Kamis, 13 Agustus 2020

Refleksi Akhir Tahun (Menjadi Indonesia yang berkesadaran dan berkeadilan)

Refleksi Akhir Tahun

(Menjadi Indonesia yang berkesadaran dan berkeadilan)

Oleh : Devid

Aktivis Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Kota Surabaya

Indonesia, negara dengan keberagaman Corak budaya, adat, perbedaan agama dan kedaerahan menjadikan indonesia negara yang sering di katakan oleh sebagaian kalangan dan ahli ahli ilmu kemasyarakatan sebagai suatu entitas yang majemuk, suatu istilah yang mula mula sekali di perkenalkan oleh furnivall untuk menggambarkan masyarakat indonesia pada masa hindia belanda. Menurut furnivall, masyarakat majemuk ( plural societies ) ialah suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih element yang hidup sendiri sendiri tanpa ada pembaruan satu sama lain didalam suatu kesatuan politik1. Didalam kehidupan politik, pertanda paling jelas dari indonesia yang bersifat majemuk adalah tidak adanya kehendak bersama ( common will ). Satu contoh adanya mutipartai yang hari ini menghiasi percaturan politik dalam negri. Mereka hadir dengan visi dan misi yang berbeda beda, seolah menunjukkan keberagaman dan hidupnya demokrasi.

dahulu, para pendiri bangsa mengukuhkan indonesia sebagai proyek kebersamaan. Bung karno dengan mengutip ernest renan menegaskan syarat adanya suatu bangsa yakni perasaan senasib dalam latar sejarah yang sama dan kehendak untuk bersatu. Melalui pandangan renan itu, bung karno dan para funding father menekankan dimensi “ rohani “ dalam pembentukan bangsa. Dalam gejolak dan semangat zaman masa itu, dimensi rohani ini memuncak secara spektakuler membimbing dan meggerakkan masyarakat dan segenap element bangsa yang terjajah untuk mencapai kemerdekaannya.

Pertanyaan yang kemudian muncul : di tengah globalisasi kontemporer tempat kita sekarang, masihkah perasaan senasib dan kehendak untuk bersatu menjamin eksistensi indonesia ? dalam arti lain, masihkah ketimpangan status sosial menjadi problem utama peroboh nilai kebhinekaan?

Saya fikir, konpleksitas permasalahan negara berkembang seperti indonesia sekarang ditambah banyaknya etnis dan identitas masyarakat  mendorong kita bersama untuk memikirkan suata cara yang “ klik “ dengan konteks kekinian, yakni pemenuhan keadilan dan kemakmuran.

1J.S. Furnivall, Netherlands India: A Study of Plural Economy, cambridge at The University Press, reprinted 1967: hlm. 446-469.

Seperti apa yang pernah di sampaikan bung hatta lima tahun setelah kemerdekaan, tahun 1950 : “masa perjuangan kita sekarang ini boleh dikatakan sudah habis romantiknya, tinggal prosanya saja lagi. Dalam perjuangan pada masa lampau kita bisa digembirakan dengan cita cita yang gemilang, sebagai keperwiraan dan kepahlawanan untuk mencapai cita cita bangsa. Masa yang seperti iu sudah lewat. Mulai dari sekarang kita harus meninjau apa tujuan kita. Tujuan kita ialah satu indonesia yang “ merdeka “, berdaulat, adil dan makmur.. “2

Pandangan bung hatta yang lugas itu sungguh sangat berarti untuk bangsa indonesia sekarang. Didalam demokrasi ini, memang negara dan kekuasaan sudah bukan sentral lagi sehingga dengan itu persatuan yang terpusat dan kaku sudah dianggap bukan zamannya lagi. Dari bung hatta pula kita jadi tahu bahwa pertanyaan apakah ketimpangan sosial menjadi problem utama peroboh kebhinekaan tidak dapat dijawab melalui totalisasi dan paksaan melainkan oleh rasionalitas dan komitmen bersama akan keadilan.

Berbagai aksi teror, perselisihan  antar suku, Aksi damai 212 dan 412 dan masih banyak lagi tragedi yang terjadi ditahun 2016 harapannya menjadi evaluasi dan aksi nyata pemerintah kedepan. beberapa kejadian yg mengindikasikan Adanya ketidakstabilan politik di istana,- seperti pasang - copot - pasang mentri seharusnya menjadi cerminan paling dekat dalam melihat betapa heterogennya identitas dan kehendak masyarakat indonesia.

Saya kira masyarakat kita sekarang telah bertansformasi menjadi salah satu indikator penting kemajuan bangsa. aktifnya kritikan terhadap kebijakan kebijakan pemerintah menunjukkan bahwa masyarakat tidak tuna pengetahuan, tidak buta informasi, tidak taqlid dan tidak majemuk. pelayanan publik yang baik dan tidak menipu merupakan wajah negara demokratis yang barangkali bisa diusahakan pemerintah. Perlu adanya komunikasi efektif dan intensif dari pemerintah untuk memberikan penyuluhanpun bisa menjadi alternatif. Disisi lain, masyarakat pun sudah harus bisa mengedepankan rasionalitas dan komitmen bersama akan keadilan.

Meskipun hari ini keadaan masyarakat indonesia sudah jauh berbeda, apa yang furnivall gambarkan tentang konsep masyarakat majemuk tetap dapat kita pergunakan untuk melihat dan menyesuaikannya pada kondisi masyarakat masa kini. Dan bertepatan dengan berpindahnya kalender masehi dari tahun 2016 ke 2017, harapannya berpindah pula semangat – semangat mengkerdilkan antar sesama. Kembalilah kepada cita – cita besar bangsa indonesia. Cita cita menciptakan bal datun  thoyyibatun warabbun ghofuur. Cita cita yang sampai saat ini belum bisa dirasakan masyarakat pelosok. Semoga dan semoga

 
   

2Suyanto, Djoko, Demokrasi Kita: 8 Pemikiran Politik, PT Gramedia, Jakarta, Mei 2014; hlm. 95 - 108

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *