Kamis, 20 September 2018

Pola Anak Muda Islam dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0

 

Oleh : Irvan Shaifullah

Anak muda adalah tulang punggung masa depan sebuah bangsa.  Untuk menjadi tulang punggung,  anak muda harus terus menerus terasah dalam berbagai hal.  Bahkan untuk perihal yang tak pernah ia kerjakan sekalipun,  ia harus tetap mencoba.  Karena kesempatan masa muda adalah kesempatan yang tak pernah tergantikan.  Kesempatan yang dipertanyakan Allah untuk diminta pertanggungjawaban nya kelak di hari akhir. 

Revolusi industri 4.0, dilansir di situs Wikipedia adalah  nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup sistem siber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, dan komputasi kognitif.

Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Di dalam pabrik cerdas berstruktur moduler, sistem siber-fisik mengawasi proses fisik, menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, dan membuat keputusan yang tidak terpusat. Lewat Internet untuk segala (IoT), sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama dengan satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Lewat komputasi awan, layanan internal dan lintas organisasi disediakan dan dimanfaatkan oleh berbagai pihak di dalam rantai nilai.

Istilah "Industrie 4.0" berasal dari sebuah proyek dalam strategi teknologi canggih pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.[5]

Istilah "Industrie 4.0" diangkat kembali di Hannover Fair tahun 2011. Pada Oktober 2012, Working Group on Industry 4.0 memaparkan rekomendasi pelaksanaan Industri 4.0 kepada pemerintah federal Jerman. Anggota kelompok kerja Industri 4.0 diakui sebagai bapak pendiri dan perintis Industri 4.0.

Laporan akhir Working Group Industry 4.0 dipaparkan di Hannover Fair tanggal 8 April 2013.

Ada empat prinsip rancangan dalam Industri 4.0. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario Industri 4.0.

1. Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet untuk segala (IoT) atau Internet untuk khalayak (IoP).

IoT akan mengotomatisasikan proses ini secara besar-besaran.

2. Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor. Prinsip ini membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.

3. Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.

4. Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Lantas pertanyaan dimana dan bagaimana anak muda islam berperan dalan menghadapi revolusi industri tersebut?

Sebetulnya, dengan sering mendapatkan kesempatan untuk mengimplemetasikan kekuatan dan potensinya dalam memecahkan persoalan.  Maka kepercayaan diri anak muda akan terbentuk seketika.  Keberanian dalam memutuskan sesuatu menjadi tajam.  Kelihaian nya menjadi terasah dalam menjalankan amanah.  Integritas dan kejujuran akan mengiringinya, sebab teladannya adalah manusia terbaik, Rasulullah.  Yang terakhir yakin atas keputusan dan kehendak apapun, hasbunallah wa nikmal wakil nikmal maula wa nikman nashir. 

Kepercayaan diri anak muda dalam menghadapi berbagai tantangan di zamannya adalah kunci kesuksesan.  Kepercayaan diri adalah pola pikir pertama untuk membentuk pola pola keberhasilan yang lain. Orang harus sadar dengan apa yang saat ini dimiliknya, baik kekurangan maupun kelebihan nya.  Tapi itu belum cukup. 

Ada pola kedua yaitu keberanian.  Keberanian akan mengantarkan seseorang lebih jauh dari yang pernah ia kira.  Misalnya, seseorang harus melawan ular berbisa di ruangan yang sempit.  Pilihannya adalah ia melawan untuk mengusir atau bahkan membunuh ular tersebut atau menyerah dan tak melakukan apa apa dan meninggal dunia. 

Maka pola ketiga untuk menyusun kesuksesan adalah lihai.  Orang harus pandai menyusun rencana, menciptakan kemungkinan kemungkinan.  Merencanakan plan A, B,  C sampai Z.  Untuk menghadapi sesuatu, harus pandai mengatur strategi.  Atlet Asian Games yang meraih medali emas,  juga sama menggunakan strategi untuk menggapai kesuksesan nya.  Lihai berarti menyusun rencana rencana strategis, efektif, dan efisien untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. 

Pola selanjutnya adalah Integritas dan kejujuran.  Pola inilah yang membedakan siapa yang berperangai baik dan siapa yang berperangai buruk.  Orang bisa menyusun strategi dan rencana apapun, beraninya bukan main,  kepercayaan dirinya penuh.  Tapi kalau ia tak punya integritas dan kejujuran maka ia sama saja dengan nasi bungkus yang tak dimakan selama 1 tahun.  Basi. 

Dan pola terakhir adalah yakin kepada Allah.  Pasrah atas segala kehendak.  Ikhtiar dan apapun itu namanya adalah usaha manusia untuk tetap menjadi manusia.  Tapi untuk urusan Takdir,  sepenuhnya milik Allah.  Jika Allah berkehendak atas segala sesuatu,  maka tidak ada yang bisa menghalangi Nya.  Jika Allah tidak berkehendak,  maka tak ada yang bisa mengalahkan Nya. Dekati Allah dengan terus berdoa dan berdoa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *