Jum'at, 24 Januari 2020

Refleksi 104 Tahun Muhammadiyah (Eksistensi yang Melupakan Esensi)

 

Oleh Baharuddin Rohim

Alumni Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta

Pengasuh Panti Asuhan Ashabul Kahfi Muhammadiyah Moyudan Sleman DIY

Kader PW IPM Jatim

 

Pahit getir perjuangan telah banyak Muhammadiyah rasakan, namun Muhammadiyah tetap berdiri tegak dan kokoh sejak 1912-2016. Muhammadiyah selalu berada dalam garda terdepan guna visi besar mewujudkan masyarkat Islam yang sebenar-benarnya. Berangkat dari hal ini Muhammadiyah mengembangkan sayap guna tecapainy visi mulai dengan gerakan teguh dalam prinsip luwes dalam taktis atau yang sering disebut gerakan dakwah kultural.

Berkembangnya zaman Muhammdiyah mampu mewarnai dalam berbagai golongan, dengan kombinasi warna yang ia sodorkan Muhammadiyah menjadi sanggup menjawab tantangan zaman, antara lain kombinasi warna yang ditawarkan ialah kombinasi tarjih, tajdid, tabligh, hingga sampai pada tataran pemberdayaan dan sosial kemasyarakatan. Dari upaya kombinasi melalui majelis majelis Muhammadiyah selalu eksis dalam gerakannya, hal ini dilakukan guna terwujudnya gerakan dakwah kultural di berbagai lapisan dengan pola yang berbeda dan terstruktur sehingga gerakan akan menjadi massif dan efektif.

Muhammadiyah di usianya yg ke 104 tahun nampaknya kurang fokus untuk menciptakan generasi qurani, hal ini terbukti dengan banyaknya kader Muhammdiyah yang kurang fasih dalam bacaan Al-quran bahkan dalam tataran kepengurusan bisa jadi ada pengurus yang belum fasih dalam baca Al-quran, namun keahlian dalam bidang lain sehingga ia dibutuhkan untuk masuk di jajaran kepengurusan di Muhammadiyah.

Belum lagi kader-kader Muhammadiyah yang tidak nampak dalam Musabaqah Tilawatil Qur'an tingkat Nasional, yang mana hal ini bisa menjadi barometer massif tidaknya gerkan cinta alqur'an, mengingat gerakan ini merupakan esensi dari gerkan dakwah amar ma'ruf nahi munkar sehingga sudah sepatutnya Muhammadiyah berkemajuan menyiapkan kader handal dalam tataran gerakan cinta alquran ini.

Terlebih akhir-akhir ini Al-quran menjadi sorotan publik ketika beberapa ayat diculik untuk beberapa kepentingan, hal ini sudah selayaknya Muhammadiyah menyiapkan kader yang militan dalam tataran Al-qur'an dan menjadi bagian yang tak terpisahkan ketika Muhammadiyah melakukan eksistensi gerakan-gerakan yang didasari dari ghiroh, semangat, dan esensi dari gerkan amar ma'ruf nahi munkar.

Muhammdiyah telah membuktikan akan kebermajuan gerakan dakwah kultural yang semakin mengakar, terbukti telah ada pondok pesantren sains (Sragen) yang mana ia terfokus pada ilmu sains yang langsung dihadapkan dengan dalil-dalil Al-quran dan Assunah. Hal ini menjadi penting karena Muhammadiyah serius dan fokus dalam melihat fenomena yang ada dalam bidang sains yang akhirnya memutuskan untuk mempunyai garapan fokus melalui pesantren sains guna mewujudkan kader Muhammadiyah yang mumpuni dan siap menjawab tantangan zaman sesuai dengan dasar-dasar yang ada di dalam agama islam. Hal ini nampaknya harus menjadi salah satu dasar bahwa pentingnya Muhammadiyah menciptakan genarsi generasi yang fokus pada masalah-masalah kekinian baik umat maupun bangsa.

Perlu Muhammadiyah merefleksikan gerakannya selama 104 tahun ini, nampaknya Muhammadiyah harus mengambil peran dalam pembentukan kader qur'ani yang mempunyai esensi pembangkitan jiwa-jiwa qurani bagi kader Muhammadiyah, semisal dengan membuat pondok pesantren yang fokus pada satu muatan tilawatil qur'an yang mana akan menjadi titik fokus Muhammadiyah dalam menciptakan kader-kader qur'ani yang bisa dipertanggung jawabkan, terlebih di semua lapisan organisasi otonom Muhammadiyah semua memiliki bidang dakwah islam yang lahan garapnya selama ini di rasa kurang massif dan efektif karena kegiatan hanya seputar kajian, namun upaya fokus terhadap pembenahan bacaan Al-quran ataupun kemampuan seni Al-quran sangat minim, hal ini bisa menjadi refleksi bersama mulai dari majelis tabligh sampai pada bidang-bidang dakwah islam yang ada pada ortom Muhammadiyah untuk membuat langkah yang taktis dan strategis guna mewujudkan kader Muhammadiyah yang handal dalam seni baca Al-quran.

Hal ini bisa menjadi tawaran solusi ketika Muhammadiyah mempunyai agenda nasional (pusat) sampai regional (ranting) yakni membuat sebuah event yang berkelanjutan di bidang qur'ani. Akhirnya jangan sampai Muhammadiyah kecolongan terhadap kader-kader yang mulai jauh dari nilai qur'ani karena mereka belum di kenalkan Al-qur'an secara majemuk dan massif, hal ini menjadi refleksi bersama kader Muhammadiyah di umur yang ke 104 tahun dengan semangat eksistensi tidak melupakan esensi, bukan eksistensi yang melupakan esensi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *