnya dengan Al Madinah Al Munawwarah. Kota yang bersinar.

Tetapi dibalik nama yang indah ini, tempat ini dahulunya bernama Yatsrib, dari fi’il (kata kerja) “ tsaruba-yatsribu” yang berarti “fasad” atau rusak.

Karena kota ini dahulu sangat terkenal dengan demam malaria yang mematikan, disamping keunggulan tempat ini sebagai penghasil kurma, sehingga menimbulkan genangan air di beberapa tempat. Demam inilah yang telah menyebabkan Abdullah, ayahanda Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam- wafat ketika mendatangi tempat ini, ketika di utus oleh ayahnya, Abdul Muthalib untuk mengambil kurma dari kerabatnya, Bani Najjar untuk dijual di Makkah.

Begitu juga, ibunda Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam-, Aminah yang meninggal sepulang dari kota ini, dan dimakamkan di sebuah daerah bernama Abha.

Selain Yatsrib, pusat perkebunan kurma di jazirah Arab pada masa itu adalah Hajar, Khaybar dan Yamamah (Riyadh).

Ketika Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam- datang bersama para sahabat Muhajirin dari Makkah, wabah mematikan ini masih ada di tempat ini, dan sahabat Abu Bakar Ash Shiddiq dan Bilal bin Rabah –radhiyallahu ‘anhuma- sempat sakit karena itu. Sampai kemudian Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- berdoa agar Allah memindahkan penyakit ini ke daerah bernama “Juhfah”

Islam datang ke tempat ini membawa cahaya baru, tanpa harus menghilangkan keunggulan tempat ini sebagai perkebunan kurma yang terkenal di jazirah Arab masa itu. Melainkan, Islam datang dengan membawa perbaikan.

Islam datang telah “menghijrahkan” tempat yang diberi nama “kerusakan” ini menjadi Thaybah bermakna “baik” seperti apa yang Rasulullah –shallallahu ‘alayhi wa sallam- berikan, dan “Madinah” seperti yang Allah firmankan. Salah satunya pada Surah Al Ahzab ayat 60:  

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar”

Bukan hanya itu saja, Islam telah datang membawa perubahan dan peradaban besar bagi ummat manusia. Yang menjadikan tempat ini menjadi pusat peradaban Islam, tempat bersumbernya risalah agung ini hingga tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Begitulah Islam, yang membawa dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Bukan hanya manusia, melainkan juga tempat beserta segenap penghuninya. Bahkan tumbuhan dan hewan di tempat ini menjadi haram untuk dipotong kecuali jika tanaman itu memang ditanam oleh pemiliknya (HR Muslim 3317) sebagai penghormatan pada kota ini.

Islamlah yang menjadikan tempat ini menjadi potret masyarakat majemuk terbaik sepanjang zaman, dimana di dalamnya hidup berdampingan kaum Arab (kaum Anshar dari suku Aus dan Khazraj serta Muhajirin dari Makkah  ) dan kaum Yahudi di bawah aturan piagam Madinah yang telah ditetapkan oleh Sang Pemimpin terbaik, Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alayhi wa sallam-, setelah sebelumnya terdapat konflik antar kedua suku Arab ; Aus dan Khazraj karena strategi pecah belah kaum Yahudi yang licik.

Islamlah yang menjadikan kota yang dahulu dikenal dengan sumber penyakit ini menjadi sumber peradaban terbaik. Yang dari tempat ini bermula tersebarnya Islam ke seluruh penjuru bumi, hingga hari ini. Dari kota “kerusakan” menjadi kota yang terang benderang, yang menerangi penjuru dunia dengan cahaya Islam yang mencerahkan.

Sumber : dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *